Perhatian! Berita ini memuat konten dewasa.
Apakah anda sudah berusia 17 tahun atau lebih?

908 Warga Bandung Barat Alami Gangguan Kejiwaan Selama Pandemi COVID-19

loading...
908 Warga Bandung Barat Alami Gangguan Kejiwaan Selama Pandemi COVID-19
Selama pandemi COVID-19, sebanyak 908 warga Bandung Barat terjangkit gangguan kejiwaan.Foto/ilustrasi
BANDUNG BARAT - Pandemi COVID-19 bukan hanya memberikan dampak secara fisik namun juga berpengaruh kepada psikis seseorang. Akibatnya tidak sedikit warga yang mengalami gangguan kejiwaan akibat depresi dan stres karena tekanan kehidupan.

Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Barat (KBB) mencatat hingga saat ini ada sebanyak 908 orang di KBB yang terindikasi mengalami gangguan kejiwaan. Sebagian besar dari mereka sedang mendapat perawatan untuk pemulihan di fasilitas pelayanan kesehatan yang disiapkan.

Baca juga: MNC Peduli Kembali Gelar Vaksinasi di Cianjur, Antusiasme Warga Luar Biasa

"Selama pandemi COVID-19 ada 908 warga yang mengalami gangguan kejiwaan. Mereka sudah mendapatkan perawatan sesuai dengan hasil diagnosanya masing-masing pasien," kata Petugas Pengelola Kesehatan Jiwa dan Penyakit Tidak Menular Dinkes, KBB, Dewi Setiawati, Rabu (13/10/2021).



Menurutnya, ratusan orang yang mengalami gangguan kejiwaan itu penyebabnya berbeda-beda. Seperti karena faktor biologis, psikologis, ekonomi, hingga faktor lingkungan. Oleh karenanya perawatan yang diberikan pun berbeda-beda sesuai dengan tingkatan penyakitnya.

"Perawatannya ada yang di puskesmas dan rumah sakit. Namun untuk yang gangguan kejiwaannya masih level rendah kadang dirawat di rumah dan petugas yang datang monitoring secara berkala," katanya.

Lebih lanjut dikatakannya, orang dengan gangguan kejiwaan itu harus diketahui juga latar belakangnya. Seperti ada atau tidaknya keluarga yang gangguan jiwa, karena penyakit ini merupakan penyakit yang bisa ditularkan. Sehingga penyebabnya bisa saja karena faktor genetika dari keluarganya.

Disinggung soal seorang warga di Kampung Ciwaruga, Parongpong, yang mengamuk hingga menusuk tiga warga, Dewi menyebutkan, bisa saja karena tidak mendapat perawatan hingga menyebabkan emosinya labil. Semestinya, pihak keluarga sudah bisa mendeteksi gejala gangguan jiwa tersebut sejak awal dan melihat perilaku kesehariannya.

"Kalau mendapat perawatan sejak jauh-jauh hari bisa diminimalisir, karena pasti akan dipantau oleh dokter. Ini kan karena memang tidak terpantau dan tidak dalam pengobatan, jadi sewaktu-waktu sifat agresifnya bisa muncul," pungkasnya.
(msd)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top