Penyebaran Covid-19 Masih Tinggi, Efektifkah Penerapan PSBB?
Selasa, 26 Mei 2020 - 15:40 WIB
loading...
A
A
A
(Baca juga: Menolak Dipulangkan, TKA China Depresi di Bandara Banyuwangi )
Ada tiga hal yang perlu diperhatikan masyarakat yaitu secara personal dengan terus melakukan tindakan preventif dalam menjaga kebersihan dan keamanan, melalui komunitas dengan menerapkan social distancing, dan lingkungan dengan membersihkan permukaan benda-benda yang berpotensi menjadi tempat menempelnya virus.
"PSBB sudah diterapkan namun angka kurva tetap meningkat dan tinggi. Apakah efektif, jika tidak, mengapa bisa begitu? Ini harus kita evaluasi meskipun ada yang mengatakan akibat dilakukan rapid test. Namun, kita bisa mencontoh dan melihat kondisi negara-negara lain yang dapat melandaikan kurva seperti Jepang, Korea Selatan, dan Singapura yang disiplin menerapkan social distancing diikuti penggunaan masker diluar rumah. Jika penerapan ini sungguh ditaati bersama-sama maka seharusnya dapat menurunkan kurva hingga 50 persen," kata Risma Ikawaty.
Sedangkan terkait aspek internasional dari penyebaran COVID-19, Dosen sekaligus Wakil Dekan I Fakultas Hukum Ubaya, Wisnu Aryo Dewanto menyampaikan, jika permasalahan COVID-19 merupakan masalah bersama. Pemerintah maupun masyarakat perlu kerjasama yang baik dalam menekan dan mengurangi angka penderita sekaligus menyelamatkan perekonomian Indonesia.
Merebaknya wabah COVID-19 juga dirasakan oleh hampir seluruh warga di dunia. Kebijakan PSBB yang ditetapkan di Indonesia seringkali dianggap sebagai kepentingan politik dan pencitraan oleh warga.
Faktanya, ini adalah aturan pemerintah yang dikeluarkan berdasarkan standar internasional yang telah dilakukan dan dianjurkan oleh WHO (World Health Organization). Jika kesehatan tidak dipatuhi maka jumlah penderita akan semakin banyak sehingga PSBB berlaku lebih lama dan dapat berimbas pada melemahnya sektor ekonomi.
"Partisipasi dan kesadaran masyarakat sangat dibutuhkan agar perjuangan COVID-19 tidak sia-sia. Kita harus mengikuti standar Internasional agar Indonesia juga bisa diterima oleh negara lain. Sebetulnya Indonesia bisa mengambil contoh negara lain yang dapat menekan angka penderita tanpa menghancurkan perekonomian seperti Vietnam," sambungnya.
Ada tiga hal yang perlu diperhatikan masyarakat yaitu secara personal dengan terus melakukan tindakan preventif dalam menjaga kebersihan dan keamanan, melalui komunitas dengan menerapkan social distancing, dan lingkungan dengan membersihkan permukaan benda-benda yang berpotensi menjadi tempat menempelnya virus.
"PSBB sudah diterapkan namun angka kurva tetap meningkat dan tinggi. Apakah efektif, jika tidak, mengapa bisa begitu? Ini harus kita evaluasi meskipun ada yang mengatakan akibat dilakukan rapid test. Namun, kita bisa mencontoh dan melihat kondisi negara-negara lain yang dapat melandaikan kurva seperti Jepang, Korea Selatan, dan Singapura yang disiplin menerapkan social distancing diikuti penggunaan masker diluar rumah. Jika penerapan ini sungguh ditaati bersama-sama maka seharusnya dapat menurunkan kurva hingga 50 persen," kata Risma Ikawaty.
Sedangkan terkait aspek internasional dari penyebaran COVID-19, Dosen sekaligus Wakil Dekan I Fakultas Hukum Ubaya, Wisnu Aryo Dewanto menyampaikan, jika permasalahan COVID-19 merupakan masalah bersama. Pemerintah maupun masyarakat perlu kerjasama yang baik dalam menekan dan mengurangi angka penderita sekaligus menyelamatkan perekonomian Indonesia.
Merebaknya wabah COVID-19 juga dirasakan oleh hampir seluruh warga di dunia. Kebijakan PSBB yang ditetapkan di Indonesia seringkali dianggap sebagai kepentingan politik dan pencitraan oleh warga.
Faktanya, ini adalah aturan pemerintah yang dikeluarkan berdasarkan standar internasional yang telah dilakukan dan dianjurkan oleh WHO (World Health Organization). Jika kesehatan tidak dipatuhi maka jumlah penderita akan semakin banyak sehingga PSBB berlaku lebih lama dan dapat berimbas pada melemahnya sektor ekonomi.
"Partisipasi dan kesadaran masyarakat sangat dibutuhkan agar perjuangan COVID-19 tidak sia-sia. Kita harus mengikuti standar Internasional agar Indonesia juga bisa diterima oleh negara lain. Sebetulnya Indonesia bisa mengambil contoh negara lain yang dapat menekan angka penderita tanpa menghancurkan perekonomian seperti Vietnam," sambungnya.
Lihat Juga :