Perhatian! Berita ini memuat konten dewasa.
Apakah anda sudah berusia 17 tahun atau lebih?

Kebutuhan Tinggi, Alumni Teknik Kimia Dorong Indonesia Gunakan Bahan Baku Lokal

loading...
Kebutuhan Tinggi, Alumni Teknik Kimia Dorong Indonesia Gunakan Bahan Baku Lokal
Alumni pendidikan tehnik kimia mendorong Indonesia menggunakan bahan baku lokal.Foto/ilustrasi
BANDUNG - Indonesia didorong memiliki industri pengolahan bahan baku kimia seperti soda ash untuk menyuplai tingginya kebutuhan di dalam negeri. Saat ini, Indonesia masih mengandalkan impor bahan baku kimia untuk membuat berbagai produk turunan.

Presiden Direktur PT Kaltim Parna Industri Hari Supriyadi mendorong kebutuhan bahan kimia yang cukup tinggi adalah soda ash, yang merupakan bahan baku produk-produk yang dibutuhkan masyarakat. Seperti deterjen, kaca beserta produk turunannya seperti gelas, cermin, dan lain-lain; serta pasta gigi.

Baca juga: Akibat Pasien Melonjak, 212 SDM Kesehatan di RSHS Ikut Terpapar COVID-19

Selain itu, produk-produk yang saat ini banyak digunakan, adalah kendaraan listrik yang disebut-sebut merupakan transportasi masa depan pun membutuhkan soda ash untuk pembuatan baterainya.

"Untuk baterai mobil listrik juga menggunakan soda ash. Jadi sangat banyak turunan dari soda ash. Tapi kenapa Indonesia masih impor," katanya saat konferensi pers virtual terkait lomba esai nasional yang diselenggarakan dalam rangka memperingati 80 tahun Pendidikan Tinggi Teknik Kimia di Indonesia.

Dia menyebut, dalam setahun Indonesia membutuhkan sekitar 1,2 juta ton soda ash. Dari jumlah itu, 90% dipenuhi dari hasil impor. Semenatara kebutuhan di ASEAN 2,9 juta ton. Menurut dia, kebutuhan ini akan terus meningkat terutama jika penggunaan kendaraan listrik sudah semakin banyak.



Baca juga: Tragis! Luput Pengawasan Orang Tua, Bocah di Makassar Tewas Ditabrak Mobil

Sebagai contoh, menurutnya kebutuhan soda ash di Tiongkok terus meningkat hingga 2 juta ton per tahun. Oleh karena itu, dia berharap Indonesia mampu memenuhi kebutuhan soda ash sendiri sehingga tidak perlu impor lagi.

"Kita rindu memiliki industri kimia soda ash," katanya. Dia menilai, untuk mewujudkan hal itu sangat memungkinkan terutama mengingat Indonesia memiliki bahan baku dan sumber daya manusia yang kompeten.
halaman ke-1
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top