Datangi RSUD Srengat untuk Sidak Mesin PCR, Ini Temuan Anggota DPRD Blitar

Jum'at, 04 Juni 2021 - 01:05 WIB
loading...
Datangi RSUD Srengat...
DPRD Kabupaten Blitar, melakukan sidak di RSUD Srengat, terkait pengadaan mesin PCR yang disoal Menteri Kesehatan. Foto/SINDOnews/Solichan Arif
A A A
BLITAR - Usai ramai teguran Menteri Kesehatan (Menkes) kepada Wakil Bupati Blitar, terkait pembelian mesin PCR untuk RSUD Srengat. Anggota DPRD Kabupaten Blitar, langsung mendatangi rumah sakit pemerintah itu untuk mengecek kondisi mesin PCR tersebut.

Baca juga: Menkes Tegur Keras Soal Mesin PCR Rp2,7 M, DPRD Blitar Desak Inspektorat Lakukan Audit

"Hari ini kita sidak ke RSUD Srengat sebelum membawa persoalan ke dalam rapat dengar pendapat pada Senin (7/6/2021) mendatang," ujar Sekertaris Komisi IV DPRD Kabupaten Blitar, Medi Wibawa.



RSUD Srengat merupakan rumah sakit tipe C yang baru beroperasi Oktober 2020. Dengan konstruksi bangunan yang terdiri atas empat lantai, RSUD Srengat menjadi rumah sakit terbesar di wilayah barat Kabupaten Blitar.

Baca juga: Banyumas Gempar, Pemuda Tewas Berkeping-keping Usai Dihantam KA Serayu

Sidak Medi Wibawa bersama anggota Komisi III DPRD Kabupaten Blitar, M. Andika, mengejutkan. Kepanikan sejumlah pegawai rumah sakit tidak bisa disembunyikan. Oleh Direktur RSUD Srengat, Pantjarara Budiresmi, semua langsung dikumpulkan.

Di lantai dasar tempat mesin PCR ditempatkan, Medi meminta dilakukan pengecekan langsung. Ia juga meminta data jumlah swab test di RSUD Srengat. Sejak dioperasikan Oktober 2020, mesin PCR sudah melayani 4.000-an sampel swab test. "Sidak bertujuan mengetahui kondisi riil yang ada," kata Medi menjelaskan.

Mesin PCR yang disoal Menkes bermerek Roche. Informasinya buatan Jerman. Medi yang diharuskan memakai baju hazmat, mengecek bagian mesin satu-persatu. Di ruangan bertekanan negatif yang semuanya menggunakan sensor, Medi mengecek secara detail.

Baca juga: Tabrak Truk Boks di Tol Trans Sumatera, Wakapolres Lampung Utara Luka Berat

Mulai unit mesin yang memiliki fungsi preparasi, ekstraksi dan PCR sendiri, ia periksa satu-persatu. Dua gen mesin diketahui mampu untuk melayani 84 sampel swab test. Untuk mengetahui hasil, proses yang berlangsung butuh waktu maksimal empat jam. "Iya tadi hasilnya mesin bekerja dengan baik," paparnya.

Namun Medi mempertanyakan kenapa RSUD Srengat , membeli mesin dengan harga yang lebih mahal. Dari pagu yang dialokasikan Rp2,7 miliar, harga mesin Roche Rp2,3 miliar. Bandrol pengadaan tersebut yang disoal Menkes.

Baca juga: Tangis Pecah di Baubau, Ibu Cantik Karyawan Bank BUMN Meninggal Usai Suntik Vaksin COVID-19

Menkes Budi Gunadi Sadikin menegur Wakil Bupati Blitar, Rachmat Santoso saat Rachmat datang ke kantor Kemenkes untuk meminta bantuan vaksin. Selain mahal, Menkes juga mengatakan mesin tersebut tidak diremondasikan pemerintah. Sebab tidak suport dengan reagen yang berasal dari bantuan pemerintah. "Karena saat itu kondisi keuangan kita lagi memprihatinkan disebabkan awal pandemi. Kenapa membeli mesin PCR dengan harga lebih mahal?," tanya Medi.

Direktur RSUD Srengat, Pantjarara Budiresmi membantah mesin PCR yang dibeli tidak direkomendasikan pemerintah. Pembelian mesin, kata Pantjarara mendapat rekomendasi Tim Supervisi Dinkes Pemprov Jatim.

Baca juga: Wanita Cantik Ini Ajak Suaminya Bunuh Selingkuhannya, Mayatnya Dibuang di Pinggir Jalan

Selain Blitar, Pantjarara mengatakan, rumah sakit di Kabupaten Kediri, Kabupaten Nganjuk, Madiun, dan Sidoarjo, menggunakan mesin PCR yang sama. "Kalau tidak direkomendasi kita tidak berani," kata Pantjarara.

Harga mesin PCR RSUD Srengat diakui Pantjarara lebih mahal. Setidaknya dibanding mesin PCR di RSUD Ngudi Waluyo Wlingi. Namun mesin yang ia beli memiliki banyak kelebihan. Secara kapasitas lebih besar. Kemudian bisa juga untuk menguji swab test untuk penyakit HIV/AIDS. "Karena memang memiliki banyak kelebihan," pungkas Pantjarara.
(eyt)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Jalankan Fungsi Pengawasan,...
Jalankan Fungsi Pengawasan, DPRD Pastikan Pemerintahan Kota Bogor Berjalan
Ramai Sidak Dedi Mulyadi,...
Ramai Sidak Dedi Mulyadi, Ketua DPD RI Minta Pejabat Lebih Bijak
Sidak 3 Lapas di Tangerang,...
Sidak 3 Lapas di Tangerang, Dirjenpas Pastikan Kualitas Layanan dan Hunian
Lonjakan Covid-19 di...
Lonjakan Covid-19 di Jakarta sejak Awal 2025 Tembus 38 Kasus
Bantu Warga yang Ijazahnya...
Bantu Warga yang Ijazahnya Ditahan, Wakil Wali Kota Surabaya Cak Ji Malah Dilaporkan ke Polisi
Korupsi APD Covid-19,...
Korupsi APD Covid-19, Kejaksaan Tahan Sekretaris Dinas Kesehatan Sumut
Zat Kimia Persisten...
Zat Kimia Persisten Ditemukan dalam 98,8% Darah Warga AS
Kepala WHO Peringatkan...
Kepala WHO Peringatkan Lebih Banyak Kasus Hantavirus akan Muncul
WHO: Wabah Hantavirus...
WHO: Wabah Hantavirus Bukan Awal Pandemi Covid-19 Berikutnya
Rekomendasi
Spanyol vs Cape Verde:...
Spanyol vs Cape Verde: La Roja di Ambang Pesta Gol
BGN Evaluasi Insentif...
BGN Evaluasi Insentif SPPG Rp6 Juta per Hari
Piala Dunia 2026, Spanyol...
Piala Dunia 2026, Spanyol Ditahan Imbang Tim Gurem Cape Verde di Babak Pertama
Berita Terkini
Nabung Emas di BRImo...
Nabung Emas di BRImo Kini Otomatis Lewat Fitur Toggle, Modal Mulai Rp10 Ribu!
Sempat Memanas, Mahasiswa...
Sempat Memanas, Mahasiswa yang Demo di Jalan Jenderal Sudirman Akhirnya Membubarkan Diri
Mahasiswa BEM SI Kerakyatan...
Mahasiswa BEM SI Kerakyatan Bubarkan Diri, Polisi Bersihkan Sampah di Depan Gedung DPR
15 Mahasiswa Diterima...
15 Mahasiswa Diterima di Istana Wapres Gibran usai Demo di Jalan Medan Merdeka
Sahroni Apresiasi Polisi...
Sahroni Apresiasi Polisi Ringkus Pelaku Penculikan Lansia di PIK: Tangkap Apa Pun Motifnya!
Demo Mahasiswa Belum...
Demo Mahasiswa Belum Kelar, Arus Lalu Lintas di Jalan Jenderal Sudirman Tersendat
Infografis
IRGC Siapkan Jebakan...
IRGC Siapkan Jebakan Maut untuk Armada Amerika Serikat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved