Kisah Sawito, Lelaki Blitar yang Ditangkap Kaki Tangan Soeharto Atas Tuduhan Makar
Minggu, 30 Mei 2021 - 05:00 WIB
loading...
A
A
A
SK Trimurti menyebut tabiat Sawito ujas-ujus atau kaduk wani kurang deduga (Hanya asal berani kurang mengingat kesopanan). Rahayu Yusuf, rekan kerja Sawito di Balai Penyelidikan Karet Rakyat Bogor yang mengenal Sawito sejak 1957, mengatakan rekannya tidak punya perasaan rendah diri .
Baca juga: Kisah Empu Sidi Mantra, Naga Besukih dan Selat Bali
Sikap Sawito selalu ramah dan bersahabat dengan siapa saja. Suaranya keras dan lantang. "Walaupun baru kenal beberapa hari sudah merasa seolah-olah kenal bertahun-tahun". Terbitnya dokumen pernyataan bersama atau petisi yang menyeretnya pada tuduhan subversif dan makar, juga tidak lepas dari keberanian Sawito.
Sebelum diadili, pada 14 September 1976 Sawito lebih dulu ditahan. Mensesneg Sudharmono yang kelak menjadi Wakil Presiden mendampingi Presiden Soeharto menyatakan: pemerintah berkesimpulan sudah terang ada usaha gelap ingin menggulingkan Presiden Soeharto dengan cara inkonstitusional.
Jaksa Agung Ali Said menambahkan, telah diambil langkah pengamanan dengan mengadakan penangkapan . Karena dianggap terlibat "Gerakan Sawito", tiga orang lain, yakni Drs Singgih, Mr Sudjono dan Karna Radjasa ikut dibui. Penangkapan Sawito berlangsung di rumahnya, Jalan Tampomas No. 8, Bogor, Jawa Barat.
Baca juga: Misteri Macan Putih di Candi Mleri dan Silangsengkarut Anak Turunan Ken Arok
Saat digerebek , pengajar Orhiba (Olah Raga Hidup Baru), yakni kegiatan yang melanda kehidupan masyarakat saat itu, sedang tidur. Orhiba sejenis senam sehat macam taichi. Anggotanya ada sejumlah bekas pejabat. Termasuk Kapolri pertama Indonesia Soekanto Tjokrodiatmodjo, dan Mr Sudjono bekas diplomat Indonesia era Soekarno.
Sebelum mengeksekusi petugas memperlihatkan selembar surat penangkapan . Namun Sawito seolah masih tidak percaya. "Lho kok saya ditangkap to mas?," tanya Sawito seperti tertulis dalam buku "Sawito, ratu adil, guruji, tertuduh".
Sejak tahun 1967 Sawito dinonaktifkan dari Departemen Pertanian. Sejak itu ia aktif di Orhiba, namun lebih menggemari bidang kebatinan. Mendalami kebatinan , termasuk mengejar wahyu dan wangsit menjadi bagian penting dari gerakan spiritual yang sedang ia rancang.
Baca juga: Makam Keramat Punden Nyai Ronggeng Beraroma Mistis, Jarang Sepi dari Sesaji
Sawito menempuh laku Lelono Broto . Berkelana sambil bertapa. Membersihkan rohani. Menguatkan rohani. Berburu "Wahyu Cokroningrat". Wahyu dari sang maha kuasa yang diyakini diberikan kepada pemimpin tanah Jawa berikutnya. Seluruh tempat keramat, petilasan, pepundan di Jawa yang pernah didatangi Soeharto dan diyakini memberi kekuatan, Sawito datangi.
Gunung Tidar Magelang. Gunung yang diyakini sebagai tempat Syech Subakir , yakni seorang waliyullah atau Wali Songo angkatan pertama (Sebelum Wali Songo era Sunan Ampel Cs), menanam tumbal tanah Jawa. Sawito juga naik ke puncak Candi Borobudur. Bersemedi di Mancingan. Tempat yang berada di sebelah Selatan Kali Opak, namun masih di sisi utara Parangtritis Yogyakarta.
Panembahan Senopati sebelum mendirikan Kerajaan Mataram di Alas Metaok, konon pernah bersemedi di Mancingan. Lelono Broto Sawito yang diiringi pengikutnya berlanjut ke Masjid Demak. Sawito bersembahyang di pengimaman yang diyakini tempat jasad Syech Siti Jenar dimakamkan. Perjalanan spiritualnya ia lanjutkan ke makam Sunan Kalijaga di Kadilangu.
Baca juga: Tradisi Berburu Suku Dayak dan Keyakinan Orangutan Punya Hubungan dengan Nenek Moyang
Di puncak Rahtawu, yakni lereng Gunung Muria yang masuk wilayah Kudus, dalam semedinya Sawito mendapat bisikan gaib . "Ananda kamu akan memegang pucuk pimpinan negara yang adil," tulis Sumi Narto dalam buku "Sawito, ratu adil, guruji, tertuduh". Saat masih berjuluk Brandal Lokajaya, Sunan Kalijaga konon juga bersemedi di Rahtawu. Begitu juga dengan Bung Karno.
Di Gunung Sapto Renggo yang berada di sebelah Timur laut Rahtawu, Sawito diyakini menerima wangsit sekaligus kejatuhan tiga wahyu. Sawito terpilih sebagai pendeta, raja dan tentara sekaligus. Seorang Ratu Adil sekaligus Guruji atau penguasa jagad raya.
Sore hari 20 Juli 1972. Rombongan Sawito yang datang dari Gunung Muria tiba di hutan Ketonggo yang berada di lereng Gunung Lawu, wilayah Kabupaten Ngawi. Sawito dan pengikutnya bersemedi di dekat sungai Ketonggo (Anak bengawan Madiun), di tempat Tugu Manik Kencono (Ada yang menyebut Tugu Manik Kumolo) atau batu alam putih berada.
Baca juga: Rumah Bolon, Istana Rumah Kayu Raja Simalungun Tak Lekang oleh Zaman di Usia 5 Abad
Baca juga: Kisah Empu Sidi Mantra, Naga Besukih dan Selat Bali
Sikap Sawito selalu ramah dan bersahabat dengan siapa saja. Suaranya keras dan lantang. "Walaupun baru kenal beberapa hari sudah merasa seolah-olah kenal bertahun-tahun". Terbitnya dokumen pernyataan bersama atau petisi yang menyeretnya pada tuduhan subversif dan makar, juga tidak lepas dari keberanian Sawito.
Sebelum diadili, pada 14 September 1976 Sawito lebih dulu ditahan. Mensesneg Sudharmono yang kelak menjadi Wakil Presiden mendampingi Presiden Soeharto menyatakan: pemerintah berkesimpulan sudah terang ada usaha gelap ingin menggulingkan Presiden Soeharto dengan cara inkonstitusional.
Jaksa Agung Ali Said menambahkan, telah diambil langkah pengamanan dengan mengadakan penangkapan . Karena dianggap terlibat "Gerakan Sawito", tiga orang lain, yakni Drs Singgih, Mr Sudjono dan Karna Radjasa ikut dibui. Penangkapan Sawito berlangsung di rumahnya, Jalan Tampomas No. 8, Bogor, Jawa Barat.
Baca juga: Misteri Macan Putih di Candi Mleri dan Silangsengkarut Anak Turunan Ken Arok
Saat digerebek , pengajar Orhiba (Olah Raga Hidup Baru), yakni kegiatan yang melanda kehidupan masyarakat saat itu, sedang tidur. Orhiba sejenis senam sehat macam taichi. Anggotanya ada sejumlah bekas pejabat. Termasuk Kapolri pertama Indonesia Soekanto Tjokrodiatmodjo, dan Mr Sudjono bekas diplomat Indonesia era Soekarno.
Sebelum mengeksekusi petugas memperlihatkan selembar surat penangkapan . Namun Sawito seolah masih tidak percaya. "Lho kok saya ditangkap to mas?," tanya Sawito seperti tertulis dalam buku "Sawito, ratu adil, guruji, tertuduh".
Sejak tahun 1967 Sawito dinonaktifkan dari Departemen Pertanian. Sejak itu ia aktif di Orhiba, namun lebih menggemari bidang kebatinan. Mendalami kebatinan , termasuk mengejar wahyu dan wangsit menjadi bagian penting dari gerakan spiritual yang sedang ia rancang.
Baca juga: Makam Keramat Punden Nyai Ronggeng Beraroma Mistis, Jarang Sepi dari Sesaji
Sawito menempuh laku Lelono Broto . Berkelana sambil bertapa. Membersihkan rohani. Menguatkan rohani. Berburu "Wahyu Cokroningrat". Wahyu dari sang maha kuasa yang diyakini diberikan kepada pemimpin tanah Jawa berikutnya. Seluruh tempat keramat, petilasan, pepundan di Jawa yang pernah didatangi Soeharto dan diyakini memberi kekuatan, Sawito datangi.
Gunung Tidar Magelang. Gunung yang diyakini sebagai tempat Syech Subakir , yakni seorang waliyullah atau Wali Songo angkatan pertama (Sebelum Wali Songo era Sunan Ampel Cs), menanam tumbal tanah Jawa. Sawito juga naik ke puncak Candi Borobudur. Bersemedi di Mancingan. Tempat yang berada di sebelah Selatan Kali Opak, namun masih di sisi utara Parangtritis Yogyakarta.
Panembahan Senopati sebelum mendirikan Kerajaan Mataram di Alas Metaok, konon pernah bersemedi di Mancingan. Lelono Broto Sawito yang diiringi pengikutnya berlanjut ke Masjid Demak. Sawito bersembahyang di pengimaman yang diyakini tempat jasad Syech Siti Jenar dimakamkan. Perjalanan spiritualnya ia lanjutkan ke makam Sunan Kalijaga di Kadilangu.
Baca juga: Tradisi Berburu Suku Dayak dan Keyakinan Orangutan Punya Hubungan dengan Nenek Moyang
Di puncak Rahtawu, yakni lereng Gunung Muria yang masuk wilayah Kudus, dalam semedinya Sawito mendapat bisikan gaib . "Ananda kamu akan memegang pucuk pimpinan negara yang adil," tulis Sumi Narto dalam buku "Sawito, ratu adil, guruji, tertuduh". Saat masih berjuluk Brandal Lokajaya, Sunan Kalijaga konon juga bersemedi di Rahtawu. Begitu juga dengan Bung Karno.
Di Gunung Sapto Renggo yang berada di sebelah Timur laut Rahtawu, Sawito diyakini menerima wangsit sekaligus kejatuhan tiga wahyu. Sawito terpilih sebagai pendeta, raja dan tentara sekaligus. Seorang Ratu Adil sekaligus Guruji atau penguasa jagad raya.
Sore hari 20 Juli 1972. Rombongan Sawito yang datang dari Gunung Muria tiba di hutan Ketonggo yang berada di lereng Gunung Lawu, wilayah Kabupaten Ngawi. Sawito dan pengikutnya bersemedi di dekat sungai Ketonggo (Anak bengawan Madiun), di tempat Tugu Manik Kencono (Ada yang menyebut Tugu Manik Kumolo) atau batu alam putih berada.
Baca juga: Rumah Bolon, Istana Rumah Kayu Raja Simalungun Tak Lekang oleh Zaman di Usia 5 Abad
Lihat Juga :