Cerita Pagi

Tradisi Berburu Suku Dayak dan Keyakinan Orangutan Punya Hubungan dengan Nenek Moyang

loading...
Tradisi Berburu Suku Dayak dan Keyakinan Orangutan Punya Hubungan dengan Nenek Moyang
Seorang wanita cantik asal suku dayak dalam salah satu acara kampanye melindungi masa depan orangutan dan kelestarian hutan. Foto: iNews/Tsabita
Dahulu kala , berburu adalah cara hampir seluruh Suku Dayak di Kalimantan untuk bertahan hidup. Tradisi ini pun masih ada hingga kini. Meski ada pula yang bercocok tanam dengan metode ladang berpindah, namun berburu menjadi salah satu cara memenuhi kebutuhan protein yang kini tetap lestari, tak lekang oleh zaman.

Saat ini, tradisi berburu masih dilaksanakan oleh Suku Dayak Wehea. Sub Suku Dayak yang bermukim di Kecamatan Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur (Kaltim) ini masih rutin berburu ke dalam hutan.
Tradisi Berburu Suku Dayak dan Keyakinan Orangutan Punya Hubungan dengan Nenek Moyang

Baca juga: Misteri Macan Putih di Candi Mleri dan Silangsengkarut Anak Turunan Ken Arok

Kanisius Baeng Lung, seorang remaja berusia 15 tahun dari Suku Dayak Wehea menceritakan pengalaman berburunya. Meski tidak setiap hari, berburu adalah salah satu cara mengisi waktu luangnya.

Apalagi selama pandemi Covid-19 yang mengharuskan sekolah dari rumah, kegiatan berburunya jadi lebih sering. Buruan utamanya adalah babi hutan. “Biasanya bersama teman-teman, kita berangkat dari pagi dan pulang sore hari,” kata siswa SMP ini kepada Sindonews.com, Kamis (18/3/2021).

Di Kecamatan Muara Wahau, banyak berdiri desa-desa yang dihuni Suku Dayak Wehea. Desa Nehas Liah Bing adalah desa utama yang menjadi pusat kegiatan dan ritual suku tersebut.

Di wilayah ini, masih banyak terdapat hutan yang terjaga dengan baik kelestariannya. Suku Dayak Wehea sangat menjaga hutan mereka karena menjadi sumber penghidupan sejak dahulu kala.



Kanisius mengaku, tujuan utamanya berburu ke dalam hutan adalah mencari babi hutan. Namun jika yang ditemukan payau atau kijang, mereka juga memburunya.

Tradisi Berburu Suku Dayak dan Keyakinan Orangutan Punya Hubungan dengan Nenek Moyang

Hasil buruan biasanya digunakan untuk keperluan sendiri atau dijual ke masyarakat. Namun bagi Kanisius, hasil buruan tentu lebih diutamakan untuk konsumsinya sendiri. “Setelah berburu kita bawa pulang. Kalau hasilnya banyak, kita olah jadi dendeng agar bisa disimpan lama,” katanya.

Baca juga: Misteri Kutukan Bagi Penangkap Ikan Ilegal di Reservat Batubumbun Kutai Kartanegara

Tentu saja, tidak sembarang berburu yang bisa dilakukan masyarakat setempat. Suku Dayak Wehea membuat aturan tak tertulis soal batasan buruan.

Perburuan dalam jumlah besar sangat dilarang. Perburuan hanya bisa dilakukan untuk konsumsi sendiri atau warga sekitar.



“Ada larangan berburu dalam jumlah besar karena menjaga habitat satwa di hutan. Hutan bagi kami adalah rumah yang juga harus dijaga,” sambungnya.

Peralatan berburu yang digunakan antara lain sumpit, tombak, dan Mandau. Mandau adalah sebutan untuk parang khas Suku Dayak.

Secara berkelompok mereka masuk ke hutan kemudian mencari buruan. Biasanya sebelum matahari terbenam, para pemburu ini kembali bersama hasil buruannya. “Dari desa kami biasanya pakai sepeda motor sampai ke tepi hutan. Saat masuk hutan kami jalan kaki sambil mencari tanda-tanda keberadaan hewan buruan,” kata Kanisius.
halaman ke-1
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top