Perhatian! Berita ini memuat konten dewasa.
Apakah anda sudah berusia 17 tahun atau lebih?

Kerap Kebanjiran Lumpur Proyek, Warga Rusaki Kantor Milik KITB

loading...
Kerap Kebanjiran Lumpur Proyek, Warga Rusaki Kantor Milik KITB
Kerap dilanda banjir bandang yang membawa material tanah dan lumpur dari proyek KITB, puluhan warga Celong, Banyuputih melakukan aksi merusak kantor milik proyek strategis nasional itu. Foto tangkapan layar
BATANG - Geram lantaran desanya kerap dilanda banjir bandang yang membawa material tanah dan lumpur dari Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB), puluhan warga Celong, Desa Kedawung, Kecamatan Banyuputih melakukan aksi merusak fasilitas dan kantor milik proyek strategis nasional itu.

Eemosi warga nampaknya sudah tak terbendung lagi. Sebab selain dilanda banjir , pemukiman kampung nelayan tersebut terancam keberlangsungannya dengan kehadiran KITB. Mereka menilai KITB tidak memperhatikan dampak proyek terhadap pemukiman kampung nelayan di Pantai Celong, Dukuh Mangunsari, Desa Kedawung, Kecamaatan Banyuputih.

Puluhan warga yang sudah tak tahan emosinya itu pun melakukan aksi dengan merusak kantor yang biasa digunakan para staf dan karyawan, hingga kaca-kaca pecah dan bangunan yang terbuat dari baja ringan tersebut rusak. Baca juga: Jalur Prapat Dihantam Banjir, Tim Gabungan Dikerahkan Bersihkan Material

Sumari, salah seorang warga yang berada di sekitar lokasi kantor milik KITB tersebut menuturkan, insiden pengerusakan tersebut terjadi pascabanjir bandang paling parah setelah diguyur hujan, dimana air bercampur lumpur merendam jalan hingga bagian dalam rumah.



Bahkan pagar depan rumah milik warga bernama Wahidi jebol karena tak kuat menahan beban lumpur. Warga yang emosi langsung mendatangi kantor dan merusak bangunan milik KITB tersebut. “Bangunan kantor dirusak oleh warga hingga semua kaca jendela pada pecah,” tutur Sumari, Jumat (14/5/2021).

Kusno, Sekretaris Desa Kedawung, Kecamatan Banyuputih, saat dikonfirmasi, membenarkan adanya aksi pengerusakan yang dilakukan oleh warganya. Warga, kata Kusno, melakukan aksi tersebut karena emosi pemukimannya dilanda banjir. “Bentuk pelampiasan kemarahan warga yang sudah tak terbendung lagi,” ujarnya Kusno.

Pihak manajemen KITB, kata Kusno, tidak serius dalam menangani bencana banjir bandang yang disebabkan proyek tersebut. “Warga sudah tidak bisa lagi untuk menahan penderitaan lantaran rumah dan desanya kerap mendapatkan kiriman banjir bandang yang membawa material tanah, juga lumpur, namun masih kurang mendapatkan perhatian serius,” tuturnya. Baca juga: Satgas TNI AD Selesai Bangun Dua Jembatan Pascabencana di NTT

Setidaknya, sebanya 25 rumah yang menjadi langganan banjir lumpur dampak kawasan industri terpadu itu. Akibatnya, warga mengalami kerugian hingga puluhan juta rupiah setiap kali banjir. Padahal sebelum adanya kegiatan pembukaan lahan untuk kawasan industri, warga tidak pernah merasakan banjir seperti saat ini.
(don)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top