Cerita Perjuangan Wartimah Melawan Penyakit Langka Bernama Hipertensi Paru

loading...
Cerita Perjuangan Wartimah Melawan Penyakit Langka Bernama Hipertensi Paru
Wartimah saat menunjukan hasil medis atas penyakit yang dideritanya. MNC Media/Kismaya
GUNUNGKIDUL - Senyum ramah terlihat dari wajah Wartimah (53) warga Dusun Sumberjo, Desa Ngawu, Kecamatan Playen, Gunungkidul , Yogyakarta, saat menerima kunjungan media ini. Kepada Wartawan MNC Media, ibu dua putra dan nenek satu orang cucu itu bercerita bagaimana kisahnya yang menjadi penyintas penyakit langka yakni hipertensi paru.

Wartimah bercerita bagaimana penyakit langka Hipertensi paru yang menyebabkan sesak nafas menggerogoti tubuhnya sejak tahun 2010 karena keterlambatan penanganan dan juga sempat mengalami salah diagnosis penyakit.

Hipertensi paru sendiri merupakan tekanan darah tinggi, tapi bukan yang seperti biasanya terjadi di masyarakat umum. Tekanan darah tinggi pada Hipertensi Paru, terjadi di pembuluh darah paru yang terhubung ke jantung, sehingga bisa mengakibatkan gagal jantung kanan dan kematian.

"Sejak tahun 2010 saya sering mengalami sesak nafas, mudah lelah dan juga batuk tidak berhenti-henti, saya berobat di RSUD terdekat hingga 2015, dan didiagnosa memiliki penyakit jantung bawaan yang biasa disebut jantung bocor oleh masyarakat umum," Kata Wartimah memulai cerita.

Nenek yang kini berusia 53 tahun tersebut menjelaskan , penyakit langka yang dideritanya tersebut menyebabkan dirinya berkali-kali harus mengalami perawatan dan pengobatan yang menyebabkan dirinya harus berulang kali masuk rumah sakit.



"Saya sering menangis, sedih, pilu dan rasa takut membayangi saya setiap hari, karena sudah dari tahun 2010, tapi tetap tidak ada kejelasan bagaimana sakit saya ini bisa sembuh dan apa yang harus dilakukan. Mau berobat ke kota besar, tetapi terkendala keterbatasan biaya," jelas Wartimah.

Wartimah yang juga merupakan orang tua tunggal tersebut akhirnya memutuskan untuk memeriksakan penyakitnya tersebut ke RS Sardjito Yogyakarta pada tahun 2015 lalu. "Dari situ, baru tahu kalau saya ternyata terkena hipertensi paru-paru usai sebelumnya sempat mengalami salah diagnosa," tutur Wartimah.

Kondisi penyakit langka Hipertensi paru yang diderita oleh Wartimah menyebabkan dirinya sering mengalami sesak nafas, bahkan untuk berjalan dengan jarak lima puluh meter saja dirinya harus beristirahat sampai delapan kali karena sering mengalami sesak nafas.

"Saya dijadwalkan untuk operasi penutupan jantung bocor tanpa bedah dada namun ternyata saat tindakan, hasilnya gagal karena tekanan paru saya tinggi sehingga saya harus bolak balik Sardjito seminggu sekali selama dua tahun dan mengkonsumsi obat paru yang mahal," terang Wartimah.

Profesinya yang hanya sebagai ibu rumah tangga paska ditinggal sang suami membuat dirinya tidak patah semangat dalam menjalani hidup, meski menelan biaya hingga ratusan juta rupiah selama pengobatan dirinya mengaku bersyukur dan mengaku senang kini dapat terbebas dari penyakit hipertensi paru walau masih harus mengkonsumsi obat. Baca: Berkat Informasi di Medsos, 2 Perampas Motor Dibekuk Anggota Polres Kotamobagu.



"Syukur kepada Allah SWT, ternyata di 2017, dokter menyatakan tekanan paru saya sudah turun dan layak operasi dengan cara bedah jantung terbuka. Perasaan senang campur aduk dengan takut karena ini operasi jantung besar dengan cara dada saya harus dibelah, sangat berisiko dan nyawa taruhannya. Akhirnya 9 Oktober 2017 saya menjalani operasi dan Bismillah, operasi berjalan lancar, bahkan donor darah datang sendiri, bukan sanak atau saudara, mereka seperti malaikat yang dikirim Allah untuk membantu proses operasi saya," ucap Wartimah sembari menahan air mata.

Terpisah, Relawan Humas Yayasan Hipertensi Paru, Weni Kristiani mengatakan , Hipertensi paru merupakan penyakit langka dan kini belum memiliki obat. "Sejauh ini di Gunungkidul terdapat 8 orang yang sudah didiagnosa mengidap hipertensi paru, dan ribuan lainnya di seluruh Indonesia," Katanya.

Hipertensi Paru, menurut Weni bisa menyerang seluruh lapisan masyarakat baik yang berusia produktif maupun tidak. "Dari kecil sampai orang tua bisa terkena hipertensi paru, terlebih sekarang jarang orang yang memperdulikan penyakit langka tersebut," jelasnya. Baca Juga: Tak Pakai Masker, Pengemudi Kendaraan Diminta Menyapu Jalan dan Masjid.

Dirinya pun mengajak kepada seluruh masyarakat Indonesia agar senantiasa peka terhadap penyakit hipertensi paru ini. "Jika anda memiliki gejala sesak nafas yang terlalu over, naik tangga baru sedikit sudah terenggah engah boleh dicurigai bahwa itu penyakit hipertensi paru," pungkasnya.
(nag)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top