Harga Kedelai Tinggi, Perajin Tahu Tempe di Salatiga Berharap Subsidi Pemerintah
Selasa, 02 Februari 2021 - 04:10 WIB
loading...
Salah seorang pekerja saat membuat tahu di Kalitaman, Tingkir, Salatiga. Foto/Ist
A
A
A
SALATIGA - Perajin tahu dan tempe di Salatiga meminta pemerintah daerah setempat untuk mengucurkan bantuan subsidi kedelai. Mereka meminta subsidi lantaran sampai saat ini harga kedelai masih tinggi.
Ketua Puskopti Jateng Sutrisno Supriyantoro mengatakan, permintaan para perajin tahu tempe disampaikan kepada pengurus Puskopti saat operasi pasar kedelai di Salatiga beberapa waktu lalu. Mereka mengeluhkan tingginya harga kedelai saat ini.
"Sekarang harga kedelai mencapai Rp10.000 per kilogram. Jika kondisi ini, berlangsung hingga tiga bulan ke depan, para perajin bisa gulung tikar. Maka dari itu, mereka minta Pemkot Salatiga bisa memberikan subsidi, agar usahanya bisa tetap berjalan," katanya, Senin (1/2/2021).
Dia menyatakan, kelangsungan usaha para perajin tahu tempe bergantung pada harga kedelai. Jika kenaikkan harga kedelai berlangsung lama, maka bisa dipastikan usaha mereka akan kolaps lantaran perajin tidak bisa serta merta menaikkan harga jual.
"Jika harga jual dinaikkan, takutnya sepi pembeli. Terlebih dimasa pandemi COVID-19 ini, ekonomi sangat sulit," ujarnya.
Ketua Puskopti Jateng Sutrisno Supriyantoro mengatakan, permintaan para perajin tahu tempe disampaikan kepada pengurus Puskopti saat operasi pasar kedelai di Salatiga beberapa waktu lalu. Mereka mengeluhkan tingginya harga kedelai saat ini.
"Sekarang harga kedelai mencapai Rp10.000 per kilogram. Jika kondisi ini, berlangsung hingga tiga bulan ke depan, para perajin bisa gulung tikar. Maka dari itu, mereka minta Pemkot Salatiga bisa memberikan subsidi, agar usahanya bisa tetap berjalan," katanya, Senin (1/2/2021).
Dia menyatakan, kelangsungan usaha para perajin tahu tempe bergantung pada harga kedelai. Jika kenaikkan harga kedelai berlangsung lama, maka bisa dipastikan usaha mereka akan kolaps lantaran perajin tidak bisa serta merta menaikkan harga jual.
"Jika harga jual dinaikkan, takutnya sepi pembeli. Terlebih dimasa pandemi COVID-19 ini, ekonomi sangat sulit," ujarnya.
Lihat Juga :