Mulai Bermunculan Kampanye Anti Vaksin, Bagaimana Cara Meredamnya?
Minggu, 17 Januari 2021 - 13:09 WIB
loading...
Epidemiolog Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Dr. M Atoillah Isfandiari, dr. MKes
A
A
A
SURABAYA - Di tengah program vaksinasi COVID-19 muncul gerakan anti vaksin yang mulai masif di masyarakat. Gerakan penolakan vaksin selalu saja bermunculan di Indonesia di setiap upaya vaksinasi berbagai jenis penyakit yang pernah menjangkit di tanah air.
Epidemiolog Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Dr. M Atoillah Isfandiari, dr. MKes menuturkan, gerakan anti vaksin bukanlah sesuatu hal yang baru. Pasalnya, gerakan anti vaksin telah muncul saat pertama kali vaksin berhasil ditemukan pada abad ke-18.
“Jadi sebenarnya gerakan anti vaksin sudah muncul saat Edward Jenner pertama kali menemukan vaksin di dunia pada abad ke-18, di mana saat itu pihak yang menentang adalah sebagian agamawan,” kata Atok, panggilan akrabnya, Minggu (17/1/2021).
Baca juga: Akhir Bulan Ini Diprediksi Terjadi Lonjakan Kasus COVID-19
Ia melanjutkan, gerakan anti vaksin akan selalu ada dalam kalangan masyarakat. Penyebabnya karena setiap manusia tentu memiliki pengetahuan, tingkat pemahaman, maupun sudut pandang yang berbeda-beda.
“Pertama, kita perlu berpijak pada satu persepsi terlebih dahulu. Apakah semua masyarakat sepakat bahwa pandemi COVID-19 ini harus segera diakhiri atau tidak, itu dulu,” jelasnya.
Epidemiolog Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Dr. M Atoillah Isfandiari, dr. MKes menuturkan, gerakan anti vaksin bukanlah sesuatu hal yang baru. Pasalnya, gerakan anti vaksin telah muncul saat pertama kali vaksin berhasil ditemukan pada abad ke-18.
“Jadi sebenarnya gerakan anti vaksin sudah muncul saat Edward Jenner pertama kali menemukan vaksin di dunia pada abad ke-18, di mana saat itu pihak yang menentang adalah sebagian agamawan,” kata Atok, panggilan akrabnya, Minggu (17/1/2021).
Baca juga: Akhir Bulan Ini Diprediksi Terjadi Lonjakan Kasus COVID-19
Ia melanjutkan, gerakan anti vaksin akan selalu ada dalam kalangan masyarakat. Penyebabnya karena setiap manusia tentu memiliki pengetahuan, tingkat pemahaman, maupun sudut pandang yang berbeda-beda.
“Pertama, kita perlu berpijak pada satu persepsi terlebih dahulu. Apakah semua masyarakat sepakat bahwa pandemi COVID-19 ini harus segera diakhiri atau tidak, itu dulu,” jelasnya.
Lihat Juga :