Ada Jejak India, Majapahit, dan Belanda di Pulau Sabu

loading...
Orang Sabu sendiri memang tidak dapat melafalkan kata Surat dan Gujarat sebagaimana mestinya, sehingga mereka menyebut kata Surat itu dengan Hura. Nah, konon para pendatang dari Kota Surat yang menjadi penghuni pertama pulau ini dipimpinan oleh Kika Ga dan saudaranya Hawu Ga. Keturunan Kika Ga inilah yang disebut orang Sabu (Do Hawu). Setelah kawin-mawin mereka kemudian menyebar di Pulau Sabu dan Raijua dan menjadi cikal bakal orang Sabu.

Jejak Majapahit

Ekpansi Kerajaan Majapahit pada abad ke-14 terasa hingga ke pelosok terluar bumi nusantara. Di Pulau Sabu, ada sejumlah fakta yang menunjukkan bahwa Majapahit pernah menanamkan kekuasaanya di pulau ini dari abad ke-14 hingga awal abad ke-16. Menurut cerita lisan di kalangan rakyat, Raja Majapahit sangat dihormati di sana bahkan raja dan istrinya diceritakan pernah tinggal di Ketita di Pulau Raijua dan Pulau Sabu.

Bukti bahwa Majapahit pernah menguasai pulau ini antara lain adanya batu peringatan untuk Raja Majapahit yang disebut Wowadu Maja dan sebuah Sumur Maja di wilayah Daihuli dekat Ketita. Selain itu, ada upacara yang diadakan oleh salah satu Udu di Raijua, Udu Nadega yang diberi julukan Ngelai yang menurut cerita adalah keturunan orang-orang Majapahit.

Tidak hanya itu. Masuknya pengaruh kerajaan dari Jawa itu juga bisa ditemukan lewat motif pada tenunan selimut orang Sabu yang bergambar Pura. Bukti lain, di Mesara ada desa yang bernama Tana Jawa yang penduduknya mempunyai karakter dan ciri-ciri seperti orang Jawa. Lalu, ada tempat di dekat pelabuhan Mesara yang disebut dengan Mulie yang setelah ditelusuri, kata itu diambil dari bahasa Jawa Mulih, yang berarti pulang.

Jejak Belanda

Pada abad ke-18, pengaruh Belanda mulai masuk. Mobilitas masyarakat keluar dari Sabu dimulai sejak saat kontrak antara Sabu dan Belanda yang ditandatangani tahun 1756. Di mata Belanda yang saat itu gencar melakukan politik adu domba, orang-orang Sabu yang pemberani dan lincah bisa diandalkan.

Dalam klausul kontrak itu, penguasa atau raja Sabu wajib menyediakan tentara bagi Belanda demi kepentingan pertahanannya di Kupang. Tujuan utama tenaga bersenjata ini adalah untuk melancarkan ekspedisi militer seperti yang dilakukan oleh pemimpin perang Von Pluskow sejak 1758 hingga 1761 kala itu. (Baca juga: Jejak Peradaban Eropa Abad ke-19 di Delta Mahakam, dari Keramik hingga Botol)

Pada tahun 1838, lagi-lagi Belanda memanfaatkan ketrampilan orang Sabu di bidang militer untuk menghentikan aksi orang Ende yang menyerang Sumba demi mendapatkan budak. Era ini mendorong orang Sabu berpindah ke Sumba yang diawali dengan menjalin hubungan kekerabatan melalu perkawinan antara Raja Melolo di Sumba Timur dan Raja Sabu di Habba.

Makan berkembanglah perkampungan orang Sabu di Sumba Timur . Namun, wabah penyakit cacar beberapa kali menimpa perkampungan orang Sabu di tahun 1869. Pada tahun 1874, kampung ini kembali dilanda penyakit yang menimbulkan korban jiwa hingga membuat orang Sabu kehilangan hampir seperenam jumlah mereka. Baru sekitar tahun 1925 jumlaah penduduk Sabu kembali meningkat.
halaman ke-2 dari 3
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top