Mengungsi dari Amukan Merapi, Warga Tlogolele Sebut Simbah Buyut Mau Punya Gawe

Minggu, 22 November 2020 - 14:29 WIB
loading...
Mengungsi dari Amukan...
Pengungsi Gunung Merapi yang berada di di tempat penampungan pengungsian sementara (TPPS) Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, Boyolali, Jateng. Foto/SINDOnews/Ary Wahyu Wibowo
A A A
BOYOLALI - Ratusan warga di Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali harus mengungsi setelah status Gunung Merapi naik menjadi Siaga atau Level III. Untuk sementara, berbagai aktivitas harus ditinggalkan demi keselamatan diri dan keluarga. (Baca juga: Tanda-tanda Alam Kawanan Monyet Mulai Turun dari Lereng Merapi)

Menjadi pengungsi Gunung Merapi sudah 3 kali dialami Parni (46) warga Dukuh Stabelan, Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali. Pada 2010 dan 2006 lalu, dirinya juga harus mengungsi karena terjadi erupsi Merapi. Tidur di pengungsian enak tidak enak harus diterima. (Baca juga: KH Anwar Musaddad, Ulama Besar yang Kerap Merepotkan Pasukan Belanda)

“Kalau makan, minum dan lainnya terpenuhi. Inginnya pulang ke rumah, tapi kalau bapak bapak dari pemerintah belum mengizinkan, ya saya juga tidak pulang,” ungkap Parni di tempat penampungan pengungsian sementara (TPPS) di Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, Boyolali. (Baca juga: Cegah COVID-19, BPBD Magelang Siapkan Bilik Masing-masing Pengungsi Merapi)

Baginya sebagai rakyat kecil, mengikuti petunjuk Pemerintah merupakan hal yang paling baik. Sebelum diminta mengungsi mulai 9 November 2020 lalu, warga di 4 dukuh di Desa Tlogolele yang berjarak 3-5 kilometer dari puncak Merapi mulai bersiap bercocok tanam. Ada yang sudah terlanjur menanam namun ada juga yang baru menyiapkan lahan. “Kalau yang terlanjur menanam ya hanya bisa pasrah. Kalau yang baru menyiapkan lahan, tidak berani untuk melanjutkan menanam,” ungkapnya.

Mereka hanya bisa berjaga jaga mengingat “Simbah Buyut” (panggilan warga setempat untuk Gunung Merapi) yang tengah bersiap “punya gawe atau punya kerja” (erupsi). Tanaman biasanya ditanam adalah sayur mayur, seperti cabe, tomat, dan beragam lainnya. Mereka tidak ambil risiko terkait kondisi Merapi saat ini. Warga merasa khawatir jika melanjutkan justru tidak bisa memetik panen kalau Merapi mendadak meletus.

Sedangkan yang terlalu menanam, tetap dirawat sebaik baiknya. Panen seperti cabe baru bisa dilakukan setelah 4 bulan. Sedangkan sayuran sekitar 2 bulan. Padahal mereka yang terlanjur menanam usianya baru 1-2 minggu. Sedangkan yang baru menanam, memilih untuk berhenti. Warga memilih untuk fokus keselamatan diri dan keluarganya. Saat ini, anak dan cucunya sudah berada di pengungsian.

Ia mendapat jatah satu bilik untuk tidur bersama anak dan cucunya. Sedangkan suami masih di rumah untuk berjaga. Ketika mengungsi, barang yang dibawa adalah pakaian secukupnya dan surat surat berharga. Saat siang, dirinya menyempatkan diri untuk kembali ke rumah sekedar untuk melihat kondisi.

Hal hal yang dilakukan saat sejenak kembali ke rumah adalah bersih bersih, dan memberi makan ternak. Suaminya yang tinggal di rumah terpaksa masak sendiri selama tinggal anak istri di pengungsian. “Kalau laki laki khan kalau ada apa apa langsung bisa cepat bergerak,” pungkas perempuan yang memiliki dua anak dan dua cucu ini.
(shf)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Gunung Merapi Semburkan...
Gunung Merapi Semburkan Awan Panas Guguran hingga 2 Km Pagi Ini
Awan Panas Guguran Meluncur...
Awan Panas Guguran Meluncur 2 Kilometer dari Puncak Merapi Pagi Ini
Gunung Merapi Luncurkan...
Gunung Merapi Luncurkan Awan Panas Sejauh 2 Kilometer Mengarah ke Hulu Kali Boyong
Gunung Merapi Erupsi,...
Gunung Merapi Erupsi, Awan Panas Meluncur Sejauh 1,7 Km dari Puncak, Status Siaga!
BNPB Pulihkan Akses...
BNPB Pulihkan Akses Air Bersih di Merapi dengan Pipanisasi Sepanjang 30 Km
Gunung Dukono Maluku...
Gunung Dukono Maluku Utara Erupsi, PVMBG Imbau Masyarakat Waspada
Gibran Kunjungi Ponpes...
Gibran Kunjungi Ponpes Annajah Dawar Boyolali, Tekankan Pentingnya Keharmonisan
Prabowo Tiba di Boyolali,...
Prabowo Tiba di Boyolali, akan Resmikan RS Kardiologi Emirates–Indonesia
3 Orang Jadi Tersangka...
3 Orang Jadi Tersangka Tambang Ilegal Lereng Gunung Merapi
Rekomendasi
Dugaan Keterkaitan Eks...
Dugaan Keterkaitan Eks Jampidsus dengan Sejumlah Kasus Korupsi Disorot
Hasil Piala AFF 2026:...
Hasil Piala AFF 2026: Thailand Pesta Gol ke Gawang Laos, Rebut Puncak Klasemen dari Malaysia
Robikin Emhas: Marwah...
Robikin Emhas: Marwah NU Tercabik-cabik Hanya karena Konflik Elite PBNU
Berita Terkini
Kemendagri: Tanggap...
Kemendagri: Tanggap Darurat Aceh Berakhir, Anggaran Pemulihan Disiapkan Rp58,9 Triliun
Yusril Imbau Dedi Mulyadi...
Yusril Imbau Dedi Mulyadi Tak Bikin Sayembara Tangkap Begal: Khawatir Masyarakat Jadi Main Hakim Sendiri
BNI Menegaskan Kedatangan...
BNI Menegaskan Kedatangan Siswa Bukan atas Arahan Petugas
Kemhan Sebut Insiden...
Kemhan Sebut Insiden Bus Dinas yang Diduga Kabur usai Tabrak Ojol Diselesaikan secara Damai
Kisah Warga Bondowoso...
Kisah Warga Bondowoso Sukarela Serahkan Lutung Jawa ke Kemenhut
Hati-hati! Ada Perbaikan...
Hati-hati! Ada Perbaikan Jalan di Tol Jakarta-Cikampek
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved