Puluhan Alat Deteksi Bencana di Gunungkidul Tak Berfungsi
Minggu, 08 November 2020 - 22:27 WIB
loading...
Erupsi Gunung Merapi. Foto/Dok
A
A
A
GUNUNG KIDUL - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul meminta warga Gunungkidul yang berada di zona merah bencana tanah longsor untuk meningkatkan kewaspadaan. Ini lantaran hujan deras yang mulai intensitasnya mulai naik.
Terlebih lagi sedikitnya 20 alat deteksi dini ataudikensl dengan sistem early warning system (EWS) mengalami kerusakan atau tidak berfungsi. (Baca juga: Antisipasi Letusan Merapi, 100 Ribu Masker Disiagakan Pemkab Boyolali )
"Laporan awal dari 30 alat EWS hanya 10 yang berfungsi," kata Kepala BPBD Gunungkidul Edy Basuki kepada wartawan, Minggu (8/11/2020). (Baca juga: Ada Lava Guguran Dari Kawah Merapi, BPPTKG: Ini Fenomena Biasa )
Pihaknya sudah mengingatkan pemerintah kelurahan terkait dengan kondisi ini. Terlebih lagi dengan 10 alat yang dilaporkan berfungsi agar dicek ulang.
Untuk saat ini sudah memasuki masa pancaroba. Sesuai prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), di akhir Oktober sudah mulai musim hujan. Di masa peralihan ini ada prediksi cuaca ekstrem sehingga meningkatkan potensi terjadinya bencana, khususnya angin kencang.
“Untuk antisipasi, kami sudah lakukan koordinasi dengan masing-masing kapanewon agar melakukan kegiatan pengurangan risiko bencana,” kata Edy kepada wartawan, Senin (12/10/2020).
Terlebih lagi sedikitnya 20 alat deteksi dini ataudikensl dengan sistem early warning system (EWS) mengalami kerusakan atau tidak berfungsi. (Baca juga: Antisipasi Letusan Merapi, 100 Ribu Masker Disiagakan Pemkab Boyolali )
"Laporan awal dari 30 alat EWS hanya 10 yang berfungsi," kata Kepala BPBD Gunungkidul Edy Basuki kepada wartawan, Minggu (8/11/2020). (Baca juga: Ada Lava Guguran Dari Kawah Merapi, BPPTKG: Ini Fenomena Biasa )
Pihaknya sudah mengingatkan pemerintah kelurahan terkait dengan kondisi ini. Terlebih lagi dengan 10 alat yang dilaporkan berfungsi agar dicek ulang.
Untuk saat ini sudah memasuki masa pancaroba. Sesuai prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), di akhir Oktober sudah mulai musim hujan. Di masa peralihan ini ada prediksi cuaca ekstrem sehingga meningkatkan potensi terjadinya bencana, khususnya angin kencang.
“Untuk antisipasi, kami sudah lakukan koordinasi dengan masing-masing kapanewon agar melakukan kegiatan pengurangan risiko bencana,” kata Edy kepada wartawan, Senin (12/10/2020).
Lihat Juga :