Pesantren Metal Pasuruan Terima Pasien Narkoba

loading...
Pesantren Metal Pasuruan Terima Pasien Narkoba
Pengasuh Ponpes Metal Pasuruan KH Nurkholis. Foto/iNewsTV/Jaka Samudra
PASURUAN - Sebuah pondok pesantren (ponpes) di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, ini tergolong unik. Selain menerima calon santri umum, pesantren ini juga siap mendidik pasien bermasalah seperti, pasien narkoba, orang gila dan hamil sebelum nikah.

Berbeda dengan pesantren lain, Ponpes Menghafal Tulisan Alquran atau Metal Muslim Al Hidayat yang terletak di Jalan Raya Probolinggo, Pasuruan, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan menerima calon santri bermasalah. (Baca juga: Penularan COVID-19 di Pondok Pesantren Terjadi Lagi)

Bertempat di lahan puluhan hektare, sebuah pesantren yang diasuh Kiai Haji Nurkholis ini mememiliki jumlah santriwan dan santri-santri pengguna barang haram, orang gila dan merawat anak yang sengaja dibuang orang tuanya di wilayah sekitaran pondok. (Baca juga: Kecelakaan di Jalur Maut Pasuruan, 1 Prajurit TNI Tewas)

Namun santri terbanyak pasien narkoba jumlahnya terus bertambah banyak. Bahkan berasal dari seluruh penjuru nusantara, bahkan ada yang dari luar negeri, Malaysia.



Selama mengikuti terapi dengan mendekatkan diri ke Allah, sudah banyak yang insyaf dan bisa pulang ke rumahnya masing- masing sehingga keberadaannya sudah bisa diterima keluarga dan masyarakat.

Untuk bayi yang sengaja ditemukan atau pemberian dari masyarakat, usianya berkisar 10 - 12 tahun. Mereka ditempatkan terpisah. Yakni pria di bangunan ukuran 10 x 6 meter. Sementara, perempuan di samping rumah pengasuh untuk mudah pengawasan dan membinanya dengan fasilitas seperti kamar tidur dan kamar mandi.

"Bila ditotal maka santri anak-anak hamil di luar nikah jumlahnya mencapai 140 anak. Mereka sekolah dasar di luar pondok," kata Pengasuh Ponpes Metal KH Nurkholis.



Menurut dia, aantri yang menimba ilmu Islam merasa kerasan di pesantren. Hal ini lantaran sudah mendapat ilmu dan bisa mengaji.

Salah satu contohnya yaitu pasien orang gila yang kondisinya sudah mulai sembuah bernama Hadi. Dia sudah bisa diajak ngomong sudah teringat asal tempat tinggalnya.

"Selain membimbing santri bermasalah, pesantren metal juga menggelar pengajian rutian di sebuah masjid lokasinya di tengah pondok dihadiri banyak jamaah setiap hari minggu pagi," kata seorang santri umum bernama M Bagus.
(nth)
TULIS KOMENTAR ANDA!
preload video
Top