Diabetes Mengancam, Para Perawat Surabaya Bentuk Kader Kesehatan

loading...
Diabetes Mengancam, Para Perawat Surabaya Bentuk Kader Kesehatan
Pelatihan Manajemen Terapi Diabetes Bagi Kader Kesehatan, dalam rangka pengabdian masyarakat di Surabaya Suite Hotel, Surabaya. Foto/SINDONews/Ali Masduki
A+ A-
SURABAYA - Penyakit Diabetes Mellitus (DM) tak boleh diremehkan. Selain Corona, diabetes adalah masalah kesehatan di masyarakat yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Apalagi penyakit ini disebut menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi pada pasien COVID-19.

Ketua Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Surabaya, Supriyanto menuturkan, saat ini diabetes merupakan ancaman yang serius bagi kesehatan masyarakat. Sehingga diperlukan perhatian sejumlah pihak untuk bersama-sama membendung fenomena gunung es epidemi diabetes mellitus di Indonesia.

Salah satu yang paling sederhana, kata Supriyanto, adalah terbentuknya kader kesehatan di masyarakat yang menguasai penanganan dan pencegahan Diabetes Mellitus (DM). Dengan terbentuknya kader kesehatan, masyarakat bisa melakukan perawatan penderita diabetes sendiri di rumah. Tentunya dengan cara sederhana dan tidak menguras kantong.

"Kalau bayi kan sudah ada Posyandu. Sedangkan diabetes bisa masuk pada Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu)," katanya usai membuka Pelatihan Manajemen Terapi Diabetes bagi Kader Kesehatan dalam rangka pengabdian masyarakat, di Surabaya, Selasa (15/9/2020).

(BACA JUGA: Kirsuh Cek Kosong, PT Darmi Bersaudara dan PT VIU Sepakat Damai)

Para dosen dan mahasiswa Prodi Pendidikan Profesi Ners dan Prodi Sarjana Terapan Keperawatan Politeknik Kesehatan Surabaya ini memberikan pemahaman dan cara penanganan sederhana penderita diabetes, pada puluhan kader Kesehatan yang ada di wilayah Puskesmas Tambak Rejo Surabaya.

Mereka diberikan pengetahuan, sikap dan keterampilan tentang pengelolaan dan manajemen terapi klien diabetes mellitus. Keterampilan itu terdiri dari pencegahan kaki diabetik bagi klien DM, Olah Raga bagi klien DM, pengenalan obat atau Insulin dan pengunaannya bagi klien DM, serta penghitungan kalori dan nutrisi bagi klien DM.

Supriyanto berharap, melalui pelatihan ini nantinya kader kesehatan dapat menyebarluaskan dan memeratakan informasi, serta membantu klien DM untuk melakukan manajemen terapi DM dengan tepat.

"Harapan kami, dari kader nanti bisa diteruskan kepada keluarga dan masyarakat di sekitarnya. Bagi yang sudah kena DM, bagaimana pasien mampu menjaga agar gula darahnya tetap dalam keadaan normal," tuturnya.

Dalam kesempatan yang sama, Perawat Program Penyakit Tidak Menular (PTM) Puskesmas Tambak Rejo Surabaya, Wiwik Handayani, menjelaskan saat ini masyarakat di wilayahnya sudah menyadari bahaya penyakit diabetes. Sehingga masyarakat rutin memeriksakan gula darah dan banyak yang sudah melakukan diet. Meski dimikian, ia mengakui bahwa trend penderita diabetes terus mengalami lonjakan.

"Dalam sebulan ini ada sepuluh sampai lima belas orang pasien baru. Tapi kalau yang lama banyak setiap bulan mereka kontrol ke Puskesmas. Yang lama itu mencapai seratusan," ujarnya.

Peningkatan itu, lanjutnya, dipicu dari gaya hidup kurang sehat seperti mengkonsumsi makanan cepat saji, konsumsi makanan manis dan kurang olah raga. Ditambah lagi saat ini banyak orang WFH yang dimungkinkan banyak mengkonsumsi makanan cepat saji.

Sementara itu, Peneliti dari Politeknik Kesehatan Kemenkes Surabaya, Adin Mu’afiro menambahkan, bahwa pelatihan tentang diabetes pada kader kesehatan dan masyarakat sangat penting.

Dari perawatan kaki, pengelolaan gizi, managemen obat atau cara meminum obat, olah raga sesuai dengan berat badan pasien, menjadi panduan dasar supaya penderita diabetes terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Hal itu berdasarkan hasil penelitian Muafiro (2015), melalui Riset Hibah Bersaing Poltekkes kemenkes Surabaya, di Puskesmas Tambak Rejo Surabaya menunjukkan, bahwa keluarga klien DM Tipe 2 sebagian besar (73,3%) menginginkan pengetahuan tentang cara melakukan ketaatan diet. Sebagian lainnya sebanyak 26,7% ingin memahami penggunaan obat atau insulin yang sesuai dengan terapi.

"Jadi mereka diajarkan teori dan panduan dari kemenkes. Sehingga masyarakat bisa memberikan pengetahun yang benar dilingkungannya," tandasnya.

Sebagai catatan, berdasarkan data WHO tahun 2016 estimasi jumlah penderita Diabetes mellitus (DM) di sepuluh besar negara dengan penderita diabetes terbanyak tahun 2000 dan 2030. Indonesia menempati urutan ketiga dengan jumlah penderita Diabetes tahun 2000 sebanyak 8,4 juta penduduk dan tahun 2030 diperkirakan mencapai 21,3 juta penduduk.

Diketahui, Kementerian Kesehatan RI telah membentuk 13.500 Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) untuk memudahkan akses warga melakukan deteksi dini penyakit diabetes. Selain itu, Menteri Kesehatan menghimbau masyarakat untuk melakukan aksi CERDIK, yaitu dengan melakukan cek kesehatan secara teratur untuk megendalikan berat badan agar tetap ideal dan tidak berisiko mudah sakit.
(msd)
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top