Kisah Pilu Kehidupan Warga Bedeng di Bawah Jembatan Arteri Semarang

loading...
Kisah Pilu Kehidupan Warga Bedeng di Bawah Jembatan Arteri Semarang
Kondisi kehidupan warga bedeng RT 5/RW 16 Kampung Tambakrejo, Kelurahan Tanjung Emas, Kecamatan Semarang Utara. Foto/SINDOnews/Ahmad Antoni
SEMARANG - Serba sempit dan berhimpitan. Begitulah suasana yang tepat untuk menggambarkan kondisi kehidupan ratusan warga RT 5/RW 16 Kampung Tambakrejo, Kelurahan Tanjung Emas, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang.

Di perkampungan yang terdampak proyek normalisasi Banjir Kanal Timur (BKT) ini, ada 97 KK yang terdiri 332 jiwa. Mereka lekat dengan sebutan warga bedeng. Karena mereka menempati bedeng-bedeng (kamar) terbuat dari triplek yang hanya berukuran 2,5 x 4 meter persegi. (Baca juga: Keributan Massa di Pasar Kliwon Solo, Sejumlah Orang Terluka)
Kisah Pilu Kehidupan Warga Bedeng di Bawah Jembatan Arteri Semarang

Bayangkan bagaimana rasanya jika dalam satu bedeng itu ditempati satu keluarga terdiri suami istri, kakek-nenek dan lima anak. Bagaimana bisa bisa menikmati tidur dengan nyaman. Apalagi bedeng-bedeng mereka berada di bawah jembatan arteri yang setiap harinya dilintasi kendaraan berat.

Namun mereka yang rata-rata sudah tinggal lebih dari satu tahun seakan sudah terbiasa menyelami kehidupan di bawah kolong jembatan. Apalagi di tengah pandemi COVID-19 yang hingga kini masih menyebar secara masif. (Baca juga: Kapolresta Kena Pukul Pelaku Penyerangan di Pasar Kliwon Solo)

Juwariyah (45), salah seorang warga memiliki cerita sendiri selama menetap di rumah bedeng. Ia bersama suami dan kedua anaknya sudah 1,5 tahun tinggal di rumah bedeng. Meski sudah terbiasa, Juwariyah harus berjibaku memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Pasalnya, sang suami sedang mengalami sakit sehingga tak bisa mencari nafkah. (Baca juga: Terduga Pengedar Narkoba Meninggal Usai Diperiksa di Polresta Barelang)
Kisah Pilu Kehidupan Warga Bedeng di Bawah Jembatan Arteri Semarang

“Suami saya sakit kakinya patah sudah 1,5 tahun tak melaut. Sehingga saya harus memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan jualan di warung,” ungkap Juwariyah kepada SINDOnews, Minggu(9/8/2020). Soal tidur, mereka terbisa umpel-umpelan (berdesak-desakan). "Kalau tidur jam 10 malam. Awalnya sempat takut karena kepikiran tertimpa kendaraan dari atas jembatan," ungkapnya.



Sementara warga lainnya bernama Solikatun (40) mempunyai cerita yang kurang mengenakkan ketika harus antre untuk sekadar mandi dan buang air besar (BAB). "Saat mau mandi apalagi buang air besar harus antre hingga setengah jam lebih. Bagaimana kalau kebelet (tak bisa menahan). Waktu pas lagi di dalam kamar mandi pernah digedor-gedor karena mungkin terlalu lama," kata imbuh ibu dua anak ini.

Sisi lain, ia mengkhawatirkan kondisi kesehatan anak-anaknya selama tinggal di rumah bedeng yang minim sirkulasi udara. "Selama disini anak saya pernah ngalami sakit TBC, padahal sebelumnya enggak pernah. Tapi Alhamdulillah sudah sembuh. Dan sekarang sudah terbiasa hidup disini. Adanya kereta kelinci setidaknya bisa jadi hiburan anak, kalau nggak ada ya bisa stres," ungkapnya.
Kisah Pilu Kehidupan Warga Bedeng di Bawah Jembatan Arteri Semarang

Lantas bagaimana para orang tua memenuhi kebutuhan biologisnya? Ketua RT 5/16 Tambakrejo, Rohmadi mengutarakan hal itu tergantung pandai-pandainya orang tua mengatur waktu dan kondisi.

“Kalau mau memenuhi hasrat itu ya pandai-pandainya kita kondisikan. Nyolong-nylong waktu sithik (curi-curi waktu sedikit),” ucap Rohmadi tersenyum. Bukan bermaksud tabu, namun kebutuhan biologis orang tua, apalagi yang masih cukup muda pasti tak terelakkan. Di sisi lain, mereka mengalami keterbatasan tempat.



Artinya, pendidikan seks bagi anak-anak begitu penting. Apalagi mereka tinggal di rumah bedeng, yang notabene menggunakan fasilitas umum seperti kamar mandi, toilet, tempat main, jemuran, dapur secara bersama-sama. Untuk memenuhi ratusan warga sebanyak itu, hanya ada sembilan kamar mandi di rumah bedeng di bawah jembatan arteri.

Meski masih anak-anak, namun mereka harus diberikan pengertian bahwa secara kodrat ada laki-laki dan perempuan. Masing-masing memiliki aurat yang tak boleh dilihat atau dipegang orang lain. Bahkan orang tua pun tak boleh memegang saat mereka dewasa kelak. Kecuali ada alasan tertentu, seperti sakit.

Hal itu mesti ditanamkan, jika tidak maka bisa saja ada kejadian bullying yang mengarah ke kekerasan seksual. Rohmadi pun kemudian mengajak anak-anak untuk bergabung di Tempat Pendidikan AlQuran (TPQ) di masjid yang berada di sekitar lokasi. Prosesnya memang panjang. Namun saat ini ada 120 santri yang tercatat.

Bermula dari pendidikan membaca Iqra (alif ba ta) kemudian berlanjut ke mendidik akidah dan norma-norma di kehidupan. Omongan kasar anak-anak mulai hilang, kata-kata umpatan juga tak lagi terdengar. "Kami bersyukur. Anak-anak sudah mapan. Ini harus kami jaga terus," ujarnya.
(shf)
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top