Kearifan Lokal Berbuah Zona Hijau
Sabtu, 18 Juli 2020 - 07:35 WIB
loading...
A
A
A
Namun selama pandemi, pihak TNBK menutup rapat kawasan tersebut. Begitu pun dengan Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS), yang menjadi destinasi wisata andalan Kabupaten Kapuas Hulu, juga ditutup rapat.
"Semua akses baik yang di TNDS maupun TNBK sementara ditutup. Walaupun sekarang Kapuas Hulu sudah menerapkan new normal, tapi kawasan masih ditutup," kata Kepala Balai Besar (Kababes) Taman Nasional Betung Kerihun & Danau Sentarum (TNBKDS) Arief Mahmud kepada KORAN SINDO. (Baca juga: Tanda Empati Saat Pandemi, 2.000 Es Krim Dikirim untuk Tenaga Medis)
Sementara itu, Leo, 45, warga Sungai Utik juga mengakui, sejak korona masyarakat di dusunnya menutup rapat akses dari orang luar. Padahal kampung Sungai Utik merupakan salah satu tempat wisata kampung yang selalu ramai dikunjungi masyarakat luar, bahkan wisatawan mancanegara. "Sementara masih tutup. Tapi informasinya akan dibuka. Tapi persisnya kapan dibuka, saya juga belum tahu," ujarnya.
Sejak pandemi corona melanda Indonesia hingga penerapan new normal, gerbang perbatasan di PLBN Badau, Kapuas Hulu, masih ditutup rapat. Tindakan ini sesuai kebijakan pemerintah Indonesia yang mengeluarkan protokol penanganan Covid-19, khususnya Protokol Pengawasan Perbatasan (PPP), yakni bandara, pelabuhan, dan PLBN. Hal yang sama juga berlaku di gerbang Pos Lintas Batas (PLB) Lubok Antu Serawak, Malaysia, yang juga ditutup rapat.
Yang menarik, saat KORAN SINDO berada di PLBN Badau, tiba-tiba ada serombongan pelajar dari Indonesia yang hendak melintas ke Malaysia. Rombongan pelajar yang diketahui bersekolah di Lubok Antu, Serawak itu, ternyata hari itu untuk pertama kalinya masuk sekolah. (Lihat videonya: Pemulung Bawa Uang Rp7Juta Hasil Jual Bansos Covid-19)
"Kalau rombongan pelajar ini kan memang guru-gurunya di Malaysia yang minta (datang dan masuk sekolah). Karena mereka yang minta dan permintaan tersebut sesuai kebutuhan kita di sini (pelajar Indonesia), ya kita tinggal meneruskan saja. Dan guru-gurunya itu juga menjemput di gerbang perbatasan Malaysia," ujar Agato.
Kasubid Pengembangan Kawasan PLBN Badau, Wendelinus Fanu menambahkan, selama masa pandemi hampir tidak ada sama sekali aktivitas pelintas di PLBN Badau. Begitu juga di Pos Lintas Negara (PLB) Lubok Antu, Serawak, Malaysia. Padahal sebelum ada pandemi, pelintas bisa mencapai 200 orang per hari, bahkan lebih.
Tak hanya aktivitas orang yang melintas, aktivitas angkutan umum terutama truk-truk pengangkut CPO (crude palm oil) yang biasanya ramai dari Indonesia ke Malaysia juga sudah distop. (Hendri Irawan)
"Semua akses baik yang di TNDS maupun TNBK sementara ditutup. Walaupun sekarang Kapuas Hulu sudah menerapkan new normal, tapi kawasan masih ditutup," kata Kepala Balai Besar (Kababes) Taman Nasional Betung Kerihun & Danau Sentarum (TNBKDS) Arief Mahmud kepada KORAN SINDO. (Baca juga: Tanda Empati Saat Pandemi, 2.000 Es Krim Dikirim untuk Tenaga Medis)
Sementara itu, Leo, 45, warga Sungai Utik juga mengakui, sejak korona masyarakat di dusunnya menutup rapat akses dari orang luar. Padahal kampung Sungai Utik merupakan salah satu tempat wisata kampung yang selalu ramai dikunjungi masyarakat luar, bahkan wisatawan mancanegara. "Sementara masih tutup. Tapi informasinya akan dibuka. Tapi persisnya kapan dibuka, saya juga belum tahu," ujarnya.
Sejak pandemi corona melanda Indonesia hingga penerapan new normal, gerbang perbatasan di PLBN Badau, Kapuas Hulu, masih ditutup rapat. Tindakan ini sesuai kebijakan pemerintah Indonesia yang mengeluarkan protokol penanganan Covid-19, khususnya Protokol Pengawasan Perbatasan (PPP), yakni bandara, pelabuhan, dan PLBN. Hal yang sama juga berlaku di gerbang Pos Lintas Batas (PLB) Lubok Antu Serawak, Malaysia, yang juga ditutup rapat.
Yang menarik, saat KORAN SINDO berada di PLBN Badau, tiba-tiba ada serombongan pelajar dari Indonesia yang hendak melintas ke Malaysia. Rombongan pelajar yang diketahui bersekolah di Lubok Antu, Serawak itu, ternyata hari itu untuk pertama kalinya masuk sekolah. (Lihat videonya: Pemulung Bawa Uang Rp7Juta Hasil Jual Bansos Covid-19)
"Kalau rombongan pelajar ini kan memang guru-gurunya di Malaysia yang minta (datang dan masuk sekolah). Karena mereka yang minta dan permintaan tersebut sesuai kebutuhan kita di sini (pelajar Indonesia), ya kita tinggal meneruskan saja. Dan guru-gurunya itu juga menjemput di gerbang perbatasan Malaysia," ujar Agato.
Kasubid Pengembangan Kawasan PLBN Badau, Wendelinus Fanu menambahkan, selama masa pandemi hampir tidak ada sama sekali aktivitas pelintas di PLBN Badau. Begitu juga di Pos Lintas Negara (PLB) Lubok Antu, Serawak, Malaysia. Padahal sebelum ada pandemi, pelintas bisa mencapai 200 orang per hari, bahkan lebih.
Tak hanya aktivitas orang yang melintas, aktivitas angkutan umum terutama truk-truk pengangkut CPO (crude palm oil) yang biasanya ramai dari Indonesia ke Malaysia juga sudah distop. (Hendri Irawan)
(ysw)
Lihat Juga :