Kearifan Lokal Berbuah Zona Hijau
Sabtu, 18 Juli 2020 - 07:35 WIB
loading...
A
A
A
"Hanya saja, setelah tiga bulan pandemi dan new normal diterapkan, dusun atau kampung-kampung yang tadinya ditutup kini sudah dibuka. Tapi tetap saja, namanya masih pandemi, ya orang luar yang berkunjung tetap tidak ada," kata Umpor (37) warga dusun Sadap, Kapuas Hulu saat berbincang kepada KORAN SINDO di PLBN Badau pekan lalu.
Aturan adat oleh masyarakat perbatasan diberlakukan sangat ketat. Bagi yang terbukti melanggar jangan harap bisa lolos dari hukuman denda. Ini berbeda dengan aturan protokol kesehatan pemerintah yang minim sanksi bagi yang melanggar. Besaran denda yang ditetapkan oleh dewan adat bermacam-macam, bisa mencapai Rp500.000 untuk setiap pelanggar.
"Setelah dilaporkan ke pemangku adat dan membayar denda, lalu kita serahkan ke polisi. Tapi itu berlaku saat awal-awal corona. Sekarang tidak lagi. Orang luar sudah boleh berkunjung, tapi tetap dengan menerapkan aturan kesehatan," ujar Umpor.
Ada alasan kuat di balik kebijakan menolak orang luar datang ke dusun-dusun di Kapuas Hulu, terutama ke rumah-rumah adat yang dihuni masyarakat suku Dayak. Menurut Umpor, rumah-rumah Betang (rumah panjang khas suku Dayak) dihuni banyak orang dan banyak kepala keluarga.
"Satu Rumah Betang bisa dihuni ratusan orang. Kalau satu terkena corona, kan bahaya. Bisa satu rumah terkena semua," kata Umpor. (Baca juga: Kemenkeu Perpanjang Bansos Corona Hingga Akhir Tahun)
Menutup kunjungan orang luar otomatis membawa dampak bagi masyarakat dusun. Salah satunya aktivitas ekonomi masyarakat menjadi lesu. Namun, hal tersebut harus dijalani. Umpor mengaku masyarakat lokal tidak terlalu merasakan kesusahan. Dengan berdiam di rumah malah dia merasa lebih nyaman dan aman.
"Jika keluar rumah, paling ke ladang, cari ikan di sungai. Kalau belanja barang kebutuhan juga tak banyak, secukupnya saja. Kita kan sudah biasa ‘belanja’ di hutan. Bagi kami orang Dayak, hutan itu ibarat supermarket. Apa yang kami butuhkan, kami cari di sana," kata Umpor tersenyum.
Dusun Sadap merupakan salah satu akses atau daerah terakhir untuk menuju ke Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK), di Kabupaten Kapuas Hulu. Karena menjadi akses menuju ke TNBK, tak heran jika banyak orang luar bahkan wisatawan mancanegara yang berkunjung ke dusun ini.
Aturan adat oleh masyarakat perbatasan diberlakukan sangat ketat. Bagi yang terbukti melanggar jangan harap bisa lolos dari hukuman denda. Ini berbeda dengan aturan protokol kesehatan pemerintah yang minim sanksi bagi yang melanggar. Besaran denda yang ditetapkan oleh dewan adat bermacam-macam, bisa mencapai Rp500.000 untuk setiap pelanggar.
"Setelah dilaporkan ke pemangku adat dan membayar denda, lalu kita serahkan ke polisi. Tapi itu berlaku saat awal-awal corona. Sekarang tidak lagi. Orang luar sudah boleh berkunjung, tapi tetap dengan menerapkan aturan kesehatan," ujar Umpor.
Ada alasan kuat di balik kebijakan menolak orang luar datang ke dusun-dusun di Kapuas Hulu, terutama ke rumah-rumah adat yang dihuni masyarakat suku Dayak. Menurut Umpor, rumah-rumah Betang (rumah panjang khas suku Dayak) dihuni banyak orang dan banyak kepala keluarga.
"Satu Rumah Betang bisa dihuni ratusan orang. Kalau satu terkena corona, kan bahaya. Bisa satu rumah terkena semua," kata Umpor. (Baca juga: Kemenkeu Perpanjang Bansos Corona Hingga Akhir Tahun)
Menutup kunjungan orang luar otomatis membawa dampak bagi masyarakat dusun. Salah satunya aktivitas ekonomi masyarakat menjadi lesu. Namun, hal tersebut harus dijalani. Umpor mengaku masyarakat lokal tidak terlalu merasakan kesusahan. Dengan berdiam di rumah malah dia merasa lebih nyaman dan aman.
"Jika keluar rumah, paling ke ladang, cari ikan di sungai. Kalau belanja barang kebutuhan juga tak banyak, secukupnya saja. Kita kan sudah biasa ‘belanja’ di hutan. Bagi kami orang Dayak, hutan itu ibarat supermarket. Apa yang kami butuhkan, kami cari di sana," kata Umpor tersenyum.
Dusun Sadap merupakan salah satu akses atau daerah terakhir untuk menuju ke Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK), di Kabupaten Kapuas Hulu. Karena menjadi akses menuju ke TNBK, tak heran jika banyak orang luar bahkan wisatawan mancanegara yang berkunjung ke dusun ini.
Lihat Juga :