Pilwali Surabaya Dimasa Pandemi, Ini Peringatan Dokter Sukma
Jum'at, 17 Juli 2020 - 09:41 WIB
loading...
Pilwali Surabaya bakal dilaksanakan pada 9 Desember 2020. Foto/SINDOnews/Ali Masduki
A
A
A
SURABAYA - Pandemi COVID-19 belum kunjung mereda, termasuk di Kota Surabaya. Bahkan Kota Pahlawan ini masuk zona merah karena tingginya jumlah warga yang positif COVID-19. Masyarakat Kota Surabaya menyimpan kekhawatiran, terkait pelaksanaan Pilwali Surabaya 9 Desember 2020.
(Baca juga: Wanita Aceh Selatan Ini Menitikkan Air Mata Saat Dihukum Cambuk )
Sukma Sahadewa, Ketua Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Kota Surabaya, mengingatkan pentingnya sejak dini Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Surabaya, mempersiapkan protokol kesehatan. Sebab potensi penularan COVID-19 di Kota Surabaya, masih tinggi.
"Kalau melihat kurvanya, COVID-19 di Surabaya masih tinggi. Karena protokol kesehatan harus dilaksanakan secara ketat dalam setiap tahapan pilwali. Tidak saja kepada petugas pemilu tapi juga bagi masyarakat sebagai pemilih. Ini penting untuk menghindari potensi klaster baru," ujar Sukma dalam webinar Forkom Jurnalis Nahdliyin, dengan tema Pilwali Surabaya Di Tengah Pandemi COVID-19, Amankah ?.
(Baca juga: Banjir Masih Genangi Kota Sorong Hingga Jumat (17/7/2020) Pagi )
Sukma menilai, kalau melihat kondisi saat ini, melaksanakan kegiatan yang menimbulkan kerumunan sangat tidak aman. Apalagi tahapan pilwali yang melibatkan orang banyak, mulai kampanye hingga pencoblosan dan penghitungan suara.
Pihaknya berharap ada pendampingan dan pengawasan dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Gugus Tugas COVID-19 mau pun BPBD dalam setiap tahapan Pilwali Surabaya. Institusi ini nntinya yang menjadi supervisi dalam pelaksanaan protokol kesehatan sehinhga bisa meminimalisir potensi penularan.
(Baca juga: Wanita Aceh Selatan Ini Menitikkan Air Mata Saat Dihukum Cambuk )
Sukma Sahadewa, Ketua Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Kota Surabaya, mengingatkan pentingnya sejak dini Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Surabaya, mempersiapkan protokol kesehatan. Sebab potensi penularan COVID-19 di Kota Surabaya, masih tinggi.
"Kalau melihat kurvanya, COVID-19 di Surabaya masih tinggi. Karena protokol kesehatan harus dilaksanakan secara ketat dalam setiap tahapan pilwali. Tidak saja kepada petugas pemilu tapi juga bagi masyarakat sebagai pemilih. Ini penting untuk menghindari potensi klaster baru," ujar Sukma dalam webinar Forkom Jurnalis Nahdliyin, dengan tema Pilwali Surabaya Di Tengah Pandemi COVID-19, Amankah ?.
(Baca juga: Banjir Masih Genangi Kota Sorong Hingga Jumat (17/7/2020) Pagi )
Sukma menilai, kalau melihat kondisi saat ini, melaksanakan kegiatan yang menimbulkan kerumunan sangat tidak aman. Apalagi tahapan pilwali yang melibatkan orang banyak, mulai kampanye hingga pencoblosan dan penghitungan suara.
Pihaknya berharap ada pendampingan dan pengawasan dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Gugus Tugas COVID-19 mau pun BPBD dalam setiap tahapan Pilwali Surabaya. Institusi ini nntinya yang menjadi supervisi dalam pelaksanaan protokol kesehatan sehinhga bisa meminimalisir potensi penularan.
Lihat Juga :