Cikal Bakal Munculnya Pemuda Hitler dari Sekolah Jerman Sarangan Magetan
Sabtu, 24 Desember 2022 - 13:31 WIB
Baca juga: Kisah Kyai dan Nyai Pasir, Sepasang Naga yang Membentuk Telaga Sarangan
Anak laki-laki diketahui cenderung liar. Mereka tidak lagi memiliki hasrat untuk tunduk patuh pada aturan sekolah yang ketat. Sementara anak-anak perempuan hanya menghabiskan waktu membantu ibu mereka mengurus rumah.
“Pada awal 1943, lebih dari 350 warga Jerman, termasuk 175 anak usia sekolah, tiba di Sarangan dari segala penjuru Hindia Belanda,” kata Horst H. Geerken.
Sekolah Jerman di Sarangan Magetan menerapkan disiplin ketat. Para siswa rutin berlatih baris-berbaris mengelilingi Telaga Sarangan sambil menyanyikan lagu-lagu mars. Yakni lagu gerakan kaum muda Jerman, Jungvolk dan di sinilah organisasi Pemuda Hitler lahir di Hindia Belanda.
Para guru juga mendisiplinkan bahasa kepada seluruh siswa. Sebelum menerima mata pelajaran, mereka diwajibkan belajar bahasa Jerman dengan benar. Bahasa Jepang menjadi bahasa asing pertama sejak awal berdirinya sekolah. Selain itu adalah bahasa Inggris,Perancis dan Latin.
“Sebab hampir semua anak-anak tersebut, lelaki dan perempuan, yang lahir di Nusantara berbicara dalam bahasa Jerman yang tercampur dengan kata-kata Belanda dan Melayu,” kata Horst H. Geerken.
Sekolah Jerman di Sarangan Magetan berlangsung 6 hari dalam seminggu dengan olah raga 3 kali dalam seminggu. Karena tak ada bioskop dan fasilitas hiburan lain, sekolah membentuk kelompok musik, olah raga dan yoga.
Jepang terlibat aktif dalam pembentukan kurikulum dan perencanaan lain untuk sekolah Jerman di Sarangan Magetan. Dalam Jejak Hitler di Indonesia, Hardy Zollner eks siswa sekolah Jerman di Sarangan Magetan, menyebut para pelajar menerima pelajaran sejarah, biologi, geometri, fisika, kimia, agama dan lain-lain.
Setiap anak diwajibkan menulis dengan huruf latin yang diperkenalkan di Jerman sejak tahun 1941. Sejumlah siswa bahkan mampu menulis bahasa Jerman Sutterlin, yakni bahasa Jerman yang dipakai pada ke-16.
Anak laki-laki diketahui cenderung liar. Mereka tidak lagi memiliki hasrat untuk tunduk patuh pada aturan sekolah yang ketat. Sementara anak-anak perempuan hanya menghabiskan waktu membantu ibu mereka mengurus rumah.
“Pada awal 1943, lebih dari 350 warga Jerman, termasuk 175 anak usia sekolah, tiba di Sarangan dari segala penjuru Hindia Belanda,” kata Horst H. Geerken.
Sekolah Jerman di Sarangan Magetan menerapkan disiplin ketat. Para siswa rutin berlatih baris-berbaris mengelilingi Telaga Sarangan sambil menyanyikan lagu-lagu mars. Yakni lagu gerakan kaum muda Jerman, Jungvolk dan di sinilah organisasi Pemuda Hitler lahir di Hindia Belanda.
Para guru juga mendisiplinkan bahasa kepada seluruh siswa. Sebelum menerima mata pelajaran, mereka diwajibkan belajar bahasa Jerman dengan benar. Bahasa Jepang menjadi bahasa asing pertama sejak awal berdirinya sekolah. Selain itu adalah bahasa Inggris,Perancis dan Latin.
“Sebab hampir semua anak-anak tersebut, lelaki dan perempuan, yang lahir di Nusantara berbicara dalam bahasa Jerman yang tercampur dengan kata-kata Belanda dan Melayu,” kata Horst H. Geerken.
Sekolah Jerman di Sarangan Magetan berlangsung 6 hari dalam seminggu dengan olah raga 3 kali dalam seminggu. Karena tak ada bioskop dan fasilitas hiburan lain, sekolah membentuk kelompok musik, olah raga dan yoga.
Jepang terlibat aktif dalam pembentukan kurikulum dan perencanaan lain untuk sekolah Jerman di Sarangan Magetan. Dalam Jejak Hitler di Indonesia, Hardy Zollner eks siswa sekolah Jerman di Sarangan Magetan, menyebut para pelajar menerima pelajaran sejarah, biologi, geometri, fisika, kimia, agama dan lain-lain.
Setiap anak diwajibkan menulis dengan huruf latin yang diperkenalkan di Jerman sejak tahun 1941. Sejumlah siswa bahkan mampu menulis bahasa Jerman Sutterlin, yakni bahasa Jerman yang dipakai pada ke-16.
Lihat Juga :