Miris, SMP di Kaki Gunung Argopuro Ini Hanya Miliki Lima Siswa
Minggu, 22 Desember 2024 - 13:26 WIB
loading...
Danramil 0824 Tanggul Kapten Infanteri Abdul Muntolib mengajar SMP di Dusun Gondang, Desa Darungan, Kecamatan Tanggul, Jember yang hanya memiliki 5 siswa. FOTO/BAMBANG SUGIARTO
A
A
A
JEMBER - Di Dusun Gondang, Desa Darungan, Kecamatan Tanggul, Jember , terdapat sebuah kisah tentang semangat pendidikan di tengah keterbatasan. Di sebuah desa terpencil di kaki Gunung Argopuro, berdiri sebuah SMP terbuka yang hanya memiliki lima siswa. Meski sederhana, sekolah ini menjadi simbol harapan dan tekad untuk melawan putus sekolah.
Jarak 12 kilometer dari desa ke SMP di kota kecamatan menjadi penghalang utama. Akses jalan yang rusak dan kondisi geografis yang sulit membuat banyak orang tua memilih untuk tidak menyekolahkan anak-anak mereka ke jenjang SMP. Bahkan, selepas SD, banyak anak terpaksa berhenti sekolah.
Namun, keadaan ini berubah berkat inisiatif Kapten Infanteri Abdul Muntolib, Danramil 0824 Tanggul. Ia merasa iba melihat anak-anak di desa itu tidak bisa melanjutkan pendidikan karena alasan geografis dan ekonomi. Dengan tekad kuat, ia mendirikan SMP terbuka di Dusun Gondang.
Bangunan SD satu-satunya di desa menjadi tempat belajar bagi siswa SMP terbuka. Karena keterbatasan fasilitas, proses belajar mengajar dilakukan pada sore hari, setelah siswa membantu pekerjaan orang tua mereka di rumah atau kebun, dan setelah siswa SD selesai menggunakan bangunan tersebut.
Jarak 12 kilometer dari desa ke SMP di kota kecamatan menjadi penghalang utama. Akses jalan yang rusak dan kondisi geografis yang sulit membuat banyak orang tua memilih untuk tidak menyekolahkan anak-anak mereka ke jenjang SMP. Bahkan, selepas SD, banyak anak terpaksa berhenti sekolah.
Namun, keadaan ini berubah berkat inisiatif Kapten Infanteri Abdul Muntolib, Danramil 0824 Tanggul. Ia merasa iba melihat anak-anak di desa itu tidak bisa melanjutkan pendidikan karena alasan geografis dan ekonomi. Dengan tekad kuat, ia mendirikan SMP terbuka di Dusun Gondang.
Bangunan SD satu-satunya di desa menjadi tempat belajar bagi siswa SMP terbuka. Karena keterbatasan fasilitas, proses belajar mengajar dilakukan pada sore hari, setelah siswa membantu pekerjaan orang tua mereka di rumah atau kebun, dan setelah siswa SD selesai menggunakan bangunan tersebut.
Lihat Juga :