Cegah Kepunahan, BKSDA Sulut Ajak Masyarakat Tak Konsumsi Satwa Liar
Kamis, 10 November 2022 - 14:12 WIB
loading...
BKSDA Sulut, ajak masyarakat untuk tidak mengkonsumsi stwa liar. Foto/Ilustrasi/Ist.
A
A
A
MANADO - Berbagai upaya mencegah kepunahan satwa liar di alam, terus dilakukan Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Utara (Sulut). Salah satunya, dengan mengajak masyarakat tidak lagi mengkonsumsi satwa liar.
Baca juga: Petugas Kapal Pelni Gagalkan Penyelundupan Satwa Liar dari Papua
Ajakan untuk tidak mengkonsumsi satwa liar ini, ditegaskan Kepala BKSDA Sulut, Askhari Dg. Masikki. "Memang memerlukan peran semua pihak, termasuk di dalamnya peran pemerintah daerah, untuk mengimbau masyarakat tidak mengonsumsi satwa liar," tegasnya.
Lebih lanjut Askhari mengatakan, upaya lain untuk mencegah penurunan populasi satwa liar dan kepunahan, adalah dengan melakukan penangkaran. Di mana induk diambil di alam, kemudian diberikan kesempatan kepada masyarakat untuk memeliharanya.
Baca juga: Kampung Jagir, Revolusi Karya Melawan Binasa
Nantinya setelah dilakukan penangkaran, kata dia, hasilnya yang dapat dikonsumsi oleh masyarakat. "Ini yang sudah kita lakukan. Memang ada anggapan daging satwa yang ditangkarkan bila dibandingkan dengan yang ada di alam liar rasanya beda, tapi itu hanya soal rasa," katanya.
Baca juga: Petugas Kapal Pelni Gagalkan Penyelundupan Satwa Liar dari Papua
Ajakan untuk tidak mengkonsumsi satwa liar ini, ditegaskan Kepala BKSDA Sulut, Askhari Dg. Masikki. "Memang memerlukan peran semua pihak, termasuk di dalamnya peran pemerintah daerah, untuk mengimbau masyarakat tidak mengonsumsi satwa liar," tegasnya.
Lebih lanjut Askhari mengatakan, upaya lain untuk mencegah penurunan populasi satwa liar dan kepunahan, adalah dengan melakukan penangkaran. Di mana induk diambil di alam, kemudian diberikan kesempatan kepada masyarakat untuk memeliharanya.
Baca juga: Kampung Jagir, Revolusi Karya Melawan Binasa
Nantinya setelah dilakukan penangkaran, kata dia, hasilnya yang dapat dikonsumsi oleh masyarakat. "Ini yang sudah kita lakukan. Memang ada anggapan daging satwa yang ditangkarkan bila dibandingkan dengan yang ada di alam liar rasanya beda, tapi itu hanya soal rasa," katanya.
Lihat Juga :