200 Ton Kopi Jatim Diekspor ke Mesir, Nilainya Rp6,1 Miliar

Kamis, 27 Oktober 2022 - 07:45 WIB
loading...
200 Ton Kopi Jatim Diekspor ke Mesir, Nilainya Rp6,1 Miliar
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur (Jatim) melakukan ekspor 200 ton kopi dengan merek Javeast Coffe ke Mesir senilai Rp6,1 miliar. Foto/SINDOnews/Lukman Hakim
A A A
JEMBER - Kopi dari sejumlah daerah di Jatim, diekspor ke Mesir. Tak tanggung-tanggung, ekspor perdana yang menggunakan merek Javeast Coffe tersebut, jumlahnya mencapai 200 ton, dengan nilai ekspor mencapai Rp6,1 miliar.

Baca juga: Gara-gara Inflasi Meroket, Perilaku Ngopi Diprediksi Berubah dari Kafe ke Rumah

Biji kopi yang diekspor, merupakan hasil skema communal branding dari beberapa daerah seperti Jember, Madiun dan Jombang. Ekspor kopi tersebut dilepas Plt Asisten Perekonomian dan Pembangunan Pemprov Jatim, Jumadi, dan Kepala Dinas Koperasi (Dinkop) dan UKM Jatim, Andromeda Qomariah.



Bersama acara tersebut, juga dilakukan peluncuran Communal Branding Menuju Desa Devisa di Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember. Pada tahap pertama, kopi yang diekspor sebanyak 18 ton. Sisanya akan diekspor bertahap hingga 200 ton dengan total nilai ekspor lebih dari Rp6,1 miliar.

Baca juga: Banjir Terjang Mamuju Tengah, Belasan Rumah Terendam

Kepala Dinkop dan UKM Jatim, Andromeda Qomariah mengatakan, komoditas kopi dengan merek Javeast Coffe hasil communal branding tersebut, adalah yang pertama di Indonesia. Communal branding merupakan program satu merek yang dimanfaatkan oleh banyak pelaku usaha. Program ini untuk meningkatkan kinerja pelaku usaha.

"Communal branding menjadi solusi untuk menjawab 4 K yang selama ini menjadi kendala koperasi dan UKM, yakni kualitas, kuantitas, kontinuitas, dan kemasan. Communal branding mendorong terwujudnya desa devisa, dengan memprioritaskan wilayah yang memiliki produk unggulan," ujar Andromeda, Rabu (26/10/2022).

Komoditas kopi merek Javeast Coffe hasil communal branding berasal dari petani kopi dari koperasi di tiga desa, pada tiga kabupaten yaitu Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember; Desa Wonosalam, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang; serta Desa Kare, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun.

Baca juga: Tren Penumpang LRT Sumsel Meningkat, Sehari Angkut 9.666 Orang

Plt Asisten Perekonomian dan Pembangunan Pemprov Jatim, Jumadi menambahkan, skema communal branding adalah terobosan baru dari Pemprov Jatim, untuk menjawab masalah kontinuitas produk. Sebab persediaan produk akan ditopang oleh lebih dari satu pelaku usaha. "Untuk perdana masih komoditas kopi, selanjutnya pada tahun 2024 akan dikembangkan untuk komoditas lain seperti rempah hingga gula merah," jelasnya.

Jatim merupakan produsen terbesar kopi ke-5 di Indonesia setelah Sumatera Selatan, Lampung, Sumatera Utara, dan Aceh. Jumlah produksi kopi Jatim mencapai 9,7 persen dari total kopi Indonesia dari luas tanam perkebunan pada 2021 yang mencapai 113,470 hektare dengan produksi 69.570 ton.

Data Gabungan Eksportir Kopi Indonesia (GAEKI), ekspor kopi Jatim sepanjang Januari-Juli 2021 secara volume telah mencapai 44.992 ton dengan nilai USD90,29 juta. Dari total ekspor tersebut, sebanyak 1.805 ton di antaranya merupakan kopi jenis Arabika, 30.832 ton jenis Robusta, dan sebanyak 12.283 ton merupakan kopi olahan.
(eyt)
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.2124 seconds (11.252#12.26)