Guru Besar Ubaya Jawab Strategi Manufaktur Hadapi Tantangan Pandemi Covid-19
Sabtu, 27 Juni 2020 - 14:58 WIB
loading...
A
A
A
Sedangkan mengenai tranformation mengacu pada transformasi digital yang telah ada di dalam pabrik dan seluruh ekosistem manufaktur. Selanjutnya, perusahaan memandang investment dalam fasilitas, teknologi dan departemen Research and Development (R&D) sebagai sarana utama dalam meningkatkan kemampuan manufaktur.
Sedangkan revolusi industri 4.0, Internet of Things (IoT), dan smart factory mulai berjalan namun adopsi terkait transformasi digital cenderung belum merata dan lambat dalam pembuatannya.
“Kita juga harus melihat strategi manufaktur sebelum, sesudah, dan setelah pandemi. Terdapat strategi yang dapat dilakukan untuk memulihkan kondisi manufaktur melalui short, medium, dan long-term strategies,” ungkap Joni.
Pada short-term strategies selama dan setelah pandemi maka manufaktur dapat mendukung perusahaan untuk bertahan hidup dengan atau tanpa dukungan atau perlindungan pemerintah. Pertama, mengganti jalur produksi dengan memproduksi critical product atau high demand.
Kedua, produsen mencari cara untuk memastikan kontinuitas produksi dengan cepat dan memperkenalkan fleksibilitas. Ketiga, manufaktur tetap mengharuskan orang berada di lokasi dengan jumlah terbatas seperti operator dan staf pemeliharaan mesin.
Di samping itu, vendor dan kontraktor eksternal juga memerlukan akses situs untuk menyediakan layanan dan membantu mendukung sebagian besar operasi perusahaan.
(Baca juga: Tekan Kasus Covid-19 di Jatim, Ini Langkah Gubernur Khofifah )
Kemudian keempat, manufaktur disarankan berkolaborasi dengan lebih banyak penjual secara daring untuk memenuhi online demand. Kelima, beberapa perusahaan yang memproduksi barang seperti personal care, kertas, dan obat-obatan harus berjuang untuk memenuhi permintaan akibat panic buying. Sedangkan yang lain mengalami penurunan permintaan sehingga terjadi tekanan ekstrem untuk memangkas biaya operasional.
Sedangkan revolusi industri 4.0, Internet of Things (IoT), dan smart factory mulai berjalan namun adopsi terkait transformasi digital cenderung belum merata dan lambat dalam pembuatannya.
“Kita juga harus melihat strategi manufaktur sebelum, sesudah, dan setelah pandemi. Terdapat strategi yang dapat dilakukan untuk memulihkan kondisi manufaktur melalui short, medium, dan long-term strategies,” ungkap Joni.
Pada short-term strategies selama dan setelah pandemi maka manufaktur dapat mendukung perusahaan untuk bertahan hidup dengan atau tanpa dukungan atau perlindungan pemerintah. Pertama, mengganti jalur produksi dengan memproduksi critical product atau high demand.
Kedua, produsen mencari cara untuk memastikan kontinuitas produksi dengan cepat dan memperkenalkan fleksibilitas. Ketiga, manufaktur tetap mengharuskan orang berada di lokasi dengan jumlah terbatas seperti operator dan staf pemeliharaan mesin.
Di samping itu, vendor dan kontraktor eksternal juga memerlukan akses situs untuk menyediakan layanan dan membantu mendukung sebagian besar operasi perusahaan.
(Baca juga: Tekan Kasus Covid-19 di Jatim, Ini Langkah Gubernur Khofifah )
Kemudian keempat, manufaktur disarankan berkolaborasi dengan lebih banyak penjual secara daring untuk memenuhi online demand. Kelima, beberapa perusahaan yang memproduksi barang seperti personal care, kertas, dan obat-obatan harus berjuang untuk memenuhi permintaan akibat panic buying. Sedangkan yang lain mengalami penurunan permintaan sehingga terjadi tekanan ekstrem untuk memangkas biaya operasional.
Lihat Juga :