alexametrics

BPPTKG Pastikan Gempa 5 SR Tak Terkait Aktivitas Gunung Merapi

loading...
BPPTKG Pastikan Gempa 5 SR Tak Terkait Aktivitas Gunung Merapi
BPPTKG memastikan gempa 5 SR di barat daya Pacitan tak terkait aktivitas Gunung Merapi. Tampak maket Gunung Merapi dilihat dari atas. FOTO: SINDOnews/Ainun Najib
A+ A-
YOGYAKARTA - Warga DIY dikejutkan dengan aktivitas alam berupa erupsi eksplosif Gunung Merapi pada Minggu (21/6/2020) dan juga gempa bumi dengan kekuatan 5 SR yang terjadi dini hari tadi (22/6/2020) sekira pukul 02.33 WIB.

Namun demikian Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) memastikan gempa bumi di barat Daya Pacitan tersebut tidak ada kaitannya dengan aktivitas yang terjadi di Gunung Merapi.

Kepala BPPTKG Hanik Humaida mengatakan, dua peristiwa tersebut merupakan peristiwa yang berbeda. Letusan eksplosif Merapi yang terjadi pada Minggu (21/6/2020) merupakan aktivitas vulkanik karena suplai magma dari dapur magna masih terus terjadi.

"Saat ini erupsi Merapi masih merupakan erupsi kecil dengan tingkat ekplosivitas yang rendah. Ini tidak ada kaitannya dengan gempa bumi dini hari tadi," terangnya kepada SINDOnews, Senin (22/6/2020).(Baca juga : Gempa 5 SR di Pacitan, Warga Gunungkidul DIY Panik Berhamburan Keluar Rumah)



Dia berharap masyarakat tetap tenang dengan aktivitas Gunung Merapi. Hal ini merupakan kejadian yang berbeda dengan gempa bumi yang membangunkan warga karena kekuatan yang mencapai 5 skala richter (SR).

Hanik melanjutkan letusan eksplosif yang terjadi pada Minggu (21/6 /2020) ini merupakan letusan ke - 15 kali sejak tahun 2019 lalu. Sedangkan tahun ini merupakan letusan ke - 11 kalinya.



"Berdasarkan catatan kejadian-kejadian letusan hingga saat ini, diketahui bahwa letusan eksplosif dapat terjadi secara baik tiba-tiba tanpa ada tanda - tanda atau dapat didahului oleh peningkatan aktivitas vulkanik," bebernya.

Dilanjutkannya, aktivitas vulkanik sebelum letusan terjadi bentuknya beragam dan tidak konsisten. Dengan demikian, tidak dapat dijadikan indikator akan terjadinya letusan eksplosif. Namun demikian terjadinya peningkatan aktivitas vulkanik bisa meningkatkan peluang terjadinya letusan eksplosif.

Hanik melanjutkan, sebelum letusan eksplosif yang terjadi kemarin, telah terjadi peningkatan kegempaan sejak tanggal 8 Juni 2020 lalu. Kegempaan ini didominasi peningkatan jumlah gempa vulkano-tektonik dalam (VTA).

Pada tanggal 20 Juni 2020, pihaknya mencatat jumlah gempa VTA mencapai 18 kali. Dalam periode tanggal 8-20 Juni 2020, telah terjadi gempa VTA sebanyak 80 kali.

"Peningkatan gempa VTA sebelumnya terjadi pada Oktober 2019 sampai dengan Januari 2020 dengan energi yang lebih besar, namun tidak diiringi dengan letusan.

Kejadian letusan semacam ini masih dapat terus terjadi. Bersama dengan munculnya gempa VTA sejak Oktober 2019, letusan-letusan eksplosif ini sebagai indikasi bahwa suplai magma dari dapur magma masih berlangsung.

"Ancaman bahaya sampai dengan saat ini masih sama yaitu berupa awanpanas dan lontaran material vulkanik dengan jangkauan sampai 3 Km berdasarkan volume kubah yang sebesar 200.000 m3 berdasarkan data drone 13 Juni 2020," pungkasnya.
(nun)
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak