Zero Kasus Empat Bulan, Kasus Covid-19 Kembali Meningkat di Maros
Senin, 07 Februari 2022 - 13:54 WIB
loading...
Kepala Dinas Kesehatan Maros, dr Muhammad Yunus. Foto: SINDOnews/Najmi Limonu
A
A
A
MAROS - Setelah sempat zero kasus Covid-19 selama hampir empat bulan, Kabupaten Maros kembali mencatat adanya jumlah kasus Covid-19 bulan ini. Tercatat sejak awal Februari, sudah ada sekitar 19 kasus Covid-19.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Maros, dr Muhammad Yunus menjelaskan, penambahan kasus terjadi hanya dalam kurun waktu lima hari terakhir.
Baca juga:Lawan Varian Omicron, Vaksinasi Booster Dimulai di Maros
"Penambahan 19 kasus Covid-19 ini terjadi lima hari terakhir. Kasus Covid-19 ini kembali muncul setelah kita mengumumkan zero kasus, 30 Oktober 2021 kemarin," sebutnya.
Dia menambahkan, 19 kasus aktif tersebut tersebar di tujuh kecamatan. Kasus tertinggi ada di Kecamatan Mandai, Marusu dan Tanralili. Sementara kasus terendah berada di Turikale, Simbang dan Lau dengan jumlah kasus masing-masing satu orang.
" Kasus tertinggi berada di Kecamatan Mandai, tujuh orang, Marusu empat orang, Tanralili tiga orang. Sementara Bantimurung terdapat dua kasus. Kalau yang paling rendah berada di Turikale, Simbang dan Lau dengan masing-masing satu kasus," sebutnya.
Dia mengatakan sebagian besar pasien positif tertular Covid-19 di tempat kerja. Dari 19 kasus Covid-19 yang ada di Kabupaten Maros, 18 di antaranya menjalani isolasi mandiri, sementara satu kasus menjalani perawatan di RS Bhayangkara, Makassar.
Baca juga:Bupati Maros Siapkan 2 Orang Setiap Kecamatan Kerja ke Luar Negeri
"Klasternya itu rata-rata pekerja di Makassar. Hampir semua yang terkonfirmasi positif itu bekerja di Makassar namun ber-KTP Maros," tambahnya.
Meski terjadi lonjakan kasus Covid-19 di Maros bersamaan dengan mewabahnya kasus Covid-19 varian Omicron, namun mantan Kepala Puskesmas Bantimurung ini enggan berspekulasi mengatakan itu merupakan varian Omincron. Dengan tegas dia mengatakan, 19 pasien tersebut terjangkit Covid-19 varian Delta.
"Semua kasus aktif masih varian Delta. Itu terlihat dari hasil PCR yang dilakukan, tak ada pasien yang menunjukkan gejala Omicron," jelasnya.
Apabila telihat ada gejala Omicron lanjut Yunus, barulah pihaknya akan melakukan pemeriksaan sampel lanjutan di Jakarta.
Baca juga:Cegah Peningkatan Covid-19, Wawali Desak Akselerasi Vaksinasi Dosis Kedua
"Untuk menindaklanjuti pemeriksaan Omicron, itu setelah dilakukan pemeriksaan PCR. Jika hasilnya ternyata ada gejala Omicron, barulah diambil sampel untuk dilakukan pemeriksaan khusus varian Omicron," sebutnya.
Yunus menjelaskan, pemeriksaan khusus varian Omicron ditujukan kepada pasien tertentu. "Saat ini, pemeriksaan varian Omicron hanya ditujukan untuk pelaku perjalanan luar negeri atau pasien yang memiliki riwayat kontak dengan pelaku perjalanan luar negeri atau kontak dengan pasien terkonfirmasi Omicron," sebutnya.
Dia menyebutkan, proses pemeriksaan khusus Omicron baru bisa dilaksanakan apabila hasil-hasil pemeriksaan SGTF positif.
"Kalau ada spesimen masuk di lab, kemudian hasilnya positif, dilanjutkan pemeriksaan SGTF. klo SGTF positif artinya probable O micron, kemudian dilanjutkan pemeriksaan WGSnya buat menentukan apa dia Omicron atau bukan," terangnya.
Baca juga:Pejabat Polres Bulukumba Ramai-ramai Jalani Vaksinasi Booster
Mengenai upaya dalam rangka menekan angka terkonfirmasi Covid-19 ini, maka pihak Dinas Kesehatan Maros akan gencar melakukan pemeriksaan 3T.
"Kami dari satgas saat ini sedang memperkuat 3T, tracing, testing dan treatment sesuai instruksi Mendagri No 7 tahun 2022," tutupnya.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Maros, dr Muhammad Yunus menjelaskan, penambahan kasus terjadi hanya dalam kurun waktu lima hari terakhir.
Baca juga:Lawan Varian Omicron, Vaksinasi Booster Dimulai di Maros
"Penambahan 19 kasus Covid-19 ini terjadi lima hari terakhir. Kasus Covid-19 ini kembali muncul setelah kita mengumumkan zero kasus, 30 Oktober 2021 kemarin," sebutnya.
Dia menambahkan, 19 kasus aktif tersebut tersebar di tujuh kecamatan. Kasus tertinggi ada di Kecamatan Mandai, Marusu dan Tanralili. Sementara kasus terendah berada di Turikale, Simbang dan Lau dengan jumlah kasus masing-masing satu orang.
" Kasus tertinggi berada di Kecamatan Mandai, tujuh orang, Marusu empat orang, Tanralili tiga orang. Sementara Bantimurung terdapat dua kasus. Kalau yang paling rendah berada di Turikale, Simbang dan Lau dengan masing-masing satu kasus," sebutnya.
Dia mengatakan sebagian besar pasien positif tertular Covid-19 di tempat kerja. Dari 19 kasus Covid-19 yang ada di Kabupaten Maros, 18 di antaranya menjalani isolasi mandiri, sementara satu kasus menjalani perawatan di RS Bhayangkara, Makassar.
Baca juga:Bupati Maros Siapkan 2 Orang Setiap Kecamatan Kerja ke Luar Negeri
"Klasternya itu rata-rata pekerja di Makassar. Hampir semua yang terkonfirmasi positif itu bekerja di Makassar namun ber-KTP Maros," tambahnya.
Meski terjadi lonjakan kasus Covid-19 di Maros bersamaan dengan mewabahnya kasus Covid-19 varian Omicron, namun mantan Kepala Puskesmas Bantimurung ini enggan berspekulasi mengatakan itu merupakan varian Omincron. Dengan tegas dia mengatakan, 19 pasien tersebut terjangkit Covid-19 varian Delta.
"Semua kasus aktif masih varian Delta. Itu terlihat dari hasil PCR yang dilakukan, tak ada pasien yang menunjukkan gejala Omicron," jelasnya.
Apabila telihat ada gejala Omicron lanjut Yunus, barulah pihaknya akan melakukan pemeriksaan sampel lanjutan di Jakarta.
Baca juga:Cegah Peningkatan Covid-19, Wawali Desak Akselerasi Vaksinasi Dosis Kedua
"Untuk menindaklanjuti pemeriksaan Omicron, itu setelah dilakukan pemeriksaan PCR. Jika hasilnya ternyata ada gejala Omicron, barulah diambil sampel untuk dilakukan pemeriksaan khusus varian Omicron," sebutnya.
Yunus menjelaskan, pemeriksaan khusus varian Omicron ditujukan kepada pasien tertentu. "Saat ini, pemeriksaan varian Omicron hanya ditujukan untuk pelaku perjalanan luar negeri atau pasien yang memiliki riwayat kontak dengan pelaku perjalanan luar negeri atau kontak dengan pasien terkonfirmasi Omicron," sebutnya.
Dia menyebutkan, proses pemeriksaan khusus Omicron baru bisa dilaksanakan apabila hasil-hasil pemeriksaan SGTF positif.
"Kalau ada spesimen masuk di lab, kemudian hasilnya positif, dilanjutkan pemeriksaan SGTF. klo SGTF positif artinya probable O micron, kemudian dilanjutkan pemeriksaan WGSnya buat menentukan apa dia Omicron atau bukan," terangnya.
Baca juga:Pejabat Polres Bulukumba Ramai-ramai Jalani Vaksinasi Booster
Mengenai upaya dalam rangka menekan angka terkonfirmasi Covid-19 ini, maka pihak Dinas Kesehatan Maros akan gencar melakukan pemeriksaan 3T.
"Kami dari satgas saat ini sedang memperkuat 3T, tracing, testing dan treatment sesuai instruksi Mendagri No 7 tahun 2022," tutupnya.
(luq)
Lihat Juga :