Kisah Serangan Berdarah Sekutu Sriwijaya saat Berlangsung Resepsi Pernikahan Airlangga
Kamis, 30 Desember 2021 - 06:50 WIB
loading...
Patung Airlangga yang didewakan berupa Dewa Wisnu mengendarai Garuda. Koleksi Museum Trowulan, Jawa Timur. Foto/Wikipedia
A
A
A
Pesta resepsi tengah digelar Raja Dharmawangsa Teguh, untuk pernikahan putrinya dengan keponakannya sendiri, Arilangga. Pesta besar-besaran itu digelar di Wwatan, yakni ibu kota Kerajaan Medang.
Baca juga: Kisah Calon Arang Usik Raja Airlangga, Gara-gara Cemas Putri Cantiknya Jadi Perawan Tua
Raja Dharmawangsa Teguh merupakan saudara dari ibu Airlangga, Mahendradatta. Saat pesta tengah berlangsung, tiba-tiba sekutu Kerajaan Sriwijaya, Raja Wurawari dari Lwaram melakukan serangan mematikan di pusat kerajaan Medang.
Serangan mematikan Raja Wurawari itu, terjadi tahun 928 Saka atau sekitar tahun 1006-1007 Masehi, dan tercatat dalam prasasti Pucangan. Akibat serangan mematikan itu, Raja Dharmawangsa Teguh tewas bersimbah darah.
Baca juga: Kisah Gunung Semeru, Pasak untuk Pulau Jawa Dihuni Keturunan Asli Majapahit
Airlangga sendiri yang baru menjadi pengantin, berhasil meloloskan diri dari serangan mematikan itu. Dia lari ke hutan yang kini masuk wilayah Wanagiri. Tak sendirian, Airlangga yang masih berusia 16 tahun melarikan diri ditemani Mpu Narotama.
Untuk menyelamatkan diri, Arilangga dibantu Mpu Narotama terus mengembara dan menjadi pertapa. Bahkan, dari Wanagiri dia mengembara lalu bertapa di Sendang Made yang kini berada di wilayah Kabupaten Jombang.
Pengembaraan panjang Airlangga, berakhir setelah tiga tahun pelariannya sejak peristiwa mematikan di pusat Kerajaan Medang. Dia didatangi utusan rakyat dan memintanya membangun kembali Kerajaan Medang, yang telah porak-poranda.
Ibu kota Kerajaan Medang, Wwatan telah hancur lebur akibat serangan Raja Wurawari. Airlangga akhirnya memutuskan untuk membangun ibu kota baru Kerajaan Medan, yakni di Wwtan Mas yang ada di sekitar Gunung Penanggungan.
Kondisi Kerajaan Medang yang hancur lebur, membuat wilayah kekuasaan Airlangga saat naik tahta pada tahun 1009 Masehi, hanya meliputi daerah Sidoarjo, dan Pasuruan saja. Airlangga naik takhta dengan gelar, Sri Maharaja Rakai Halu Sri Lokeswara Dharmawangsa Airlangga Anantawikramatunggadewa.
Baca juga: Kisah Siu Ban Ci, Cinta Pandangan Pertama Brawijaya V yang Anaknya Menghancurkan Majapahit
Keberuntungan datang, saat Kerajaan Sriwijaya dihancurkan Rajendra Coladewa, Raja Colamandala dari India, pada tahun 1023 Masehi. Takluknya Kerajaan Sriwijaya, dari kerajaan India, membuat langkah Airlangga semakin leluasa untuk menaklukkan wilayah Pulau Jawa.
Baca juga: Kisah Calon Arang Usik Raja Airlangga, Gara-gara Cemas Putri Cantiknya Jadi Perawan Tua
Raja Dharmawangsa Teguh merupakan saudara dari ibu Airlangga, Mahendradatta. Saat pesta tengah berlangsung, tiba-tiba sekutu Kerajaan Sriwijaya, Raja Wurawari dari Lwaram melakukan serangan mematikan di pusat kerajaan Medang.
Serangan mematikan Raja Wurawari itu, terjadi tahun 928 Saka atau sekitar tahun 1006-1007 Masehi, dan tercatat dalam prasasti Pucangan. Akibat serangan mematikan itu, Raja Dharmawangsa Teguh tewas bersimbah darah.
Baca juga: Kisah Gunung Semeru, Pasak untuk Pulau Jawa Dihuni Keturunan Asli Majapahit
Airlangga sendiri yang baru menjadi pengantin, berhasil meloloskan diri dari serangan mematikan itu. Dia lari ke hutan yang kini masuk wilayah Wanagiri. Tak sendirian, Airlangga yang masih berusia 16 tahun melarikan diri ditemani Mpu Narotama.
Untuk menyelamatkan diri, Arilangga dibantu Mpu Narotama terus mengembara dan menjadi pertapa. Bahkan, dari Wanagiri dia mengembara lalu bertapa di Sendang Made yang kini berada di wilayah Kabupaten Jombang.
Pengembaraan panjang Airlangga, berakhir setelah tiga tahun pelariannya sejak peristiwa mematikan di pusat Kerajaan Medang. Dia didatangi utusan rakyat dan memintanya membangun kembali Kerajaan Medang, yang telah porak-poranda.
Ibu kota Kerajaan Medang, Wwatan telah hancur lebur akibat serangan Raja Wurawari. Airlangga akhirnya memutuskan untuk membangun ibu kota baru Kerajaan Medan, yakni di Wwtan Mas yang ada di sekitar Gunung Penanggungan.
Kondisi Kerajaan Medang yang hancur lebur, membuat wilayah kekuasaan Airlangga saat naik tahta pada tahun 1009 Masehi, hanya meliputi daerah Sidoarjo, dan Pasuruan saja. Airlangga naik takhta dengan gelar, Sri Maharaja Rakai Halu Sri Lokeswara Dharmawangsa Airlangga Anantawikramatunggadewa.
Baca juga: Kisah Siu Ban Ci, Cinta Pandangan Pertama Brawijaya V yang Anaknya Menghancurkan Majapahit
Keberuntungan datang, saat Kerajaan Sriwijaya dihancurkan Rajendra Coladewa, Raja Colamandala dari India, pada tahun 1023 Masehi. Takluknya Kerajaan Sriwijaya, dari kerajaan India, membuat langkah Airlangga semakin leluasa untuk menaklukkan wilayah Pulau Jawa.
Lihat Juga :