Implementasi Perda Kawasan Tanpa Rokok di Makassar Disebut Belum Optimal
Kamis, 02 Desember 2021 - 21:04 WIB
loading...
A
A
A
"Kita di urutan ketiga setelah China dan India, tapi yang mengkhawatirkan dan perlu dicatat adalah China dan India itu penduduknya banyak, rasionya bisa dimaklumi, mereka sampai miliaran, sementara kita cuma sekitar 270 ribu," tukasnya.
Dia melanjutkan, Kota Makassar khususnya masih tinggi angka perokoknya, parahnya lagi banyak anak-anak yang di bawah umur sudah menghisap rokok.
Baca juga:Rezki Tekankan Pentingya Rusunawa Bagi Masyarakat Kurang Mampu
"Dampaknya kan jelas untuk jangka panjang selain slogan-slogan di rokok, merokok utamanya bagi perempuan bisa membuat anak jadi stunting," ujarnya.
Selain itu sulitnya penerapan KTR di Kota Makassar menurutnya lantaran denda yang diterapkan sangat tinggi. "Ini sampai Rp50 juta, saya kira ini perlu direvisi, biar sedikit asalkan implementasinya baik saya kira masyarakat akan patuh, karena kalau sampai Rp50 juta saya kira pemerintah enggan menagih," tukasnya.
Dia melanjutkan, Kota Makassar khususnya masih tinggi angka perokoknya, parahnya lagi banyak anak-anak yang di bawah umur sudah menghisap rokok.
Baca juga:Rezki Tekankan Pentingya Rusunawa Bagi Masyarakat Kurang Mampu
"Dampaknya kan jelas untuk jangka panjang selain slogan-slogan di rokok, merokok utamanya bagi perempuan bisa membuat anak jadi stunting," ujarnya.
Selain itu sulitnya penerapan KTR di Kota Makassar menurutnya lantaran denda yang diterapkan sangat tinggi. "Ini sampai Rp50 juta, saya kira ini perlu direvisi, biar sedikit asalkan implementasinya baik saya kira masyarakat akan patuh, karena kalau sampai Rp50 juta saya kira pemerintah enggan menagih," tukasnya.
(luq)
Lihat Juga :