Siasat Jitu Sultan Agung Mataram Taklukkan Surabaya dan Hancurkan Pemberontakan Pati

Senin, 18 Oktober 2021 - 05:15 WIB
loading...
Siasat Jitu Sultan Agung Mataram Taklukkan Surabaya dan Hancurkan Pemberontakan Pati
Sultan Agung. Foto: Istimewa/Internet
A A A
JAKARTA - Politik ekspansi Sultan Agung, berhasil melebarkan radius kekuasaan dan pengaruh Kerajaan Mataram. Meskipun dengan politiknya itu dia gagal menghalau VOC, tetapi tidak mengurangi rasa hormat terhadapnya.

Pada Cerita Pagi kali ini, penulis akan mencoba mengulas secara singkat siasat Sultan Agung di dalam menaklukkan Surabaya dan Pati. Raja ketiga Kerajaan Mataram Islam ini, dikenal juga karena siasatnya yang jitu.

Sebelum ditaklukan Mataram, Surabaya merupakan negara sendiri. Raja-raja Surabaya menganggap dirinya sebagai keturunan Sunan Ngampel Denta. Warganya sangat ulet dan penuh keberanian bertahan.

Baca juga: Wisata Situ Gunung Sukabumi, Legenda Kerajaan Mataram hingga Ragam Destinasi Menarik

Untuk menaklukkan Surabaya, Sultan Agung yang memerintah Kerajaan Mataram pada 1613-1645 ini memulai dengan menaklukan daerah-daerah disekelilingnya. Hal itu dilakukan, karena menguasai dengan cara menyerbu tidak mungkin.

Dalam bukunya Puncak Kekuasaan Mataram, Politik Ekspansi Sultan Agung, Hj De Graaf mengatakan, dibutuhkan blokade yang lama sekali untuk bisa menguasai negara yang rakyatnya terkenal gigih dalam berjuang itu.

"Kota tersebut menyerah bukan karena serbuan, tetapi karena keletihan. Pengepungan atas Surabaya tidak mungkin," tulis De Graaf, dikutip dari bukunya Puncak Kekuasaan Mataram, Politik Ekspansi Sultan Agung, halaman 94.

Surabaya terletak di sebuah pulau, diantara Kali Mas dan Kali Pegirian, dan sebagian lagi di sebelah baratnya. Keratonnya dilindungi oleh tembok-tembok tinggi, dan wilayah sekitarnya di kelilingi oleh rawa yang tidak sehat.

Baca: Kisah Kesaktian Eyang Bintulu Aji, Sang Pamomong Wahyu Keraton Mataram

Penguasaan terhadap Surabaya dimulai dengan melakukan pengepungan besar-besaran terhadap wilayah sekitarnya. Ini biasa dilakukan saat musim panen. Sedang saat musim hujan, pasukan Mataram kembali pulang.
Halaman :
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.2065 seconds (11.252#12.26)