Misteri Konspirasi Gajah Mada di Balik Terbunuhnya Jayanegara di Istana Majapahit
Senin, 11 Oktober 2021 - 09:57 WIB
loading...
Pegiat sejarah mendokumentasi relief-relief yang terpaut di Candi Carik. Candi ini berada dijalur pendakian menuju Puncak Pawitra. Foto/SINDOnews/Ali Masduki
A
A
A
Kematian Jayanegara menggemparkan seantero Majapahit. Dia dikabarkan terbunuh oleh Tanca, seorang abdi dalem Istana Majapahit. Pembunuhan itu terjadi, usai Majapahit didera berbagai pemberontakan.
Baca juga: Paregreg Perang Saudara yang Picu Hancurnya Majapahit
Meski Tanca menjadi tersangka utama dalam peristiwa pembunuhan pucuk pimpinan Kerajaan Majapahit, namun peristiwa itu masih diselimuti kabut misteri. Tanca sebagai pelaku utama, belum sempat diadili namun sudah tewas di tangan Gajah Mada, yang kala itu menjadi Bhayangkara dan pengawal setia sang raja.
Slamet Muljana, pada bukunya yang berjudul "Puncak Kemegahan Sejarah Kerajaan Majapahit ". Menyebut, bara dari pemberontakan-pemberontakan yang terjadi selama masa kepemimpinan Jayanegara, masih menyisakan dendam kesumat di lingkungan kerajaan utamanya para abdi dalem seperti Tanca.
Baca juga: Kisah Calon Arang Usik Raja Airlangga, Gara-gara Cemas Putri Cantiknya Jadi Perawan Tua
Tanca merupakan bagian dari tujuh Dharmaputra Raja atau abdi dalem, bersama Kuti, Semi, Pangsa, Wedeng, Juju, dan Banyak. Kuti dan sejumlah temannya akhirnya dibunuh karena melakukan pemberontakan kepada Jayanegara.
Para abdi dalem ini masih terus berupaya membunuh rajanya. Dari tujuh abdi dalem tersebut, masih menyisakan satu orang yakni Tanca. Selama mengabdi di dalam istana Majapahit, ternyata masih memendam ambisi membunuh raja.
Sembilan tahun pasca peristiwa Kuti, menurut Slamet Muljana, putri Tribuanarunggadewi dan Rajadewi Maharajasa yang merupakan dua putri keturunan Raja Kertanegara, tidak diizinkan menikah oleh Raja Jayanegara. Alasannya karena keduanya hendak dikawini oleh Jayanegara.
Tindakan Jayanegara ini didengar oleh Dharmaputra Tanca. Tanca pun mengadukannya kepada Gajah Mada, yang kala itu menjadi Bhayangkara. Bahkan, para jejaka dan laki-laki yang akan memperistri kedua putri tersebut, selalu dihalangi oleh Jayanegara.
Pada saat bersamaan, secara kebetulan Jayanegara menderita sakit bisul. Kondisi ini membuat Jayanegara tidak dapat keluar dari istana, dan harus selalu berbaring di atas tempat tidur. Tanca pun dipanggil untuk mengobatinya. Tanca dipercaya lantaran memiliki kemampuan mengobati penyakit.
Baca juga: Langgar Larangan Pernikahan Sunda-Majapahit, Berujung Duel Brutal 2 Raja Sedarah
Tanca memasuki kamar tidur untuk mengobati Jayanegara. Bengkak pada kaki raja harus dibedah, satu dua kali tidak berhasil dibedah. Raja dipersilakan mengesampingkan selimutnya, kali ketiga pembedahan bisul pada kaki sang raja berhasil dilakukan.
Namun seiring pembedahan berhasil, tikaman langsung dilakukan Tanca kepada Jayanegara. Raja Jayanegara mati akibat tikaman Tanca. Gajah Mada yang mengetahui kejadian tersebut langsung bangkit dan menusuk Tanca. Tusukan Gajah Mada, membuat Tanca mati. Kejadian pembunuhan sang raja Jayanegara tercatat pada tahun 1328 Masehi atau 1250 Saka.
Versi lainnya diungkap arkeolog Belanda N.J. Krom dalam Hindoe-Javaansche Geschiedenis yang dikutip Parakitri T. Simbolon dalam bukunya "Menjadi Indonesia". Disebutkan justru istri Tanca yang mengatakan telah dicabuli Jayanagara. Kabar ini membuat Gajah Mada geram, lalu balik mengadukan Tanca menyebarkan fitnah.
Masih menurut Parakitri T. Simbolon, yang mengutib N.J. Krom, justru Gajah Mada yang menjadi otak pembunuhan Jayanagara tersebut. Isu Jayanrgara mencabuli istri Tanca, sengaja dihembuskan Gajah Mada, untuk memperalat Tanca membunuh Jayanagara.
Baca juga: Paregreg Perang Saudara yang Picu Hancurnya Majapahit
Meski Tanca menjadi tersangka utama dalam peristiwa pembunuhan pucuk pimpinan Kerajaan Majapahit, namun peristiwa itu masih diselimuti kabut misteri. Tanca sebagai pelaku utama, belum sempat diadili namun sudah tewas di tangan Gajah Mada, yang kala itu menjadi Bhayangkara dan pengawal setia sang raja.
Slamet Muljana, pada bukunya yang berjudul "Puncak Kemegahan Sejarah Kerajaan Majapahit ". Menyebut, bara dari pemberontakan-pemberontakan yang terjadi selama masa kepemimpinan Jayanegara, masih menyisakan dendam kesumat di lingkungan kerajaan utamanya para abdi dalem seperti Tanca.
Baca juga: Kisah Calon Arang Usik Raja Airlangga, Gara-gara Cemas Putri Cantiknya Jadi Perawan Tua
Tanca merupakan bagian dari tujuh Dharmaputra Raja atau abdi dalem, bersama Kuti, Semi, Pangsa, Wedeng, Juju, dan Banyak. Kuti dan sejumlah temannya akhirnya dibunuh karena melakukan pemberontakan kepada Jayanegara.
Para abdi dalem ini masih terus berupaya membunuh rajanya. Dari tujuh abdi dalem tersebut, masih menyisakan satu orang yakni Tanca. Selama mengabdi di dalam istana Majapahit, ternyata masih memendam ambisi membunuh raja.
Sembilan tahun pasca peristiwa Kuti, menurut Slamet Muljana, putri Tribuanarunggadewi dan Rajadewi Maharajasa yang merupakan dua putri keturunan Raja Kertanegara, tidak diizinkan menikah oleh Raja Jayanegara. Alasannya karena keduanya hendak dikawini oleh Jayanegara.
Tindakan Jayanegara ini didengar oleh Dharmaputra Tanca. Tanca pun mengadukannya kepada Gajah Mada, yang kala itu menjadi Bhayangkara. Bahkan, para jejaka dan laki-laki yang akan memperistri kedua putri tersebut, selalu dihalangi oleh Jayanegara.
Pada saat bersamaan, secara kebetulan Jayanegara menderita sakit bisul. Kondisi ini membuat Jayanegara tidak dapat keluar dari istana, dan harus selalu berbaring di atas tempat tidur. Tanca pun dipanggil untuk mengobatinya. Tanca dipercaya lantaran memiliki kemampuan mengobati penyakit.
Baca juga: Langgar Larangan Pernikahan Sunda-Majapahit, Berujung Duel Brutal 2 Raja Sedarah
Tanca memasuki kamar tidur untuk mengobati Jayanegara. Bengkak pada kaki raja harus dibedah, satu dua kali tidak berhasil dibedah. Raja dipersilakan mengesampingkan selimutnya, kali ketiga pembedahan bisul pada kaki sang raja berhasil dilakukan.
Namun seiring pembedahan berhasil, tikaman langsung dilakukan Tanca kepada Jayanegara. Raja Jayanegara mati akibat tikaman Tanca. Gajah Mada yang mengetahui kejadian tersebut langsung bangkit dan menusuk Tanca. Tusukan Gajah Mada, membuat Tanca mati. Kejadian pembunuhan sang raja Jayanegara tercatat pada tahun 1328 Masehi atau 1250 Saka.
Versi lainnya diungkap arkeolog Belanda N.J. Krom dalam Hindoe-Javaansche Geschiedenis yang dikutip Parakitri T. Simbolon dalam bukunya "Menjadi Indonesia". Disebutkan justru istri Tanca yang mengatakan telah dicabuli Jayanagara. Kabar ini membuat Gajah Mada geram, lalu balik mengadukan Tanca menyebarkan fitnah.
Masih menurut Parakitri T. Simbolon, yang mengutib N.J. Krom, justru Gajah Mada yang menjadi otak pembunuhan Jayanagara tersebut. Isu Jayanrgara mencabuli istri Tanca, sengaja dihembuskan Gajah Mada, untuk memperalat Tanca membunuh Jayanagara.
Lihat Juga :