Lanskap Terjal Benowo, Kehidupan Bersih dan Pendulang Energi
loading...
A
A
A
Muhammad Muslih (46), warga Benowo ingat betul ketika dirinya pertama kali memilih tinggal di Benowo karena harga tanahnya yang murah. Waktu itu tak ada orang yang berminat untuk tinggal dekat dengan TPA Benowo. Lokasi yang dianggap sebagai kepingan terburuk dari Kota Pahlawan karena baunya yang menyengat. "Beli tanah waktu itu cuma Rp150 ribu/meter. Banyak yang jual, karena tak betah dengan sampah," katanya, Minggu (29/8/2021).
Tiap hari ada berton-ton sampah yang diangkut ke Benowo. Melewati rumahnya dan ketika angin mengarah ke timur, ia seperti lupa kalau rongga hidungnya masih berfungsi. Bahkan, rumahnya sengaja tidak memakai rongga udara yang lebar karena menutup bau sampah yang begitu menyengat. "Saat ini sudah nggak ada bau, seperti pemukiman lainnya yang segar. Kami juga betah di rumah," sambungnya.
Hilangnya bau dan cara pengolahan sampah yang terpadu mengiringi perjalanan PSEL yang berada di TPA Benowo. PSEL menapaki jalan yang terjal. Tumpukan sampah yang puluhan tahun menebar bau, kini menjadi ladang emas berupa listrik yang bisa dimanfaatkan warga.Mengubah segala sendi kehidupan yang lebih baik.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH) Kota Surabaya, Anna Fajriatin menuturkan,pembangunan PSEL Benowo yang dilakukan pemkot sebenarnya sudah dimulai sejak 2012 dengan menggandeng kerjasama PT. Sumber Organik.
Saat itu,proses mengolah sampah menjadi listrik masih menggunakan metode Landfill Gas Power Plant. "Dengan metode ini, PSEL mampu menghasilkan energi listrik 2 Megawatt dari 600 ton sampah per hari,"kata Anna.
Jalan berliku masih ditemui dengan beragam kegagalan. Kemudianpada2015, pemkot yang bekerjasama dengan PT. Sumber Organik ini mulai menggunakan metode Gasification Power Plant untuk mengolah sampah menjadi listrik.
Target awalnya, pada 2020 melalui metode ini sudah dapat mengolah sampah menjadi listrik. Namun, karena adanya pandemi COVID-19, sehingga proses komisioning atau pengujian oleh tim ahli dari luar negeri mundur dilakukan.
"Sebetulnya targetnya sejak 2020, tapi karena kondisi COVID-19 sehingga untuk komisioning dengan mendatangkan tim ahli dari luar negeri ke Indonesia jadi mundur. Alhamdulillah 10 Maret 2021 kemarin sudah proses. Jadi sudah bisa menghasilkan listrik 9 Megawatt dari setiap 1.000 ton sampah/hari,"katanya.
Tiap hari ada berton-ton sampah yang diangkut ke Benowo. Melewati rumahnya dan ketika angin mengarah ke timur, ia seperti lupa kalau rongga hidungnya masih berfungsi. Bahkan, rumahnya sengaja tidak memakai rongga udara yang lebar karena menutup bau sampah yang begitu menyengat. "Saat ini sudah nggak ada bau, seperti pemukiman lainnya yang segar. Kami juga betah di rumah," sambungnya.
Hilangnya bau dan cara pengolahan sampah yang terpadu mengiringi perjalanan PSEL yang berada di TPA Benowo. PSEL menapaki jalan yang terjal. Tumpukan sampah yang puluhan tahun menebar bau, kini menjadi ladang emas berupa listrik yang bisa dimanfaatkan warga.Mengubah segala sendi kehidupan yang lebih baik.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH) Kota Surabaya, Anna Fajriatin menuturkan,pembangunan PSEL Benowo yang dilakukan pemkot sebenarnya sudah dimulai sejak 2012 dengan menggandeng kerjasama PT. Sumber Organik.
Saat itu,proses mengolah sampah menjadi listrik masih menggunakan metode Landfill Gas Power Plant. "Dengan metode ini, PSEL mampu menghasilkan energi listrik 2 Megawatt dari 600 ton sampah per hari,"kata Anna.
Jalan berliku masih ditemui dengan beragam kegagalan. Kemudianpada2015, pemkot yang bekerjasama dengan PT. Sumber Organik ini mulai menggunakan metode Gasification Power Plant untuk mengolah sampah menjadi listrik.
Target awalnya, pada 2020 melalui metode ini sudah dapat mengolah sampah menjadi listrik. Namun, karena adanya pandemi COVID-19, sehingga proses komisioning atau pengujian oleh tim ahli dari luar negeri mundur dilakukan.
"Sebetulnya targetnya sejak 2020, tapi karena kondisi COVID-19 sehingga untuk komisioning dengan mendatangkan tim ahli dari luar negeri ke Indonesia jadi mundur. Alhamdulillah 10 Maret 2021 kemarin sudah proses. Jadi sudah bisa menghasilkan listrik 9 Megawatt dari setiap 1.000 ton sampah/hari,"katanya.