Merasa Tak Dihargai, Wali Kota Surabaya Tri Risma Marah Besar
Jum'at, 29 Mei 2020 - 15:50 WIB
loading...
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini saat menelepon BNPB dan menanyakan keberadaan 2 mobil PCR. FOTO/iNews TV/Hari Tambayong
A
A
A
SURABAYA - Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini Jumat (29/5/2020) siang marah besar. Dalam sambungan teleponnya kepada petugas BNPB, Risma mengeluarkan emosinya.
Risma marah dan geram karena mobil PCR bantuan BNPB untuk Kota Surabaya justru digunakan ke luar kota, yakni Lamongan dan Tulungagung atas permintaan Gugus Tugas COVID-19 Jawa Timur.
“Saya sampai ngemis -gemis lewat Pak Pramono Anung, lewat DPR Riv saya mau disiksa apa? saya dituduh nggak bisa kerja lagi?, saya lo pak, dapat WA-nya Pak Doni Monardo kalau itu untuk Surabaya dan saya yang minta-minta kemana-mana, apapaan itu lo pak kalau mau boikot, saya akan ngomong ke semua orang, opo-opoan bapak tahu pasien itu sudah nunggu di asrama haji, siapa yang nggak bisa kerja kalau ngawur nyerobot gitu,” tandas Risma dengan kesal. (Baca juga: Kabar Baik, Seluruh Pasien COVID-19 RSUD Soekardjo Tasikmalaya Sembuh)
Risma mengatakan, seharusnya mobil PCR itu digunakan untuk rapid test dan tes swab Kota Surabaya, di mana persebaran COVID-19 masih cukup tinggi. Karena pergeseran itu, maka rapid test dan swab test harus tersendat.
Masih dalam sambungan telepon itu, Risma merasa kinerjanya tidak dihargai, sehingga dia kesal dan marah. Risma mengatakan, 2 unit mobil PCR bantuan BNPP tersebut, dirinyalah yang meminta secara langsung kepada Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Pemerintah Pusat Doni Monardo. Dan itu khusus untuk penanganan COVID-19 di Surabaya.
Risma marah dan geram karena mobil PCR bantuan BNPB untuk Kota Surabaya justru digunakan ke luar kota, yakni Lamongan dan Tulungagung atas permintaan Gugus Tugas COVID-19 Jawa Timur.
“Saya sampai ngemis -gemis lewat Pak Pramono Anung, lewat DPR Riv saya mau disiksa apa? saya dituduh nggak bisa kerja lagi?, saya lo pak, dapat WA-nya Pak Doni Monardo kalau itu untuk Surabaya dan saya yang minta-minta kemana-mana, apapaan itu lo pak kalau mau boikot, saya akan ngomong ke semua orang, opo-opoan bapak tahu pasien itu sudah nunggu di asrama haji, siapa yang nggak bisa kerja kalau ngawur nyerobot gitu,” tandas Risma dengan kesal. (Baca juga: Kabar Baik, Seluruh Pasien COVID-19 RSUD Soekardjo Tasikmalaya Sembuh)
Risma mengatakan, seharusnya mobil PCR itu digunakan untuk rapid test dan tes swab Kota Surabaya, di mana persebaran COVID-19 masih cukup tinggi. Karena pergeseran itu, maka rapid test dan swab test harus tersendat.
Masih dalam sambungan telepon itu, Risma merasa kinerjanya tidak dihargai, sehingga dia kesal dan marah. Risma mengatakan, 2 unit mobil PCR bantuan BNPP tersebut, dirinyalah yang meminta secara langsung kepada Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Pemerintah Pusat Doni Monardo. Dan itu khusus untuk penanganan COVID-19 di Surabaya.
Lihat Juga :