Perhatian! Berita ini memuat konten dewasa.
Apakah anda sudah berusia 17 tahun atau lebih?

Demi Syiar Islam, Kaligrafi Mujtahid Al Fatah Bertahan di Tengah Pandemi COVID-19

loading...
Demi Syiar Islam, Kaligrafi Mujtahid Al Fatah Bertahan di Tengah Pandemi COVID-19
Mujtaid Al Fatah, pengrajin kaligrafi saat menunjukkan garapannya di tempat produksi, Desa Bener, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang. Foto/SINDOnews/Angga Rosa
SEMARANG - Badai pandemi COVID-19 meluluhlantakkan perekonomian masyarakat , tanpa terkecuali kerajinan kaligrafi. Seorang perajin kaligrafi di Desa Bener, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, Mujtahid Al Fatah berusaha keras mempertahankan kelangsungan usahanya, lantaran itu bagian dari syiar Islam yang dilakukannya.

Baca juga: Sri Mulyani: APBN Sudah Bekerja Keras, tapi Tak Bisa Sendirian

Dia mengatakan, sebelum pandemi COVID-19 , penjualan kaligrafi laku keras. Setiap tiga hari sekali bisa dipastikan ada konsumen yang membeli. Pembelinya dari berbagai kalangan masyarakat, termasuk mantan Menteri Tenaga Kerja, Muhammad Hanif Dhakiri juga pernah membeli kaligrafinya. "Dulu setiap tiga hari sekali, saya bisa menjual lebih dari lima kaligrafi berbagai ukuran. Sejak pandemi COVID-19 , omzet anjlok hingga 80 persen," katanya.





Meski demikian, pengrajin kaligrafi lulusan Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang ini, tidak mau menutup usaha dan meminta karyawannya untuk berproduksi meski dalam jumlah sedikit. Sebab, pengasuh Pondok Pesantren DQS Bener, Tengaran ini, menjadikan usaha kaligrafi sebagai bagian dari syiar Islam.

Baca juga: Sembunyi di Sarang Buaya Buas, Pencuri di Balikpapan Ini Akhirnya Menyerah

"Saya melukan syiar ajaran agama Islam dengan berbagai cara. Usaha kaligrafi ini, juga saya gunakan untuk syiar. Jadi meski kondisi sedang lesu, saya tetap berusaha untuk berproduksi dan memasarkannya sembari syiar," ujarnya.

Dia menceritakan, ini dilakoninya sejak 2008 silam. Saat itu, dirinya masih mengajar di pondok pesantren di Klaten. "Awalnya saya menjualkan kaligrafi dari salah satu produsen. Saat itu, saya hanya keliling satu pekan sekali. Kemudian saya tekuni dan akhirnya bisa produksi sendiri," terangnya.

Baca juga:
halaman ke-1
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top