Kasus Dermaga Wawali Kota Bima, Dua Saksi Diancam dan Dikejar OTK di Pengadilan

Kamis, 08 Juli 2021 - 06:15 WIB
loading...
Kasus Dermaga Wawali...
Sultan, merupakan teman saksi yang dianiaya oleh OTK di halaman kantor Pengadilan Negeri Bima usai sidang berlangsung. Foto iNews TV/Edy I
A A A
BIMA - Dua saksi dalam kasus pembangunan jety atau dermaga dengan terdakwa Wakil Wali (Wawali) Kota Bima, Feri Sofiyan, diancam serta dikejar oleh sejumlah Orang Tidak di Kenal (OTK) di Pengadilan Negeri Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Rabu (07/07/2021).

Dua saksi yakni Akbar dan Sukriadin, yang merupakan warga Kelurahan Mande, Kecamatan Mpunda Kota Bima. Keduanya diancam serta dikejar usai memberikan kesaksian terkait pembangunan dermaga tanpa izin yang dilakukan oleh orang nomor dua di Kota Bima, Feri Sofiyan, di kawasan pantai Bonto, Kelurahan Kolo, Kecamatan Asakota, Kota Bima-NTB.

Menurut Akbar, peristiwa tersebut bermula saat dirinya usai memberikan keterangan sebagai saksi dihadapan majelis hakim.


Dia pun menuju kantin Pengadilan setempat yang berada di pojok barat. Tak berselang lama, sejumlah orang yang berbadan kekar menghampiri dan menanyakan identitas saksi Akbar dengan gayanya yang intimidasi.

"Kamu yang namanya Akbar ya? pintar sekali saudara ini merepotin kita semua. Saya pun kaget dan heran dengan maksud orang-orang itu. Lalu saya berani kan diri untuk menanyakan maksud mereka. Namun tak berlangsung panjang lebar, seketika datang teman saya yang sudah mengetahui maksud para OTK tersebut. Saya pun diajak teman saya untuk cari makanan di tempat lain," ungkap Akbar.

Setelah terbebas dari para OTK di kantin itu, dia tak langsung bergegas keluar dari kantor PN karena merasa masih belum nyaman dari ancaman, akhirnya berinisiatif untuk masuk mengamankan diri di dalam ruangan salah satu Kepala Seksi yang kebetulan ada salah seorang anggota Kejaksaan.

Mengetahui saksi dalam tekanan serta ancaman sekelompok orang, anggota Kejari Bima mengajak keluar lewat pintu khusus sebelah barat yang menghubungkan kantor Kejari Bima dan Kantor Pengadilan.

Di kantor Kejaksaan, Akbar pun bersembunyi dalam toilet. Disitu ia mencoba menelpon salah satu rekannya, namun kondisi jaringan telekomunikasi yang tak ada signal.

"Setelah bergegas keluar dari dalam toilet dan kembali bertemu dengan anggota Kejaksaan yang tadi. Dari situ saya mendapatkan kabar, jika Sukriadin salah seorang saksi disembunyikan dari dalam gudang kantor Kejaksaan setempat dan dikunci dari luar oleh pegawai Kejaksaan agar ia terhindar pula dari kejaran OTK yang mencarinya saat itu. Karena, ia pun sempat dikepung usai memberikan keterangan saksinya di Pengadilan Negeri Bima dalam kasus pembangunan dermaga tanpa izin," ungkap Akbar.

Setelah bertemu Damar, sapaan akrab Sukriadin, keduanya pun menelpon anggota Kepolisian untuk menjemput mereka di kantor Kejaksaan guna mengantisipasi ancaman OTK yang kebetulan masih berkeliaran.

Tak hanya sampai disitu, kekejaman para OTK yang berwatak preman dilampiaskan pula pada salah seorang rekan dari saksi yang diketahui bernama Sultan.

Di halaman kantor Pengadilan, Sultan dihakimi serta dianiaya dengan senjata tajam oleh sekelompok OTK tersebut hingga mengalami luka yang cukup serius. Beruntung saat itu segera dilerai oleh anggota Kepolisian yang mengetahui kejadian tersebut.

Guna mendapatkan perawatan medis, Sultan pun dilarikan ke Rumah Sakit terdekat dengan dijaga ketat oleh anggota polisi.

Diduga para OTK tersebut sengaja hadir dalam persidangan untuk mengancam para saksi. Tak hanya mengancam membunuh para saksi, namun teman dekat saksi yang saat itu menemani saksi sidang ikut pula dihakimi hingga harus dilarikan ke Rumah Sakit karena luka yang cukup serius.

"Saya memohon agar pihak Kepolisian terus mengamankan jalannya setiap sidang kasus ini. Sebab, kasus ini sangat rawan dengan tindakan premanisme. Tolong jangan lengah, karena tidak menutup kemungkinan hal serupa akan terjadi pada persidangan berikutnya," harapnya.

Sementara dalam kasus pengancaman dan penganiayaan, Akbar maupun Sultan rencananya akan melaporkan segera tindakan para OTK ke pihak yang berwajib.



"Besok kami akan melaporkan secara resmi ke Polres Bima Kota terkait pengancaman dan penganiayaan. Sebenarnya Rabu malam ini sudah bisa kita laporkan, namun mengingat rekan saya Sultan yang tak bisa dihubungi sejak kejadian sore tadi, sehingga terpaksa diundur biar laporannya masuk bersamaan," tuturnya.
(sms)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Baca Berita Terkait Lainnya
Copyright © 2025 SINDOnews.com
All Rights Reserved
read/ rendering in 0.2848 seconds (0.1#10.24)