Jalan Alot Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi

loading...
Jalan Alot Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi
Foto/ilustrasi.ist
JAKARTA - Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) telah tamat 14 tahun lalu. Wacana menghidupkan kembali muncul pada periode kedua pemerintahan Joko Widodo (Jokowi). Tak tanggung-tanggung, keinginan itu datang dari Menteri Koordinator Politik Hukum dan Hak Asasi Manusia(Menkopolhukam) Mahfud MD.

Setidaknya dua kali Mahfud mengutarakan akan menyelesaikan rancangan undang-undang (UU) KKR. Pertama, seusai pelantikannya sebagai menteri pada 25 Oktober 2019 dan terakhir 11 Desember 2019.

Ahli keadilan transisional Ifdhal Kasim mengatakan KKR itu lahir dari sebuah konsensus setelah kejatuhan orde baru yang banyak melakukan kekerasan. Konsensus itu tercermin dalam Tap MPR RI Nomor 5 Tahun 2000 Tentang Pemantapan dan Kesatuan Nasional.

“Ini untuk merealisasikan rekonsiliasi dan menjawab konflik yang berkembang di masyarakat. Termasuk memberikan keadilan kepada korban pelanggaran HAM,” ujarnya dalam diskusi daring bertajuk Membangun Kembali Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi, Seberapa Besar Peluangnya?, Selasa (19/5/2020).



(Baca: Tuntaskan Pelanggaran HAM Masa Lalu, Pemerintah Terus Godok Draf RUU KKR)

Dia mengungkapkan, pemerintah dan DPR sebenarnya telah menindaklanjuti Tap MPR itu dengan melahirkan UU Nomor 27/2004 tentang KKR. Panitia seleksi telah dibentuk dan telah terpilih dua orang, yaitu Ifdhal dan Amiruddin Ar Rahab, komisioner Komnas HAM saat ini.

“Sudah ada anggota yang tinggal diputuskan presiden. MK mendapatkan gugatan dari kelompok hak asasi manusia. Putusan MK ultra petita, melampaui apa yang diminta penggguat. Akhirnya UU batal, UU ini dilikuidasi,” tuturnya.



Mahkmah Konsitusi (MK) saat itu memberikan catatan kepada pemerintah, yakni membuat UU baru dan rekonsiliasi politik, tidak semata-mata melalui jalur legislatif. Setelah itu terjadi kekosongan hukum hingga saat ini.
halaman ke-1 dari 2
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top