Aksi Trie Utami, Dewa Budjana, Purwatjaraka Gairahkan Sound of Borobudur

Jum'at, 09 April 2021 - 07:42 WIB
loading...
Aksi Trie Utami, Dewa Budjana, Purwatjaraka Gairahkan Sound of Borobudur
Penampilan Trie Utami, Dewa Budjana, Purwatjaraka dalam pertunjukan bertajuk Sound of Borobudur di Omah Mbudur, Kompleks Candi Borobudur Magelang, Kamis (8/4/2021). Foto/Ist
A A A
MAGELANG - Alunan musik aneh terdengar di Omah Mbudur, kompleks Candi Borobudur , Kamis (8/4/2021). Peralatan musik yang digunakan juga cukup aneh dan jarang ditemukan.

Namun iramanya tetap merdu hingga membuat tubuh tak sadar bergoyang. Semua yang hadir, termasuk Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dibuat takjub dengan pertunjukan yang dibawakan musisi-musisi hebat sekelas Purwatjaraka, Trie Utami, Dewa Budjana dan lainnya itu.

Bertajuk Sound of Borobudur, para musisi nasional dan lokal berkumpul untuk menghadirkan kembali alat-alat musik tempo dulu yang terukir di dinding Candi Borobudur.

Setelah melalui riset panjang, alat musik yang ada itu berhasil dibuat, berbunyi dan bisa disatukan dalam sebuah orkestrasi.

"Ini kelanjutan dari project kami lima tahun lalu, ketika saya diajak ke sini dan mendapat pengetahuan bahwa relief di Candi Borobudur ternyata menyimpan banyak sekali pengetahuan. Candi Borobudur seperti perpustakaan, yang semuanya ada di sini termasuk seni," kata Dewa Budjana.

Dari situlah dirinya bersama Trie Utami tergerak untuk mencoba mereplika alat musik yang ada di relief itu. Setelah terbentuk, ia berusaha untuk membunyikannya, tentu dengan cara dan metode zaman sekarang.

"Itu cukup lama prosesnya, akhirnya dapat komposisi dan kita garap serius. Meskipun kami sadar, terkait bunyi itu intepretasi saat ini, karena peradaban itu tidak mungkin diulang lagi," katanya.

Menurutnya, ada ratusan alat musik yang tergambar di relief Candi Borobudur. Diantara alat musik itu juga ada yang bukan dari Jawa Tengah, melainkan dari Kalimantan bahkan ada yang dari Thailand atau India.

"Dari situ kami menduga, Borobudur merupakan pusat seni dunia. Atau kalau tidak, disini merupakan pusat berkumpulnya seniman-seniman dari seluruh dunia, dengan alat-alat musik yang berbeda. Mungkin zaman dulu di sini pernah ada konser besar seluruh dunia," ujarnya.

Dengan temuan itu, maka Dewa mendukung pengembangan kawasan Borobudur tidak fokus pada pembangunan fisik. Namun, pembangunan juga harus diikuti dengan menggali nilai-nilai historis yang ada di candi itu.
Halaman :
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1960 seconds (11.252#12.26)