Kinerja PT PWU Merosot, DPRD Jatim Sampaikan Kritikan Ini

loading...
Kinerja PT PWU Merosot, DPRD Jatim Sampaikan Kritikan Ini
Direktur Utama PT PWU Jatim, Erlangga Satriagung
SURABAYA - BUMD Jawa Timur (Jatim) PT Panca Wira Usaha (PWU) selama 2020 membukukan laba bersih Rp4,05 miliar dan menyetor Pendapatan Asli Daerah (PAD) ke Pemprov Jatim Rp2,25 miliar. Jumlah itu turun dibanding tahun 2019, dimana laba bersih mencapai Rp6,91 miliar dengan kemampuan setor PAD sebesar Rp3,90 miliar.

Sementara pendapatan di 2020 mencapai Rp175 miliar atau turun dibanding 2019 yang sebesar Rp248 miliar. Untuk aset di 2020 tercatat sebesar Rp441 miliar. PT PWU memiliki 9 anak perusahaan 3 perusahan joint venture. "Kami akan evaluasi anak usaha PWU. Selama ini anak usaha PWU sangat minim dalam menyetorkan PAD," kata Ketua Komisi C DPRD Jatim, Hidayat Maseaji, Kamis (8/4/2021).

Baca juga: Ketua DPD RI Apresiasi Inovasi Program OPOP di Jawa Timur

Secara umum, Komisi C berharap PT PWU tetap profesional, baik holding maupun anak perusahaan. Jangan sampai ke depan ada pekerja yang belum dibayar atau tidak mendapat pesangon ketika diberhentikan.

“Ini kan betul betul sangat tidak sehat, maka harus dikembalikan BUMD pada fitrahnya. Bahwa BUMD dibuat untuk memberikan kontribusi kepada PAD. Kalau tidak, kita evaluasi untuk kita pertimbangkan tidak kita lanjutkan,” ujar Hidayat.



Pihaknya mengingatkan kepada Pemprov Jatim supaya lebih ketat mengawasi kinerja anak perusahaan di BUMD. Maka, kata dia, perlu political will dari Pemprov Jatim agar anak perusahaan BUMD itu dibuat dengan mempertimbangkan tidak hanya prospek usaha tapi juga core bisnisnya harus sesuai.

“Komisi C selama ini tidak terkait dengan anak perusahaan, tapi ketika anak perusahaan membebani holding BUMD itu, maka tugas Komisi C untuk mengontrol,” tegasnya.

Baca juga: Jumlah Entrepreneur di Jawa Timur Hanya 1,2 Persen

Sementara itu, Direktur Utama PT PWU Jatim, Erlangga Satriagung mengungkapkan beberapa hal terkait kondisi perusahaanya. Dimana ada 9 anak perusahaan yang mayoritas adalah warisan dari penggabungan 5 perusda sejak zaman Belanda yang pada tahun 2000 digabung dalam perusahaan PT PWU.

Kesembilan anak perusahaan itu antara lain PT Karet Ngagel Surabaya Wira Jatim, PT Puri Panca Pujibangun, PT Kasa Husada Wira Jatim, PT Loka Refractories Wira Jatim, PT Carma Wira Jatim, PT Moya Kasri Wira Jatim, PT Adi Graha Wira Jatim, PT Jatim Husada Farma.



“Yang terbaru itu PT Jatim Husada Farma. Ini baru satu tahun dan bergerak di bidang menyuplai obat-obatan peralatan rumah sakit umum milik daerah,” terang Erlangga.

Diakuinya, ada beberapa anak atau cucu perusahan yang kondisinya kurang bagus. Seperti anak perusahaan dari PT Karet Ngagel yang bergerak di bidang Industri Conveyor Belt. PT Karet Ngagel produksinya bagus dan di nasional terbaik, tali berbeda dengan anak perusahaanya yang bernama PT Kasava.

“PT Karet ini punya anak usaha namanya PT Kasava yang saat ini sedang bermasalah besar dan nyaris pidana karena hasil audit BPKP fraud,” ungkapnya.

Ada juga anak perusahaan lainnya yang kondisinya cukup bagus. Yakni PT Kasa Husada yang bergerak dalam industri alat kesehatan termasuk Masker. “Semoga 2-3 minggu akan melakukan ekspor perdana Masker ke Amerika dan Jika ini terealisasi maka bisa disebut satu satunya BUMD yang masuk pasar Amerika,” ujar Airlangga.

Dalam kesempatan itu, mantan Ketua Kadin Jatim ini menyampaikan selama pandemi COVID-19 terjadi penurunan usaha. “Sales kita turun menjadi Rp175 miliar tahun 2020. Tapi di 2021 kita merancang naik 42% menjadi Rp248 Miliar dan target laba Rp6,8 miliar . Ini dengan asumsi, triwulan pertama 2021 COVID-19 sudah mereda,” tandasnya.
(msd)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top