Indonesia Kaya Bahan Baku Nikel, Bisnis Prospektif Mobil Listrik
Sabtu, 20 Februari 2021 - 03:39 WIB
loading...
Ketua Aliansi Kebangsaan Pontjo Sutowo. Foto/Ist
A
A
A
BOGOR - Indonesia termasuk salah satu negara yang sangat kaya akan sumber daya alam . Salah satunya adalah bahan baku nikel yang lagi booming karena tren perkembangan mobil listrik (electric vechical) yang sangat pesat. Potensi bahan baku nikel Indonesia disebut tidak akan habis hingga 200 tahun ke depan.
Mengutip Data US Geological Survey (2019), dari 80 juta metrik ton cadangan nikel dunia, hampir 4 juta metrik ton tersimpan di Indonesia. Angka ini menempatkan Indonesia di peringkat ke-6 deposit nikel terbesar di dunia. (Baca juga: Tesla Pilih Bangun Pabrik Mobil Listrik di India, RI Kebagian Bikin Baterai )
“Sebelum diberlakukanya pelarangan ekspor bahan tambang mentah, Indonesia termasuk 3 besar negara pengekspor nikel dan mineral ikutannya. Namun sejak Januari 2020, pemerintah secara resmi melarang ekspor nikel mentah, baik sebagai batuan nikel (nickel ore), maupun bijih nikel yang kadar nikelnya di bawah 3%,” kata kata Ketua Aliansi Kebangsaan Pontjo Sutowo saat membuka Focus Group Discussion (FGD) Aliansi Kebangsaan yang digelar secara virtual, Jumat (19/2/2021). (Baca juga: KAMI Kritik Pengelolaan SDA dan Aset Negara yang Akal-akalan )
Walaupun kebijakan ini digugat oleh Organisasi Perdagangan Dunia ( WTO), namun kebijakan ini perlu dilanjutkan karena cadangan nikel di Indonesia akan terus menipis. Selain itu, kebijakan ini juga diambil dalam rangka program pemerintah terkait kendaraan listrik, karena nikel bisa dimanfaatkan untuk industri baterai kendaraan listrik yang mempunyai prospek sangat bagus ke depan.
“Untuk menangkap peluang ini dengan sebaik-baiknya, maka penguasaan inovasi teknologi baterai untuk kendaraan listrik merupakan kunci utama bagi Indonesia menjadi pemain utama di sektor electric vehicle yang ramah lingkungan,” kata Pontjo.
Selain itu, kata Pontjo, menurut beberapa sumber, kualitas bahan baku nikel Indonesia masih tergolong rendah. Peningkatan kualitas bahan baku ini bisa dilakukan dengan memanfaatkan inovasi teknologi.
“Pnguasaan dan pengembangan inovasi teknologi, merupakan isu yang sangat penting dan strategis. Sebab teknologi dewasa ini telah menyebabkan terjadinya transisi perekonomian dunia yang semula berbasiskan pada sumber daya (Resource Based Economy) menjadi perekonomian yang berbasiskan pengetahuan (Knowledge Based Economy),” kata Pontjo.
Mengutip Data US Geological Survey (2019), dari 80 juta metrik ton cadangan nikel dunia, hampir 4 juta metrik ton tersimpan di Indonesia. Angka ini menempatkan Indonesia di peringkat ke-6 deposit nikel terbesar di dunia. (Baca juga: Tesla Pilih Bangun Pabrik Mobil Listrik di India, RI Kebagian Bikin Baterai )
“Sebelum diberlakukanya pelarangan ekspor bahan tambang mentah, Indonesia termasuk 3 besar negara pengekspor nikel dan mineral ikutannya. Namun sejak Januari 2020, pemerintah secara resmi melarang ekspor nikel mentah, baik sebagai batuan nikel (nickel ore), maupun bijih nikel yang kadar nikelnya di bawah 3%,” kata kata Ketua Aliansi Kebangsaan Pontjo Sutowo saat membuka Focus Group Discussion (FGD) Aliansi Kebangsaan yang digelar secara virtual, Jumat (19/2/2021). (Baca juga: KAMI Kritik Pengelolaan SDA dan Aset Negara yang Akal-akalan )
Walaupun kebijakan ini digugat oleh Organisasi Perdagangan Dunia ( WTO), namun kebijakan ini perlu dilanjutkan karena cadangan nikel di Indonesia akan terus menipis. Selain itu, kebijakan ini juga diambil dalam rangka program pemerintah terkait kendaraan listrik, karena nikel bisa dimanfaatkan untuk industri baterai kendaraan listrik yang mempunyai prospek sangat bagus ke depan.
“Untuk menangkap peluang ini dengan sebaik-baiknya, maka penguasaan inovasi teknologi baterai untuk kendaraan listrik merupakan kunci utama bagi Indonesia menjadi pemain utama di sektor electric vehicle yang ramah lingkungan,” kata Pontjo.
Selain itu, kata Pontjo, menurut beberapa sumber, kualitas bahan baku nikel Indonesia masih tergolong rendah. Peningkatan kualitas bahan baku ini bisa dilakukan dengan memanfaatkan inovasi teknologi.
“Pnguasaan dan pengembangan inovasi teknologi, merupakan isu yang sangat penting dan strategis. Sebab teknologi dewasa ini telah menyebabkan terjadinya transisi perekonomian dunia yang semula berbasiskan pada sumber daya (Resource Based Economy) menjadi perekonomian yang berbasiskan pengetahuan (Knowledge Based Economy),” kata Pontjo.
Lihat Juga :