Konflik Harimau Sumatera, Butuh Solusi Segera dan Bersama-sama untuk Mengatasinya
Minggu, 17 Januari 2021 - 16:26 WIB
loading...
Jurnalis yang tergabung dalam STFJ, bersama Tropical Forest Conservation Action-Sumatra (TFCA-Sumatera) menggelar diskusi bertajuk Telusur Jejak Harimau Sumatra di Langkat. Foto/SINDOnews/Sartana Nasution
A
A
A
MEDAN - Jurnalis yang tergabung dalam Sumatera Tropial Forest Journalism (STFJ) bersama Tropical Forest Conservation Action-Sumatra (TFCA-Sumatera), menggelar diskusi bertajuk "Telusur Jejak Harimau Sumatra di Langkat", Jumat (16/1/2021).
Baca juga: Ahli Temukan Fakta Baru Tentang Harimau Tasmania yang Sudah Punah
STFJ menggali mengapa konflik semakin massif. Apakah perubahan pola dan pengandangan ternak menjadi solusi?. Polemik konflik Harimau Sumatra (Panthera Tigris Sumatrae) memanas beberapa hari terakir dan ternak warga menjadi korban si belang. Terakhir terjadi di Kecamatan Besitang, Batangserangan, dan Bahorok.
Lima ekor ternak lembu warga Dusun Batu Katak, Desa Batu Jonjong, Kecamatan Bahorok, mati dengan kondisi luka gigitan di leher dan cakaran, pada Senin (11/1/2021). Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumut mencatat, sepanjang 2020 hingga Januari 2021, lebih dari 20 konflik harimau dengan manusia . Bahkan di antaranya juga memakan korban jiwa.
Untuk menyikapi konflik yang terjadi, perlu solusi bijaksana. Paling tidak, Harimau Sumatra yang diambang punah tidak tersakiti, terlebih manusia yang juga hidup berdampingan dengan habitatnya.
Baca juga: Terekam Kamera Trap, Harimau Sumatera Mangsa 5 Ekor Sapi Warga Langkat
Diskusi ini juga melibatkan narasumber (BBKSDA) Sumut, Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL), Kesatuan Pengelola Hutan (KPH) Wilayah I Stabat ikut hadir memberikan testimoni dan berbagai gambaran solusi.
Begitu juga dengan beberapa perwakilan pegiat konservasi antara lain, Wildlife Conservation Society Indonesia Program (WCS-IP), Sumatra Tiger Project, Leuser Conservation Partnership (LCP) dan sejumlah jurnalis yang aktif dalam isu-isu konservasi lingkungan.
Direktur STFJ Rahmad Suryadi menjelaskan, diskusi ini diselenggarakan berawal dari kegelisahan para jurnalis yang melihat meningkatnya konflik harimau yang terjadi. Bukan hanya di Kabupaten Langkat, seperti kasus teranyar terjadi di Dusun Sigalapang, Desa Meranti Timur, Kecamatan Pintu Pohan Meranti, Kabupaten Toba. Harimau memangsa ternak warga pada Rabu (13/1/2021).
"Kondisi ini tentunya menjadi tanggung jawab bersama lintas pihak. Sehingga perlu rumusan solusi yang bijak dalam penanganannya. Paling tidak bisa meminimalisir dampak konflik yang terjadi di sejumlah daerah. Kita sebagai jurnalis juga punya tanggung jawab itu untuk bisa sama-sama berkontribusi dalam upaya konservasi lingkungan," ujar Rahmad usai diskusi.
Baca juga: Ahli Temukan Fakta Baru Tentang Harimau Tasmania yang Sudah Punah
STFJ menggali mengapa konflik semakin massif. Apakah perubahan pola dan pengandangan ternak menjadi solusi?. Polemik konflik Harimau Sumatra (Panthera Tigris Sumatrae) memanas beberapa hari terakir dan ternak warga menjadi korban si belang. Terakhir terjadi di Kecamatan Besitang, Batangserangan, dan Bahorok.
Lima ekor ternak lembu warga Dusun Batu Katak, Desa Batu Jonjong, Kecamatan Bahorok, mati dengan kondisi luka gigitan di leher dan cakaran, pada Senin (11/1/2021). Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumut mencatat, sepanjang 2020 hingga Januari 2021, lebih dari 20 konflik harimau dengan manusia . Bahkan di antaranya juga memakan korban jiwa.
Untuk menyikapi konflik yang terjadi, perlu solusi bijaksana. Paling tidak, Harimau Sumatra yang diambang punah tidak tersakiti, terlebih manusia yang juga hidup berdampingan dengan habitatnya.
Baca juga: Terekam Kamera Trap, Harimau Sumatera Mangsa 5 Ekor Sapi Warga Langkat
Diskusi ini juga melibatkan narasumber (BBKSDA) Sumut, Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL), Kesatuan Pengelola Hutan (KPH) Wilayah I Stabat ikut hadir memberikan testimoni dan berbagai gambaran solusi.
Begitu juga dengan beberapa perwakilan pegiat konservasi antara lain, Wildlife Conservation Society Indonesia Program (WCS-IP), Sumatra Tiger Project, Leuser Conservation Partnership (LCP) dan sejumlah jurnalis yang aktif dalam isu-isu konservasi lingkungan.
Direktur STFJ Rahmad Suryadi menjelaskan, diskusi ini diselenggarakan berawal dari kegelisahan para jurnalis yang melihat meningkatnya konflik harimau yang terjadi. Bukan hanya di Kabupaten Langkat, seperti kasus teranyar terjadi di Dusun Sigalapang, Desa Meranti Timur, Kecamatan Pintu Pohan Meranti, Kabupaten Toba. Harimau memangsa ternak warga pada Rabu (13/1/2021).
"Kondisi ini tentunya menjadi tanggung jawab bersama lintas pihak. Sehingga perlu rumusan solusi yang bijak dalam penanganannya. Paling tidak bisa meminimalisir dampak konflik yang terjadi di sejumlah daerah. Kita sebagai jurnalis juga punya tanggung jawab itu untuk bisa sama-sama berkontribusi dalam upaya konservasi lingkungan," ujar Rahmad usai diskusi.
Lihat Juga :