Suku Sasak Sambut New Normal, Pariwisata Pun Mulai Bergeliat
Sabtu, 05 Desember 2020 - 07:30 WIB
loading...
Wisatawan mulai berdatangan di Desa Sade Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Jumat (4/12/2020). Foto:SINDONews/Ali Masduki
A
A
A
LOMBOK BARAT - Penerapan standar Kebersihan, Kesehatan, Keselamatan, dan Kelestarian Lingkungan (CHSE) melalui gerakan Bersih, Indah, Sehat, Aman (BISA), menjadi angin segar bagi masyarakat Suku Sasak untuk menggeliatkan kembali destinasi wiasata di daerah itu. Suku asli ini tinggal satu rumpun di Desa Sade Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) .
Program tersebut dihembuskan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ( Kemenparekraf/Baparekraf ) di sejumlah destinasi wisata Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Maklum saja, sejak COVID-19 mewabah di negeri ini semua sektor pariwisata dan industri kreatif menjadi yang pertamakali merasakan dampaknya. (Baca Juga: Bupati Lombok Barat Sebut Daerah Butuh Pemimpin dengan Legitimasi Kuat)
Sedangkan Desa Sade sendiri merupakan Desa Wisata yang masyarakatnya mengandalkan mata pencaharian dari ekonomi kreatif, selain bertani. Salah satu warga Desa Sade, Nurdin mengaku, beberapa bulan pada awal masa pandemi praktis tidak ada kunjungan wisata di desanya. Otomatis hasil produksi kerajinan Suku Sasak tidak ada yang membeli.
Namun, setelah masuk pada tatanan kehidupan baru dan didukung dengan program pemerintah keadaan berangsur pulih. “Selama pandemi COVID-19 sepi. Tapi Alhamdulillah sekarang sudah berangsur normal. Sudah ada tamu-tamu yang kesini," katanya. (Baca Juga: Singgah di Lombok, Mister Aladin Road Trip Protokol CHSE Kunjungi Pantai Malaka)
Hal yang sama juga diakui oleh Bina Alifa. Raut muka ibu satu anak ini nampak sumringah saat beberapa wisatawan melihat-lihat kain tenun yang dipajang di depan rumahnya. Meski belum seramai sebelum wabah COVID-19, Alifa sudah cukup bersyukur tenun kain dan ragam gelang-gelang etnik mulai terjual. “Sekarang lumayan ramai. Kalau kemarin-kemarin gak ada cuma lokal aja. Saya ingin pengunjung lebih ramai lagi," ucapnya.
Program tersebut dihembuskan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ( Kemenparekraf/Baparekraf ) di sejumlah destinasi wisata Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Maklum saja, sejak COVID-19 mewabah di negeri ini semua sektor pariwisata dan industri kreatif menjadi yang pertamakali merasakan dampaknya. (Baca Juga: Bupati Lombok Barat Sebut Daerah Butuh Pemimpin dengan Legitimasi Kuat)
Sedangkan Desa Sade sendiri merupakan Desa Wisata yang masyarakatnya mengandalkan mata pencaharian dari ekonomi kreatif, selain bertani. Salah satu warga Desa Sade, Nurdin mengaku, beberapa bulan pada awal masa pandemi praktis tidak ada kunjungan wisata di desanya. Otomatis hasil produksi kerajinan Suku Sasak tidak ada yang membeli.
Namun, setelah masuk pada tatanan kehidupan baru dan didukung dengan program pemerintah keadaan berangsur pulih. “Selama pandemi COVID-19 sepi. Tapi Alhamdulillah sekarang sudah berangsur normal. Sudah ada tamu-tamu yang kesini," katanya. (Baca Juga: Singgah di Lombok, Mister Aladin Road Trip Protokol CHSE Kunjungi Pantai Malaka)
Hal yang sama juga diakui oleh Bina Alifa. Raut muka ibu satu anak ini nampak sumringah saat beberapa wisatawan melihat-lihat kain tenun yang dipajang di depan rumahnya. Meski belum seramai sebelum wabah COVID-19, Alifa sudah cukup bersyukur tenun kain dan ragam gelang-gelang etnik mulai terjual. “Sekarang lumayan ramai. Kalau kemarin-kemarin gak ada cuma lokal aja. Saya ingin pengunjung lebih ramai lagi," ucapnya.
Lihat Juga :