Optimisme di Tengah Krisis Kemanusiaan
Minggu, 10 Mei 2020 - 09:58 WIB
loading...
A
A
A
Jangan jangan kita termasuk ummat yang yuhibbunaddzunubah wayansaunattaubah, lebih menyukai perbuatan dosa dari mulai dosa terkecil sampai dosa besar namun lupa bertaubat kita kepada Allah SAW. Jangan jangan dalam catatan Allah SWT banyak dari kita termasuk yuhibbunal kusuroh wayansaunal fahfaroh, lebih menyukai gedung yang megah, rumah mewah tapi lupa terhadap kuburan dan hari akhir dimana kita semua akan hidup lebih kekal atasnya.
Oleh sebab itukita harus ber muhasabah, menghitung hitung, kalau perlu mengakui dan taubat kepada allah swt. Hanya allah yang tahu caranya. Hasl seperti ini adalah pilihan dan ayat kauniyahnya. Mungkin atas nama kebaikan kita pantas sedikit disiksa. Optimisme tentu bukan menggampangkan masalah dan mengabaikan atau menerabas tatanan umum.
Optimis bukan sikap teledor. Optimisme itu kerelaan untuk terus berusaha tanpa patah. Optimis itu ialah positive mind, positive energy dan kehendak untuk mencapai kebaikan kemurahan Allah SWT.
Dalam setiap ajaran agama, optmisme itu sifatnya wajib, karena dimana mana ada tangan Allah yang akan menolong pada waktunya. Optimisme ialah keyakinan dan jiwa para Nabi dan Rasul. Tak ada Nabi dan Rasul yang hidup tanpa beban yang berat, namun semua Nabi dan Rasul adalah orang orang yang tak takluk dengan halangan, ancaman, kesulitan dan situasi yang memaksa maksa dan menghimpit himpit.
Jalan taubat atau berhenti melakukan kesalahan itu dengan berbagai cara beristigfar kepada Allah dan banyak berdzikir. Melakukan shalat taubat, dan berjanji kepada diri sendiri untuk sekuat tenaga untuk memperbaiki kesalahan kesalahan baik kepada allah swt atau memohon ampun atas kesalahan dengan orang lain, kepada orang tua kita yang membesarkan kita dengan susah payah.
Menurut ahli sufi, masih banyak lautan kesyukuran dan kenimatan yang allah berikan. Jangan putus asa, ayo bangkit, mari menengok kenikmatan ini dengan jalan berbagi kebaikan, alhamdulillah kita semua berangsung bangkit dengan berkahnya berpuasa.
Oleh sebab itukita harus ber muhasabah, menghitung hitung, kalau perlu mengakui dan taubat kepada allah swt. Hanya allah yang tahu caranya. Hasl seperti ini adalah pilihan dan ayat kauniyahnya. Mungkin atas nama kebaikan kita pantas sedikit disiksa. Optimisme tentu bukan menggampangkan masalah dan mengabaikan atau menerabas tatanan umum.
Optimis bukan sikap teledor. Optimisme itu kerelaan untuk terus berusaha tanpa patah. Optimis itu ialah positive mind, positive energy dan kehendak untuk mencapai kebaikan kemurahan Allah SWT.
Dalam setiap ajaran agama, optmisme itu sifatnya wajib, karena dimana mana ada tangan Allah yang akan menolong pada waktunya. Optimisme ialah keyakinan dan jiwa para Nabi dan Rasul. Tak ada Nabi dan Rasul yang hidup tanpa beban yang berat, namun semua Nabi dan Rasul adalah orang orang yang tak takluk dengan halangan, ancaman, kesulitan dan situasi yang memaksa maksa dan menghimpit himpit.
Jalan taubat atau berhenti melakukan kesalahan itu dengan berbagai cara beristigfar kepada Allah dan banyak berdzikir. Melakukan shalat taubat, dan berjanji kepada diri sendiri untuk sekuat tenaga untuk memperbaiki kesalahan kesalahan baik kepada allah swt atau memohon ampun atas kesalahan dengan orang lain, kepada orang tua kita yang membesarkan kita dengan susah payah.
Menurut ahli sufi, masih banyak lautan kesyukuran dan kenimatan yang allah berikan. Jangan putus asa, ayo bangkit, mari menengok kenikmatan ini dengan jalan berbagi kebaikan, alhamdulillah kita semua berangsung bangkit dengan berkahnya berpuasa.
(msd)
Lihat Juga :