Kampoeng Rajoet Binong Jati

Merajut Mimpi di Lubang Aron

loading...
Merajut Mimpi di Lubang Aron
Pekerja saat proses merajut di Nabila Collection, Kampoeng Rajoet Binong Jati, Kota Bandung. Foto/SINDOnews/Arif Budianto
KAMPOENG Rajoet Binong Jati dikenal telah ada sejak 1960-an. Industri rumahan ini menjadi tumpuan hidup bagi sekitar 4.000 warga di Kota Bandung. Sempat terlupakan akibat gempuran produk fesyen impor, kini Kampoeng Rajut Binong Jati mencoba bangkit kembali bersama campur tangan semua pihak yang peduli akan eksistensinya.

Suara khas gesekan mesin rajut manual merek Aron dan Linking terdengar saling bersahutan dari satu rumah ke rumah lainnya di kawasan padat penduduk Binong Jati, Kecamatan Batununggal, Kota Bandung. Berbeda dengan mesin rajut otomatisasi seharga ratusan juta, mesin Aron mesti digerakkan secara manual menggunakan tangan.

Seolah tak menghiraukan hirup-pikuk kota, ribuan buruh bekerja sejak pagi hingga larut malam. Tangan-tangan kekar dari lelaki perkasa, seolah tak kenal lelah menggerakkan handle mesin Aron ke kiri dan kanan.

Keringat bercucuran tak lagi menjadi nestapa bagi ribuan tenaga kerja di dalamnya. Merajut, mengobras, hingga mengemas rajutan menjadi produk fesyen berkelas.



Lelah bukan penghalang bagi Apen, 29 tahun, terus menggerakkan mesin berukuran 1,5 meter, kendati matahari telah terbenam. Tak ada waktu baginya sekadar merasakan pegalnya kaki akibat berdiri atau duduk berjam-jam. Mata tak bisa terpejam agar rajutan benang sempurna.

Apen bekerja bersama harapan masa depan keluarganya. Bergelut dengan lubang jarum pada mesin tua. Memiliki penghasilan Rp3 hingga 4 juta perbulan, adalah pencapaian luar biasa bagi pria asal Cianjur yang hidup di kota metropolitan Bandung. "Sejauh ini, penghasilan yang saya dapat sangat mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari," kata Apen.

10 tahun Apen bergelut dengan pekerjaan ini. Memasukkan benang ke lubang jarum mesin rajut Aron agar mereka yang mengenakannya tampak trendi. Merajut satu-satunya keahlian yang dia miliki, untuk menyambung hidup istri dan dua anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD).



Apen hanyalah satu dari sekitar 4.000-an pekerja rajut di wilayah seluas 0,72 km persegi. Pekerja yang siang malam merajut tanpa henti, menggantungkan harapannya di industri rumahan ini. Apen hanya bisa berharap, kawasan rajut ini tetap bertahan hingga generasi mendatang.
halaman ke-1 dari 5
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top