Merajut Mimpi di Lubang Aron

Selasa, 15 September 2020 - 19:32 WIB
loading...
Merajut Mimpi di Lubang...
Pekerja saat proses merajut di Nabila Collection, Kampoeng Rajoet Binong Jati, Kota Bandung. Foto/SINDOnews/Arif Budianto
A A A
KAMPOENG Rajoet Binong Jati dikenal telah ada sejak 1960-an. Industri rumahan ini menjadi tumpuan hidup bagi sekitar 4.000 warga di Kota Bandung. Sempat terlupakan akibat gempuran produk fesyen impor, kini Kampoeng Rajut Binong Jati mencoba bangkit kembali bersama campur tangan semua pihak yang peduli akan eksistensinya.

Suara khas gesekan mesin rajut manual merek Aron dan Linking terdengar saling bersahutan dari satu rumah ke rumah lainnya di kawasan padat penduduk Binong Jati, Kecamatan Batununggal, Kota Bandung. Berbeda dengan mesin rajut otomatisasi seharga ratusan juta, mesin Aron mesti digerakkan secara manual menggunakan tangan.

Seolah tak menghiraukan hirup-pikuk kota, ribuan buruh bekerja sejak pagi hingga larut malam. Tangan-tangan kekar dari lelaki perkasa, seolah tak kenal lelah menggerakkan handle mesin Aron ke kiri dan kanan.

Keringat bercucuran tak lagi menjadi nestapa bagi ribuan tenaga kerja di dalamnya. Merajut, mengobras, hingga mengemas rajutan menjadi produk fesyen berkelas.

Lelah bukan penghalang bagi Apen, 29 tahun, terus menggerakkan mesin berukuran 1,5 meter, kendati matahari telah terbenam. Tak ada waktu baginya sekadar merasakan pegalnya kaki akibat berdiri atau duduk berjam-jam. Mata tak bisa terpejam agar rajutan benang sempurna.

Apen bekerja bersama harapan masa depan keluarganya. Bergelut dengan lubang jarum pada mesin tua. Memiliki penghasilan Rp3 hingga 4 juta perbulan, adalah pencapaian luar biasa bagi pria asal Cianjur yang hidup di kota metropolitan Bandung. "Sejauh ini, penghasilan yang saya dapat sangat mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari," kata Apen.

10 tahun Apen bergelut dengan pekerjaan ini. Memasukkan benang ke lubang jarum mesin rajut Aron agar mereka yang mengenakannya tampak trendi. Merajut satu-satunya keahlian yang dia miliki, untuk menyambung hidup istri dan dua anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD).

Apen hanyalah satu dari sekitar 4.000-an pekerja rajut di wilayah seluas 0,72 km persegi. Pekerja yang siang malam merajut tanpa henti, menggantungkan harapannya di industri rumahan ini. Apen hanya bisa berharap, kawasan rajut ini tetap bertahan hingga generasi mendatang.

Sehari-hari, Apen bekerja di Nabila Collection milik Deni Somantri. Salah satu usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dari sekitar 420-an pelaku usaha rajut di Binong Jati. Dalam sehari, Nabila Collection mampu memproduksi sekitar 25 lusin atau sekitar 7.500 pieces produk rajutan.

Menggunakan 10 mesin, Nabila Collection bisa menghabiskan 450 kilogram benang dalam seminggu. Nabila bekerjasama dengan salah satu perusahaan di kawasan tersebut untuk memasarkan produk rajutan melalui platform online.

Usaha yang telah dirintis selama 15 tahun bersama istrinya ini, dilaluinya penuh pahit dan getir. Berjuang di awal usahanya, sempat tertatih-tatih, dan kembali bangkit dalam tiga tahun terakhir.

"Beberapa tahun lalu, industri rajut sempat lesu, yang juga berimbas ke usaha saya. Produksi turun sampai 40%. Salah satu penyebabnya karena produk rajutan dianggap kurang trendi. Mungkin karena saat itu banyak produk fesyen impor," kata Deni Somantri, Senin (7/9/2020).

Dibukanya perjanjian perdagangan bebas, ASEAN China Free Trade Agreement (ACFTA), membuat importasi tekstil dan produk tekstil (TPT) ke Indonesia terus meningkat. Pada 2018, pertumbuhan impor TPT tercatat sangat tinggi. Data Bank Indonesia (BI), nilai impor TPT Indonesia naik 14,8% dari USD7,5 miliar menjadi USD8,6 miliar.

Apalagi, saat itu usahanya masih kategori mikro. Rajutan yang dihasilkan hanya belasan lusin dari lima mesin yang dimiliki. Tenaga kerja pun masih terbatas, tak lebih dari tujuh perajin, termasuk dia dan istrinya.

Dia bersyukur, usahanya tetap jalan walaupun tidak sedikit perajin di Binong Jati bertumbangan. Mereka bersaing di gang sempit, di tengah modernisasi tekstil dunia. Permintaan produk rajut dari pasar grosir seperti Tanah Abang turun drastis. Tidak sedikit perajin yang meninggalkan pekerjaannya, demi menyambung hidup.

Perhimpunan perajin yang tergabung dalam Kampoeng Rajoet Binong Jati mencatat, jumlah pelaku usaha rajut saat itu hanya tersisa sekitar 100 unit, dari jumlah sebelumnya sekitar 400-an pelaku usaha. Sentra ekonomi yang pernah jadi tumpuan Kota Bandung ini, saat itu berada pada titik nadir.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Gencar Konsolidasi,...
Gencar Konsolidasi, Marselinus Minta Kader Perindo Palu Aktif Dampingi UMKM dan Peternak
Ekonomi Lesu, Welhelm...
Ekonomi Lesu, Welhelm Kurnala Perkuat UMKM Maluku lewat Dana Stimulan
Pekan Dekranasda Tangsel...
Pekan Dekranasda Tangsel 2026, Momentum Perkenalkan Produk Lokal UMKM
Pemberdayaan UMKM Sawit,...
Pemberdayaan UMKM Sawit, BPDP Raih Penghargaan Medbun Awards
Produk Olahan Singkong...
Produk Olahan Singkong Sleman Terus Dikembangkan
Kolaborasikan Musik-UMKM,...
Kolaborasikan Musik-UMKM, Konser HS Hey Slank Bandung Dipadati 25 Ribu Slankers
Jay Singgih Dorong Pengusaha...
Jay Singgih Dorong Pengusaha Muda Papua Bersinergi Menuju Indonesia Emas 2045
Masa Transisi ke B50...
Masa Transisi ke B50 Berlangsung hingga September, Penyaluran Dilakukan Bertahap
Next Step Bangun Jembatan...
Next Step Bangun Jembatan Dagang UMKM Indonesia ke China
Rekomendasi
Obat Kuat dengan Efek...
Obat Kuat dengan Efek hingga 3 Hari, Amankah? Yuk Kenali Faktanya Sebelum Mengkonsumsi
S&P Tahan RI Masih Investment...
S&P Tahan RI Masih Investment Grade, Fuad Bawazier Prediksi Ekonomi Bangkit 6 Bulan Lagi!
Pelimpahan Berkas Perkara...
Pelimpahan Berkas Perkara Febrie Dinilai Tindakan Rasional
Berita Terkini
Libur Sekolah Lebih...
Libur Sekolah Lebih Pengaruhi Order Online daripada Komisi 8 Persen
UB Gandeng CNGR-Kementerian...
UB Gandeng CNGR-Kementerian ESDM, Perkuat Hilirisasi Industri dan Siapkan SDM Unggul
Polda Riau Bongkar Sawmill...
Polda Riau Bongkar Sawmill Illegal di Kampar, Sita Ratusan Batang Kayu Hasil Illegal Logging
Kepala BSKDN Kemendagri...
Kepala BSKDN Kemendagri Ajak Mahasiswa KKN Hadirkan Inovasi untuk Kemajuan Kepulauan Yapen
FKGI Dukung Arah Kebijakan...
FKGI Dukung Arah Kebijakan Kemenhut, Infrastruktur Diminta Lindungi Koridor Gajah
Pria Tewas di Kamar...
Pria Tewas di Kamar Hotel Mewah Kuningan Jaksel, Ada Luka Tembak
Infografis
10 Negara dengan Harga...
10 Negara dengan Harga Bensin Termurah di Dunia, Libya Cuma Rp427 per Liter
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved