Doa Warga Raja Ampat: Petahana Harus Tumbang dan Kami Memilih Kotak Kosong
Minggu, 06 September 2020 - 06:27 WIB
loading...
A
A
A
Alasan mereka memilih lokasi ini agar tidak terjadi konflik dengan massa pendukung yang mengarak pasangan AFU-ORI serta dan aparat Kepolisian yang tengah berjaga-jaga di kantor KPUD Raja Ampat.
Dalam kegiatan doa bersama itu, Pendeta Padwa mengungkapkan doa bersama ini sebagai doa khusus bagi demi masa depan Kabupaten Raja Ampat. Selain itu menurut Padwa, mereka berdoa agar petinggi partai politik di Jakarta dapat memikirkan ulang pemberian surat dukungan kepada calon petahana Abdul Faris Umlati. (BACA JUGA: Residivis Sadis Kasus Curas Tewas Ditembak Satres Polres Musi Banyuasin)
Pimpinan Parpol di Jakarta, dapat memberikan dukungan kepada calon lainnya agar pilkada bupati dan wakil bupati di Raja Ampat bisa berjalan secara demokratis.
![Doa Warga Raja Ampat: Petahana Harus Tumbang dan Kami Memilih Kotak Kosong]()
“Kami berdoa bersama untuk masa depan Raja Ampat ini. Kiranya para petinggi partai di Jakarta dapat memikirkan ulang keputusan mereka dan membatalkan keputusan partai serta menerbitkan surat keputusan kepada calon bupati dan wakil bupati lain, sehingga pilkada di Raja Ampat berlangsung secara demokratis. Masyarakat sudah tidak mau dipimpin bupati yang sekarang, makanya dukungan partai politik diambilnya semua,” kata Pendeta Padwa membuka kegiata doa bersama tersebut.
Lebih lanjut Padwa mengatakan, dalam Pilkada saat ini, sang petahana Abdul Faris Umlati, ini bukanlah Orang Asli Papua (OAP), sehingga seenaknya saja membuat kebijakan dan mengabaikan harapan besar OAP. Oleh karena itu, masyarakat Raja Ampat harus bersatu untuk melawannya.
“Anak-anakku, besok kita akan membangun kembali Raja Ampat dan kembali ke kampung kita masing-masing. Kita akan menghadapi kotak kosong. Dia (petahana) bukan anak negeri ini. Bahkan dari kita punya, hasilnya (yang dimiliki petahana). Dia membanggakan diri dan hari ini dia bersorak-sorak,” tegasnya sambil menghapus air matanya.
Dalam perhelatan pilkada bupati dan wakil bupati di Papua dan Papua Barat, menjelang penutupan pendaftaran pasangan calon pada Minggu (6/9/2020) hari ini, Majelis Rakyat Papua dan Papua Barat telah mengeluarkan pernyatan tegas dimana mereka menolak calon bupati dan wakilnya yang bukan asli orang Papua.
Dalam kegiatan doa bersama itu, Pendeta Padwa mengungkapkan doa bersama ini sebagai doa khusus bagi demi masa depan Kabupaten Raja Ampat. Selain itu menurut Padwa, mereka berdoa agar petinggi partai politik di Jakarta dapat memikirkan ulang pemberian surat dukungan kepada calon petahana Abdul Faris Umlati. (BACA JUGA: Residivis Sadis Kasus Curas Tewas Ditembak Satres Polres Musi Banyuasin)
Pimpinan Parpol di Jakarta, dapat memberikan dukungan kepada calon lainnya agar pilkada bupati dan wakil bupati di Raja Ampat bisa berjalan secara demokratis.
.jpg)
“Kami berdoa bersama untuk masa depan Raja Ampat ini. Kiranya para petinggi partai di Jakarta dapat memikirkan ulang keputusan mereka dan membatalkan keputusan partai serta menerbitkan surat keputusan kepada calon bupati dan wakil bupati lain, sehingga pilkada di Raja Ampat berlangsung secara demokratis. Masyarakat sudah tidak mau dipimpin bupati yang sekarang, makanya dukungan partai politik diambilnya semua,” kata Pendeta Padwa membuka kegiata doa bersama tersebut.
Lebih lanjut Padwa mengatakan, dalam Pilkada saat ini, sang petahana Abdul Faris Umlati, ini bukanlah Orang Asli Papua (OAP), sehingga seenaknya saja membuat kebijakan dan mengabaikan harapan besar OAP. Oleh karena itu, masyarakat Raja Ampat harus bersatu untuk melawannya.
“Anak-anakku, besok kita akan membangun kembali Raja Ampat dan kembali ke kampung kita masing-masing. Kita akan menghadapi kotak kosong. Dia (petahana) bukan anak negeri ini. Bahkan dari kita punya, hasilnya (yang dimiliki petahana). Dia membanggakan diri dan hari ini dia bersorak-sorak,” tegasnya sambil menghapus air matanya.
Dalam perhelatan pilkada bupati dan wakil bupati di Papua dan Papua Barat, menjelang penutupan pendaftaran pasangan calon pada Minggu (6/9/2020) hari ini, Majelis Rakyat Papua dan Papua Barat telah mengeluarkan pernyatan tegas dimana mereka menolak calon bupati dan wakilnya yang bukan asli orang Papua.
Lihat Juga :