Kisah Hamengkubuwono II, Raja Jawa yang Dimakzulkan dan Istananya Dijarah Tentara Eropa

Selasa, 12 Desember 2023 - 06:18 WIB
loading...
Kisah Hamengkubuwono...
Sri Sultan Hamengkubuwono II, salah satu raja Jawa yang kekuasaannya berakhir mengenaskan. Foto/Wikipedia
A A A
Sri Sultan Hamengkubuwono II yang bertakhta mulai tahun 1792 merupakan salah satu raja Jawa yang kekuasaannya berakhir mengenaskan.

Hamengkubuwono II dipaksa turun tahta setelah 1.200 tentara Eropa dan Sipahi India serta 800 prajurit Legiun Mangkunegara, menyerbu istananya.

Peristiwa pemakzulan Hamengkubuwono II berlangsung pada bulan Juni 1812, yakni pada masa kolonial Inggris yang dipimpin Letnan Gubernur Jawa Thomas Stamford Raffles (1811-1816)

“Hamengkubowono II dimakzulkan dan dibuang ke Penang,” demikian dikutip dari buku Sejarah Indonesia Modern 1200-2008 (2008).

Baca Juga: Sri Sultan Hamengkubuwono (HB) II Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional

Hamengkubuwono II merupakan putra kelima Sultan Hamengkubuwono I yang menikah dengan permaisuri Gusti Kangjeng Ratu Hageng atau GKR Kadipaten.

Lahir 7 Maret 1750 di kawasan Gunung Sindoro, Hamengkubuwono II memiliki nama kecil Gusti Raden Mas Sundara.

Pada usia 24 tahun Raden Mas Sundara telah menulis kitab Suryaraja yang isinya tentang ramalan tidak terjadinya mitos akhir abad, yakni salah satu kerajaan akan runtuh.

Surakarta dan Yogyakarta akan bersatu di bawah pemerintahannya. Kolonial Inggris kurang menyukai Hamengkubuwono II. Saat bertahta, sikap Hamengkubuwono II dinilai tidak bisa diharapkan kerjasamanya.

Sebagai pejabat baru, Residen Yogyakarta John Crawfurd (1811-1814) menilai Hamengkubuwono II tidak bisa dibiarkan. Bahkan saat melakukan kunjungan ke istana Yogyakarta pada Desember 1811, Raffles merasakan sendiri sikap permusuhan Hamengkubuwono II.

“Yang dalam satu kejadian hampir saja menimbulkan perkelahian bersenjata di dalam sebuah ruangan yang penuh orang”.

Penyerbuan kolonial Inggris dengan pasukan Eropanya membuat Hamengkubuwono II tidak berdaya. Tidak hanya menurunkan paksa, pasukan Eropa juga menjarah istana Yogyakarta.

“Istana Yogyakarta dirampok, perpustakaan dan arsipnya dirampas, sejumlah besar uang diambil”.

Untuk mengisi kekosongan tahta kerajaan Mataram, Kolonial Inggris mengangkat GRM Suraja, yakni putra mahkota Yogyakarta, sebagai Sultan Hamengkubuwono III.

Natakusuma yang dianggap berjasa dalam serangan itu dihadiahi oleh Inggris sebuah daerah merdeka yang didiami 4.000 rumah tangga. Natakusuma juga dianugerahi gelar Pakualam I (1813-1829) disertai pembentukan Korps Pakualaman yang terdiri atas 100 prajurit kavaleri.

Pakualam di Yogyakarta merupakan cerminan dari Mangkunegaran di Surakarta. “Lengkaplah sudah pembagian Kerajaan Mataram ke dalam dua kerajaan senior dan dua junior”.

Peristiwa penyerbuan istana Yogyakarta oleh orang asing (Eropa) dan sekaligus dimakzulkannya raja merupakan peristiwa pertama kalinya dalam sejarah Jawa. Peristiwa itu membuat kalangan bangsawan Yogyakarta merasa dihina.

Para bangsawan tidak ragu lagi untuk meyakini bahwa zaman baru telah menyingsing di Jawa. Hamengkubuwono II kembali bertahta pada 18 Agustus 1826 dengan bantuan Belanda, yakni menyingkirkan Hamengkubuwono V.

Hamengkubuwono II yang juga dikenal dengan panggilan Sultan Sepuh mangkat pada 3 Januari 1828 setelah menderita penyakit radang tenggorokan dan faktor usia tua.
(hri)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Ribuan Penonton Final...
Ribuan Penonton Final PFL 2026 Ciptakan Peluang Ekonomi bagi Pengusaha Ultra Mikro
Sudirman Said: Kepemimpinan...
Sudirman Said: Kepemimpinan Berkelanjutan Lahir dari Sistem yang Kuat
POCE JOBFAIR 2026 di...
POCE JOBFAIR 2026 di UPN Veteran Yogya Hadirkan Ribuan Peluang Karier
196 Tahun Keris Kanjeng...
196 Tahun Keris Kanjeng Kiai Nogo Siluman, Pusaka Pangeran Diponegoro Simbol Kepemimpinan Tanah Jawa
Kisah Jenderal Kopassus...
Kisah Jenderal Kopassus Soegito Pertaruhkan Nyawa saat Hadapi Pemberontak Fretilin
Rayakan HUT ke-4, Next...
Rayakan HUT ke-4, Next Hotel Yogyakarta Gelar Donor Darah dan Pemeriksaan Kesehatan Gratis
Said Didu ke Presiden...
Said Didu ke Presiden Prabowo: Kawan Bapak Tuh Ada di Luar, Bukan di Dalam
Reuni Harmoni Lintas...
Reuni Harmoni Lintas Generasi
Karaton Ngayogyakarta...
Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat Perkuat Promosi Budaya dan Pariwisata Yogyakarta di Pasar Global
Rekomendasi
Harga Emas Bangkit usai...
Harga Emas Bangkit usai Trump Sebut Selat Hormuz Dibuka Pekan Ini
Piala Dunia 2026: Haaland...
Piala Dunia 2026: Haaland Ngamuk, Norwegia Ungguli Irak di Babak Pertama
Ditegur Delegasi Belanda...
Ditegur Delegasi Belanda karena Merokok saat KMB, Jawaban Agus Salim Ini Membuat Mereka Terdiam
Berita Terkini
5 Titik Demo di Jakarta...
5 Titik Demo di Jakarta Hari Ini, Bundaran HI hingga Gedung DPR
Budiman Sudjatmiko Ungkap...
Budiman Sudjatmiko Ungkap Dialog dengan Mahasiswa di UGM Gagal Terjadi: Ada Penghakiman
Kang Cucun Ajak Pesantren...
Kang Cucun Ajak Pesantren Cetak Santri Unggul Berjiwa Wirausaha dan Literasi Digital
Peringati Tahun Baru...
Peringati Tahun Baru Islam, DPP PSI Santuni 100 Anak Yatim dan Duafa
KAMMI Sesalkan Pembubaran...
KAMMI Sesalkan Pembubaran Forum Diskusi di UGM
Gempa Magnitudo 6,7...
Gempa Magnitudo 6,7 Guncang Sulteng, 1 Warga Sigi Meninggal Dunia
Infografis
Trionda, Bola Robotik...
Trionda, Bola Robotik Piala Dunia 2026 yang Punya Baterai dan Sensor VAR
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved