Kisah Denmas Mendung yang Obati Soekarno Kecil dengan Metode Ganti Nama
Sabtu, 15 Juli 2023 - 09:33 WIB
loading...
A
A
A
Tapi, rumah Denmas Mendung tertutup. Saat diketuk si empunya tak juga keluar. Penasaran, Ida Ayu mengintip di lubang kunci. Ternyata tuan rumah ada di dalam. Setengah berteriak Ida Ayu mengancam mendobrak rumah jika si empunya rumah tak keluar.
Akhirnya pintu rumah dibuka. Alangkah terkejutnya mereka berdua mengetahui bahwa yang menyamar Denmas Mendung adalah RM Soemosewojo yang tak lain adik sepupu Soekeni.
Soemosewojo adalah orang yang diutus Soekeni untuk melamar Ida Ayu di Buleleng, Bali. Mereka pun berpelukan saling melepas kangen.
Tak lama setelah pertemuan mengharukan itu, Soekeni, Ida Ayu, serta dua anaknya diajak sowan ke Ndalem Pojok di Wates, Kediri. Mereka naik kereta api hingga ke Wates dilanjutkan naik dokar ke Dusun Krapak, Desa Wates, Kediri.
Keluarga Soekeni disambut antusias RM Panji Soemosewojo yang merupakan ayah kandung RM Soemosewojo.
Dalam pertemuan itu, Eyang Panji, sapaan RM Panji Soemosewojo, menyarankan agar Soekeni menitipkan Koesno yang kelak diganti namanya menjadi Soekarno di Ndalem Pojok.
Baca Juga: Kisah Maksum Jauhari, Ulama dan Pendekar Silat Legendaris NU yang Miliki Berbagai Karamah
Apalagi, Koesno baru sembuh dan membutuhkan pemulihan kondisi tubuh. Lingkungan dan udara di Wates cukup bersih karena berada di kaki Gunung Kelud sangat baik untuk Koesno.
Soekeni setuju meski harus bolak-balik Jombang-Kediri untuk menjenguk anak istrinya. Tapi, Soekeni semringah sebab Koesno kecil makin sehat dan berotot, tidak seperti sebelumnya, kurus.
Ditambah halaman Ndalem Pojok yang luas memungkinkan Koesno kecil bergerak lincah. ”Saat kecil Bung Karno suka berebut jangkrik, sering makan ubi bakar pembarian teman sepermainan,” ungkap Suratmi.
Salain itu, Bung Karno kecil suka menaiki kerbau peliharaan Eyang Panji. Sebenarnya kerbau itu liar, tapi Bung Karno berhasil mendekati dan akhirnya menaklukkannya dengan cara lembut, dielus-elus.
”Itu salah satu kelebihan Bung Karno dibanding anak lain seusianya," tuturnya.
Baca Juga: Kisah Runtuhnya Kerajaan Sunda, Raja Galuh Langgar Nikahi Wanita dari Majapahit
Menginjak usia lima tahun, Koesno yang sudah berganti nama Soekarno diboyong kembali Soekeni ke Ploso, Jombang. Kondisi perekonomian Soekeni lebih bagus. Mereka pun menempati rumah lebih bagus di kompleks Kantor Wedana Ploso.
Sebelumnya, Soekeni harus tinggal di rumah papan. Meski tinggal bersama orangtuanya di Ploso, Jombang. Soekarno tidak begitu saja melupakan Ndalem Pojok Wates. Setiap liburan Soekarno selalu menyempatkan diri datang ke Wates bermain dengan anak sebayanya.
Akhirnya pintu rumah dibuka. Alangkah terkejutnya mereka berdua mengetahui bahwa yang menyamar Denmas Mendung adalah RM Soemosewojo yang tak lain adik sepupu Soekeni.
Soemosewojo adalah orang yang diutus Soekeni untuk melamar Ida Ayu di Buleleng, Bali. Mereka pun berpelukan saling melepas kangen.
Tak lama setelah pertemuan mengharukan itu, Soekeni, Ida Ayu, serta dua anaknya diajak sowan ke Ndalem Pojok di Wates, Kediri. Mereka naik kereta api hingga ke Wates dilanjutkan naik dokar ke Dusun Krapak, Desa Wates, Kediri.
Keluarga Soekeni disambut antusias RM Panji Soemosewojo yang merupakan ayah kandung RM Soemosewojo.
Dalam pertemuan itu, Eyang Panji, sapaan RM Panji Soemosewojo, menyarankan agar Soekeni menitipkan Koesno yang kelak diganti namanya menjadi Soekarno di Ndalem Pojok.
Baca Juga: Kisah Maksum Jauhari, Ulama dan Pendekar Silat Legendaris NU yang Miliki Berbagai Karamah
Apalagi, Koesno baru sembuh dan membutuhkan pemulihan kondisi tubuh. Lingkungan dan udara di Wates cukup bersih karena berada di kaki Gunung Kelud sangat baik untuk Koesno.
Soekeni setuju meski harus bolak-balik Jombang-Kediri untuk menjenguk anak istrinya. Tapi, Soekeni semringah sebab Koesno kecil makin sehat dan berotot, tidak seperti sebelumnya, kurus.
Ditambah halaman Ndalem Pojok yang luas memungkinkan Koesno kecil bergerak lincah. ”Saat kecil Bung Karno suka berebut jangkrik, sering makan ubi bakar pembarian teman sepermainan,” ungkap Suratmi.
Salain itu, Bung Karno kecil suka menaiki kerbau peliharaan Eyang Panji. Sebenarnya kerbau itu liar, tapi Bung Karno berhasil mendekati dan akhirnya menaklukkannya dengan cara lembut, dielus-elus.
”Itu salah satu kelebihan Bung Karno dibanding anak lain seusianya," tuturnya.
Baca Juga: Kisah Runtuhnya Kerajaan Sunda, Raja Galuh Langgar Nikahi Wanita dari Majapahit
Menginjak usia lima tahun, Koesno yang sudah berganti nama Soekarno diboyong kembali Soekeni ke Ploso, Jombang. Kondisi perekonomian Soekeni lebih bagus. Mereka pun menempati rumah lebih bagus di kompleks Kantor Wedana Ploso.
Sebelumnya, Soekeni harus tinggal di rumah papan. Meski tinggal bersama orangtuanya di Ploso, Jombang. Soekarno tidak begitu saja melupakan Ndalem Pojok Wates. Setiap liburan Soekarno selalu menyempatkan diri datang ke Wates bermain dengan anak sebayanya.
Lihat Juga :