7 Fakta Kontroversi Festival Nonhalal di Solo, Diprotes hingga Ancaman Gugatan Hukum
Jum'at, 05 Juli 2024 - 18:31 WIB
Festival kuliner non-halal di Mall Solo Paragon, Solo kembali dibuka setelah sebelumnya sempat terhenti akibat protes tdari Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS). Foto/R Augus
Festival kuliner non-halal di Mall Solo Paragon, Solo, Jawa Tengah kembali dibuka setelah sebelumnya sempat terhenti akibat protes dari Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS).
Festival makanan ini berlangsung hingga 7 Juli 2024 dan terbuka untuk umum. Di balik keramaian festival ini, terdapat sejumlah kontroversi yang menyertainya.
Baca juga: Diprotes Dewan Syariah Kota Surakarta, Festival Non-Halal di Solo Kembali Digelar
Meski demikian, festival ini tetap mendapatkan perhatian dan kunjungan dari masyarakat. Ken, event organizer festival ini, mengungkapkan rasa syukurnya bahwa acara dapat dilanjutkan dengan mematuhi permintaan dari DSKS.
Keputusan ini menunjukkan adanya kompromi antara penyelenggara dan pihak yang memprotes, meski tetap tidak menghilangkan kontroversi yang ada.
Humas DSKS, Endro Sudarsono, menyatakan bahwa meskipun mereka menghargai makanan dari kalangan nonmuslim, sifatnya adalah imbauan dan pernyataan sikap untuk menjaga ketenangan umat. Kontroversi ini muncul karena adanya kekhawatiran masyarakat terhadap eksposisi produk nonhalal yang dianggap terlalu vulgar.
Festival makanan ini berlangsung hingga 7 Juli 2024 dan terbuka untuk umum. Di balik keramaian festival ini, terdapat sejumlah kontroversi yang menyertainya.
Baca juga: Diprotes Dewan Syariah Kota Surakarta, Festival Non-Halal di Solo Kembali Digelar
Berikut 7 Fakta kontroversi Festival Kuliner Nonhalal di Solo:
1. Kembali Diadakan Setelah Protes DSKS
Festival nonhalal di Mall Solo Paragon sempat dihentikan karena protes dari DSKS. Namun, acara ini kembali digelar dengan beberapa penyesuaian seperti pelepasan banner yang dianggap terlalu vulgar dan pemasangan penutup di setiap tenant.Meski demikian, festival ini tetap mendapatkan perhatian dan kunjungan dari masyarakat. Ken, event organizer festival ini, mengungkapkan rasa syukurnya bahwa acara dapat dilanjutkan dengan mematuhi permintaan dari DSKS.
Keputusan ini menunjukkan adanya kompromi antara penyelenggara dan pihak yang memprotes, meski tetap tidak menghilangkan kontroversi yang ada.
2. Imbauan DSKS kepada Umat Islam
Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) mengimbau umat Islam di Solo Raya untuk menghindari festival kuliner non-halal ini.Humas DSKS, Endro Sudarsono, menyatakan bahwa meskipun mereka menghargai makanan dari kalangan nonmuslim, sifatnya adalah imbauan dan pernyataan sikap untuk menjaga ketenangan umat. Kontroversi ini muncul karena adanya kekhawatiran masyarakat terhadap eksposisi produk nonhalal yang dianggap terlalu vulgar.
Lihat Juga :