BPJAMSOSTEK Donasikan Gaji Demi Lindungi Tenaga Medis dan Relawan
Selasa, 14 April 2020 - 17:16 WIB
Naufal juga menerangkan, manfaat JKK sangat lengkap, diantaranya jika peserta mengalami kecelakaan kerja dan tidak dapat bekerja untuk sementara waktu, BPJAMSOSTEK akan membayarkan 100% gajinya untuk 12 bulan, dan seterusnya sebesar 50% hingga sembuh.
Di sisi lain, lanjutnya, bagi tenaga medis peserta BPJAMSOSTEK yang bekerja di rumah sakit yang ditunjuk pemerintah untuk merawat langsung pasien corona dan dirinya meninggal dunia atau mengalami cacat total tetap akibat terinfeksi virus tersebut, maka ahli waris akan mendapatkan santunan JKK sebesar 48 kali upah yang dilaporkan.
Selain itu jika peserta meninggal dunia diluar kecelakaan kerja, ahli warisnya akan mendapatkan manfaat program JKM, berupa santunan Rp42 juta dan beasiswa maksimal sebesar Rp174 juta untuk dua orang anak.
Melalui perlindungan yang diberikan oleh BPJAMSOSTEK ini, Naufal mengharapkan para relawan dapat fokus memberikan pelayanan terbaiknya kepada pasien Covid-19, sehingga angka kesembuhan terus meningkat dan pandemi ini bisa segera berakhir. "Anda merawat pasien, kami melindungi anda, kita bersama selamatkan bangsa," tuturnya.
Kepala Cabang Surabaya Tanjung Perak, Galuh Santi Utari, mengakui bahwa kebijakan tersebut merupakan keputusan yang sangat mulia. Pihaknya menyambut baik himbauan dari management dan segera mengajak karyawan berperan aktif dalam mendonasikan sebagian gajinya untuk membantu menangani Covid-19 ini. Dengan pembagian kerja, sebagian karyawan Work Form Home (WFH) dan sebagian Work At Ofiice (WAO),
"Disinilah ujian tingkat kesabaran kita. Apabila kita sabar maka kita akan menang menghadapi pandemi Covid 19. Semoga kita semua diberikan kesehatan, kekuatan dan kemudahan serta dilindungi oleh Allah SWT untuk melewati semua ini. Semoga Pandemi Covid 19 ini segera berakhir, Aamiin YRA," ucapnya.
Sementara itu, Deputi Bidang Pencegahan BNPB, Lilik Kurniawan, mengapresiasi inisiatif BPJAMSOSTEK dalam merespon wabah Covid-19 di Indonesia. "Saya mengucapkan terima kasih atas kepedulian BPJAMSOSTEK kepada seluruh relawan yang berjuang sebagai garda terdepan dalam penanganan Covid-19. Meski mereka bekerja dengan sukarela, namun perlindungan diri tetap diutamakan," ungkap Lilik.
Di sisi lain, lanjutnya, bagi tenaga medis peserta BPJAMSOSTEK yang bekerja di rumah sakit yang ditunjuk pemerintah untuk merawat langsung pasien corona dan dirinya meninggal dunia atau mengalami cacat total tetap akibat terinfeksi virus tersebut, maka ahli waris akan mendapatkan santunan JKK sebesar 48 kali upah yang dilaporkan.
Selain itu jika peserta meninggal dunia diluar kecelakaan kerja, ahli warisnya akan mendapatkan manfaat program JKM, berupa santunan Rp42 juta dan beasiswa maksimal sebesar Rp174 juta untuk dua orang anak.
Melalui perlindungan yang diberikan oleh BPJAMSOSTEK ini, Naufal mengharapkan para relawan dapat fokus memberikan pelayanan terbaiknya kepada pasien Covid-19, sehingga angka kesembuhan terus meningkat dan pandemi ini bisa segera berakhir. "Anda merawat pasien, kami melindungi anda, kita bersama selamatkan bangsa," tuturnya.
Kepala Cabang Surabaya Tanjung Perak, Galuh Santi Utari, mengakui bahwa kebijakan tersebut merupakan keputusan yang sangat mulia. Pihaknya menyambut baik himbauan dari management dan segera mengajak karyawan berperan aktif dalam mendonasikan sebagian gajinya untuk membantu menangani Covid-19 ini. Dengan pembagian kerja, sebagian karyawan Work Form Home (WFH) dan sebagian Work At Ofiice (WAO),
"Disinilah ujian tingkat kesabaran kita. Apabila kita sabar maka kita akan menang menghadapi pandemi Covid 19. Semoga kita semua diberikan kesehatan, kekuatan dan kemudahan serta dilindungi oleh Allah SWT untuk melewati semua ini. Semoga Pandemi Covid 19 ini segera berakhir, Aamiin YRA," ucapnya.
Sementara itu, Deputi Bidang Pencegahan BNPB, Lilik Kurniawan, mengapresiasi inisiatif BPJAMSOSTEK dalam merespon wabah Covid-19 di Indonesia. "Saya mengucapkan terima kasih atas kepedulian BPJAMSOSTEK kepada seluruh relawan yang berjuang sebagai garda terdepan dalam penanganan Covid-19. Meski mereka bekerja dengan sukarela, namun perlindungan diri tetap diutamakan," ungkap Lilik.
(eyt)
tulis komentar anda