Sulap Jagung Jadi Bubur, Es Krim, Nugget, dan Kerupuk

Selasa, 25 Agustus 2015 - 09:36 WIB
Sulap Jagung Jadi Bubur,...
Sulap Jagung Jadi Bubur, Es Krim, Nugget, dan Kerupuk
A A A
SURABAYA - Tiga mahasiswa Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya punya inovasi baru mengelola jagung sebagai pengganti konsumsi nasi. Jagung mereka sulap menjadi bubur, es krim, nugget, dan kerupuk.

Ketiga mahasiswa tersebut adalah Sulis Indriyawati dan Septi Andriana, program pendidikan D-3 Kebidanan, serta Adam Joko Santoso, program pendidikan D-3 Keperawatan. Rencananya karya yang juga diharapkan menambah kaya khasanah kuliner Tanah Air itu bakal diikutsertakan dalam kompetisi Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian pada Masyarakat di Kendari, Sulawesi Tenggara, bulan depan.

Ketiganya yang tergabung dalam Kader Mahabarata (Mahasiswa Bank dengan Tren Bantal Jagung) ini berharap inovasinya menyita perhatian juri yang berujung juara. ”Istilah Kader Mahabarata ini kami gunakan supaya mudah diingat karena cerita pewayangan Mahabarata yang ada di masyarakat. Selain itu, tiga orang ini berupaya menyejajarkan filosofi jagung dengan kelapa. Artinya, tidak ada yang dibuang,” tutur Sulis yang asli Surabaya.

Alumnus Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Farmasi Kapasan Surabaya ini juga menjelaskan, istilah bantal jagung yaitu kemasan kerupuk yang mirip bantal, berbahan kelobot alias pelepah jagung. Septi Andriana yang mendampingi Sulis menambahkan, inovasi mereka terinspirasi dari Kabupaten Lamongan sebagai produsen jagung lima terbesar di Indonesia.

Contohnya di Dusun Bakon, Desa Tlemang, Kecamatan Ngimbang, Lamongan, banyak dihasilkan jagung. ”Dalam setahun bisa panen tiga kali. Saat musim hujan maupun kemarau bisa ditanam dan harganya tetap murah,” ungkapnya. Sayangnya, keberadaan jagung di desa paling banter dibuat nasi jagung.

Lebih parah, dalam masyarakat terbangun asumsi bahwa yang makan nasi jagung hanya orang kere atau melarat. Kalaupun ada yang makan, paling pengidap penyakit gula. ”Selain menguntungkan dari sisi ekonomis di tengah mahalnya harga beras, makanan olahan ini bisa menangkal penyakit radikal bebas, salah satunya kanker. Ini karena kandungan antioksidan tinggi. Belum lagi melorotnya produktivitas beras dalam negeri sekarang ini,” ulas Adam Joko Santoso sambil menyiapkan proses pembuatan bubur jagung.

Hasil penelitian komparasi gizi dari tiap 100 gram jagung dengan beras tak luput dipaparkan ketiganya. Dari tiap 100 gram jagung mengandung energi 108 kkal, protein 3,3 gram, serat 2,8 gram, dan vitamin C 6 mg. Sedangkan, pada beras mengandung energi 130 kkal, protein 2,4 gram, serat 0,3 gram, dan vitamin C 0 mg.

Cara pembuatan produk berbahan jagung pun mereka bedah. Untuk es krim, tepung jagung, susu, dan gula dicampur. Gula tidak perlu banyak lantaran rasa manis sudah tercipta dari susu. Setelah semua tercampur menjadi adonan, lantas dididihkan, dituang, dan didinginkan. Tahap berikutnya dimasukkan ke frezzer . ”Kemudian, dikeluarkan lagi dan diblender supaya teksturnya lebih halus. Gelatin tidak digunakan karena kentalnya kami manfaatkan susu,” ulas Sulis yang berjilbab ini.

Kerupuk, bahannya tepung jagung berpadu tepung tapioka, garam, bawang putih, dan air. Adonan yang tercipta dikukus hingga padat. Setelah itu diiris tipis dan dijemur, kerupuk siap digoreng. Nugget, bahannya jagung muda dipipil, kemudian diserut dicampur ayam. Setelah digiling sebentar, dikukus dan diiris. Lantas dicelup putih telur dan dibalur tepung roti.

Harga ketiga produk beragam. Es krim Rp2.000/cup, bubur Rp3.000/mangkuk, kerupuk Rp7.000/bungkus, dan nugget Rp10.000/bungkus. ”Sebenarnya masyarakat bisa mengonsumsi makanan alternatif pengganti beras. Cuma pemerintah harus gencar sosialisasi. Jangan pada saat ada pameran saja,” kata Sulis.

Ketiganya berharap produknya ke depan bisa diproduksi massal. Bahkan, mereka siap berbagi resep pada produsen yang bersedia memproduksi dalam jumlah besar. Tanpa bahan pengawet tetap menjadi pakem ketiganya.

Rachmawati Ika, dosen Kebidanan UM Surabaya yang mendampingi tiga mahasiswa itu, mengaku bangga. ”Bubur jagung ini cocok menjadi makanan pendamping ASI (air susu ibu) bagi bayi usia 6 bulan ke atas. Baik juga untuk ibu hamil untuk mengurangi risiko bayi dengan diabetes,” sebut Ika. Rektor UM Surabaya, Sukadiono menilai upaya mahasiswanya bentuk kreativitas mulia.

”Yang mereka lakukan relevan bagi bangsa. Saat ini bangsa krisis beras dan tergantung impor. Mahasiswa ini beri alternatif pemanfaatan jagung. Kami akan mendorong pemerintah supaya menerapkan konversi beras ke jagung, seperti halnya minyak tanah ke elpiji,” pungkas Suko, sapaan Sukadiono.

SOEPRAYITNO
(ftr)
Berita Terkait
DPW PKS Jawa Timur Siap...
DPW PKS Jawa Timur Siap Sinergi dan Kolaborasi Bangun Jawa Timur
Inflasi Jawa Timur September...
Inflasi Jawa Timur September Tertinggi di Pulau Jawa
China Mendominasi Impor...
China Mendominasi Impor Jawa Timur
Hari Pertama PPKM, 792...
Hari Pertama PPKM, 792 Warga Jatim Positif COVID-19
Gubernur Khofifah dan...
Gubernur Khofifah dan Dubes Finlandia Jajaki Potensi Kerjasama Pendidikan dan Teknologi
BPH Migas bersama Anggota...
BPH Migas bersama Anggota Komisi VII DPR RI Gelar Sosialisasi
Berita Terkini
Stop Polemik, Prof Dede:...
Stop Polemik, Prof Dede: Pengelolaan Yayasan Diserahkan ke Pemerintah melalui UIN Jakarta
19 menit yang lalu
Hari Lingkungan Hidup...
Hari Lingkungan Hidup Sedunia, UMJ Tanam 3.650 Bibit Pohon di Ciputat
1 jam yang lalu
Diserahkan Polda Metro...
Diserahkan Polda Metro Jaya ke Kejati Banten, Richard Lee Segera Jalani Sidang
2 jam yang lalu
Pra SPMB 2026 Dibuka,...
Pra SPMB 2026 Dibuka, Pemkot Tangsel Siapkan 9.976 Kuota untuk SMP Negeri
2 jam yang lalu
Kolaborasi Kemanusiaan,...
Kolaborasi Kemanusiaan, Polda Riau Bantu 310 Warga Ikut Operasi Katarak Gratis
2 jam yang lalu
Perkuat Literasi Keuangan...
Perkuat Literasi Keuangan untuk Guru dan Tenaga Pendidik, MNC Sekuritas Gelar Edukasi Pasar Modal di SMAN 46 Jakarta
3 jam yang lalu
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved