Ini Penyebab Masih Tingginya Kasus Penularan Covid-19 di Sulsel
Kamis, 09 Juli 2020 - 20:33 WIB
loading...
A
A
A
Pada waktu yang bersamaan kata dia, penularan lokal sementara berlangsung secara cepat. Baik penularan secara langsung maupun secara tidak langsung.
"Bahkan kajian terakhir penularan COVID-19 disebut bisa terjadi melalui udara, seperti halnya asap yang menyebar kemana-mana," sebut dia.
Selain itu, peningkatan kasus positif COVID-19 juga diikuti karena pencarian atau tracking kasus secara cepat, memberikan kecepatan dalam pengumpulan specimen dan aggressive testing. Kegiatan tracking berlangsung pada level puskesmas untuk melacak OTG, kontak erat dan populasi berisiko di wilayak kerja masing masing.
"Mencermati hasil tracking hingga aggressive testing dengan positif rate sekira 14%, maka dengan dukungan laboratorium yang mampu melakukan pengujian sekitar 1.000 spesimen perhari, secara otomatis kasus harian terlaporkan juga berkisar 140 kasus perhari. Jadi perlu respons yang lebih rasional," papar Ridwan.
Ketua Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) Sulawesi Selatan ini menambahkan, aspek lain yang sangat penting sebagai penyebab fluktuasi ini adalah kecepatan transmisi lokal dari COVID-19. Yang secara linear dengan pelonggaran bisnis dan pergerakan populasi tanpa mengikuti protokol kesehatan secara ketat.
"Bahkan kajian terakhir penularan COVID-19 disebut bisa terjadi melalui udara, seperti halnya asap yang menyebar kemana-mana," sebut dia.
Selain itu, peningkatan kasus positif COVID-19 juga diikuti karena pencarian atau tracking kasus secara cepat, memberikan kecepatan dalam pengumpulan specimen dan aggressive testing. Kegiatan tracking berlangsung pada level puskesmas untuk melacak OTG, kontak erat dan populasi berisiko di wilayak kerja masing masing.
"Mencermati hasil tracking hingga aggressive testing dengan positif rate sekira 14%, maka dengan dukungan laboratorium yang mampu melakukan pengujian sekitar 1.000 spesimen perhari, secara otomatis kasus harian terlaporkan juga berkisar 140 kasus perhari. Jadi perlu respons yang lebih rasional," papar Ridwan.
Ketua Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) Sulawesi Selatan ini menambahkan, aspek lain yang sangat penting sebagai penyebab fluktuasi ini adalah kecepatan transmisi lokal dari COVID-19. Yang secara linear dengan pelonggaran bisnis dan pergerakan populasi tanpa mengikuti protokol kesehatan secara ketat.
Lihat Juga :