Sastra dan Lingkungan Selalu Mengintai di Masa Pandemi

Rabu, 01 Juli 2020 - 06:31 WIB
loading...
Sastra dan Lingkungan...
Prodi Sastra Inggris Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, mengelar webinar bertajuk Lingkungan, Prosa, dan Puisi. Foto/SINDOnews/Aan Haryono
A A A
SURABAYA - Persoalan lingkungan merupakan wacana yang tidak akan pernah selesai dibahas. Topik tentang eksplorasi dan perubahan kondisi lingkungan kerap menjadi pokok pembicaraan yang konsisten dibahas. Termasuk kondisi dunia sekarang yang sedang mengalami pandemi COVID-19.

(Baca juga: OTG Sumbang Kesembuhan Terbanyak, 2.314 Pasien Sembuh COVID-19 )

Semua orang kembali memikirkan kembali bagaimana harus beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang baru. Perubahan-perubahan yang terjadi pada lingkungan memang seringkali berdampak pada sektor lain seperti ekonomi, politik, sosial, budaya, bahkan sastra. Sastra sebagai sebuah respons ide kreatif estetik selalu berkaitan erat dengan lingkungan, termasuk di masa pandemi saat ini.

Prodi Sastra Inggris Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya mengelar webinar bertajuk Lingkungan, Prosa, dan Puisi yang melihat persoalan lingkungan masih menjadi bahan utama dalam kajian dan produk sastra, Selasa (30/6/2020).

Penyair F. Aziz Manna menuturkan, lingkungan selama ini dengan perubahannya, dalam sastra menjadi salah satu tema yang dikerap digarap oleh penulis. Dalam menghadapi perubahan lingkungan tersebut diperlukan pengendapan agar terhindar dari karya sastra yang instan.

(Baca juga: Pengedar Ganja Jaringan Lapas Dibongkar Polda Maluku Utara )

Perubahan kondisi dunia karena COVID-19 direspons oleh penulis untuk menghasilkan karya sastra, mulai dari penerbitan antologi baik bersama maupun individu, sayembara, maupun diskusi. "Persoalan-persoalan sastra hanya menjadi semacam kenyinyiran saja karena dipaksakan pada persoalan-persoalan yang sedang terjadi seperti COVID-19. Sastra membutuhkan pengendapan," kata Penyair Pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa tersebut.

Novelis Ramayda Akmal juga menyampaikan, dalam kondisi sedih dan kesulitan saat ini justru menjadi sumber kreativitas. "Menulis adalah kerja soliter, artinya kondisi ini justru menjadi situasi yanng tepat. Namun, tentu saja latihan itu penting," kata kandidat doktor dari Hamburg University tersebut.

Ramayda juga menjelaskan bahwa tema lingkungan dalam karya sastra merupakan tema yang telah lama muncul dalam karya sastra Indonesia. Dalam ranah kritik dan penelitian, lingkungan juga menjadi wacana tidak habis untuk dieksploarasi, misalnya tentang pertentangan antara kebijakan negara dengan kebijakan masyarakat dan hubungan antara rural dan urban yang selalu muncul secara konsisten di sastra Indoensia.

"Karya sastra juga bisa tampil sebagai ramalan-ramalan tentang masa depan. Misalkan tentang wabah Corona ini, Albert Camus pernah menciptakan karya sastra berjudul 'Sampar', yaitu wabah yang menyerang umat manusia," jelas penulis novel Jatisaba itu.

(Baca juga: Curhat Anak Yatim Piatu di Medan Viral, Rumahnya Dirusak Bandar Sabu )

Visiting Scholar di Untag Surabaya, John Charles Ryan menyampikan, karya sastra seringkali merupakan refleksi penulis terhadap kondisi lingkungan yang dihadapinya. Salah satu contoh adalah kebakaran hutan di Australia, hilangnya fungsi lingkungan bagi hewan-hewan, menjadi inspirasi bagi penulis.

"Memahami tradisi penggunaan tanaman atau tumbuh-tumbuhan dalam karya sastra memerlukan kajian teori yang luas, gaya yang bervariasi, dan latihan yang cukup sehingga menemukan kemungkinan penggunaan bahasa baru. Banyak puisi, khususnya sepuluh tahun terakhir, memandang tanaman secara lebih luas, dari sekedar objek yang indah atau benda yang dieksploitasi," jelasnya.
(eyt)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Perpustakaan Jakarta...
Perpustakaan Jakarta Gelar Pameran Ruang Sastra Bicara
Pergolakan di Masa Singasari...
Pergolakan di Masa Singasari hingga Awal Majapahit Buat Tak Ada Karya Sastra Dilahirkan
Usung Tema Siyaga, Festival...
Usung Tema Siyaga, Festival Sastra Yogyakarta 2024 Ajak Penikmat Hadapi Dinamika Perubahan
Kekosongan Karya Sastra...
Kekosongan Karya Sastra di Masa Peralihan Singasari dan Majapahit Akibat Gejolak Keamanan
Kisah Prabu Jayabaya...
Kisah Prabu Jayabaya Jadikan Kediri Kiblat Kemajuan Kesusastraan Nusantara
Mengenal Tantu Panggelaran...
Mengenal Tantu Panggelaran Kitab Peninggalan Majapahit yang Ceritakan Kehidupan Beragama dan Bernegara
Meja Keabadian, Potret...
Meja Keabadian, Potret Indonesia dalam Kacamata Penyair Perempuan Korea
MaxNovel Award 2025,...
MaxNovel Award 2025, Kemenbud: Sastra adalah Ingatan Kolektif Bangsa
Okky Madasari Berbagi...
Okky Madasari Berbagi Kisah Inspiratif di Gelar Wicara Kalpasastra 2025
Rekomendasi
Di Sidang Paripurna,...
Di Sidang Paripurna, Ketua Komisi III Puji Listyo Sigit Prabowo Salah Satu Kapolri Terbaik
Meritokrasi di TNI,...
Meritokrasi di TNI, Kapuspen: Jabatan Tak Ditentukan seperti Urut Kacang Tapi Kompetensi
3 Puasa Sunnah Muharram...
3 Puasa Sunnah Muharram yang Pahala Tidak Main-main!
Berita Terkini
DPD KAI Jawa Barat Torehkan...
DPD KAI Jawa Barat Torehkan Prestasi Nasional di Rakernas KAI 2026
Haji Ghoni Kembali Dipercaya...
Haji Ghoni Kembali Dipercaya Pimpin Forkabi
Dudung Sidak Pasar Induk...
Dudung Sidak Pasar Induk Kramat Jati, Ini Hasilnya
Bobby Nasution Dukung...
Bobby Nasution Dukung Kongres HMI ke-33 Digelar di Sumatera Utara
Aksi Pelemparan ke KRL...
Aksi Pelemparan ke KRL Masih Terjadi, KAI Commuter Ingatkan Pelaku Bisa Dipenjara 15 Tahun
Gunung Merapi Luncurkan...
Gunung Merapi Luncurkan Awan Panas Guguran Sejauh 2.000 Meter
Infografis
10 Universitas Paling...
10 Universitas Paling Diminati di SNBT 2026, UI Paling Favorit
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved